TRI JADI GURU
Suatu hari tahun 1959 dua orang gadis remaja dengan baju rok sederhana dan rambut kepang kuda menaiki kereta api dengan tujuan stasiun Kebumen. Mereka baru saja lulus dari Sekolah Guru Bawah khusus putri di Salatiga, dan mendapatkan penempatan di SD. Sruweng. Bekal uang tak cukup, belum pernah naik kereta api, belum pernah pergi jauh, asal nekad dua belia berumur 17 tahun itu berangkat saja dengan penuh ketakjuban. Seorang bapak tengah baya yang duduk berhadapan dengan mereka mengamati dua gadis kecil itu dari tadi. “Kalian ingin pergi kemana Nak?” tanya orang itu. “Kebumen, kantor pendidikan Pak,” jawab mereka. Matahari telah jauh menggelincir ke Barat. “Nanti sampai Kebumen menjelang malam. Tentu kalian baru bisa ke kantor pendidikan esok hari. Kalian akan menginap di mana?” Dua kepang kuda itu saling memandang, bingung, dan mulai menyadari sesuatu yang tak mereka pikirkan sebelumnya. Dengan air muka lugu yang mulai diusap segala macam kekhawatiran mereka serempak menggeleng, bingung...