REVOLUSI SOSIAL DALAM REVOLUSI KEMERDEKAAN : Sejarah perjuangan orang-orang biasa
Dia anak pedagang emas dan pandai mencukur. Sambil membuka usaha tukang emas kecil-kecilan, di depannya dia buka praktek pangkas rambut, dan sebilah pedang panjang terpajang di sebelah kaca cermin - demi melihat dekorasi interior kios pangkas rambut yang seperti itu, tentu saja para tukang cukur lain di sekitar situ pun angkat kaki. Karena sewaktu kecil mukanya berbintil-bintil, si tukang cukur berpedang panjang ini dipanggil Kutil. Demikianlah, sebuah kepingan penulisan sejarah yang tidak berorientasi pada Alexander Agung dan tokoh-tokoh besar semacamnya.
Tiap
raja-ratu akan membikin sejarah pakem yang melayani kepentingan kuasa
ekonomi-politiknya, seperti Negara Kertagama dan Babad Tanah Jawa. Begitu juga
dengan negara-negara modern; setiap pemerintahan - rejim akan melakukan hal
yang sama. Seberapa seragam sejarah itu tergantung tingkat kontestasi berbagai
(kelompok) kepentingan di dalam kekuasaan itu. Semakin kuat dan solid suatu
kekuasaan, semakin pakem pula sejarahnya, serta makin bertahan dari generasi ke
generasi, dan sebaliknya.
Orde Baru
adalah sebuah kekuasaan yang sangat kuat dan solid, yang mampu menyeragamkan
hampir segala aspek hidup berbangsa-bernegara di Indonesia - setidaknya dalam
tataran formal. Selain hal-hal struktural material seperti birokrasi,
organisasi, aspek lainnya yang barangkali paling esensial adalah penyeragaman
pikiran dan ingatan untuk menghasilkan ketundukan. Pikiran lewat ideologisasi
Orde Baru, ingatan lewat penulisan sejarah versi Orde Baru.
Memang
sejak reformasi, ketunggalan ini sudah relatif terberai, namun karena pada
dasarnya kepentingan ekonomi - politik dari kelompok-kelompok kekuasaan baru
yang muncul adalah sama saja dengan kepentingan Orde Baru, maka mereka tetap
menggunakan ideologi Orde Baru, sejarah versi Orde Baru.
Dijaman
Orde Baru Suharto sangat sulit untuk menemukan bahan-bahan ideologi dan sejarah
alternatif. Di jaman reformasi sudah jauh lebih banyak, apalagi dengan adanya
internet. Namun untuk punya dorongan mengeksplorasi alternatif-alternatif ini,
kita harus memecahkan dulu batok kepala kita yang sudah lumayan tercetak secara
Orde Baru, baru kemudian kita membongkar tempurung katak kita, untuk melihat,
mengerti dan mengalami hal-hal lain yang luar biasa mencengangkan, yaitu
hal-hal di luar pakem. Pada awalnya kita harus punya benih kenakalan tertentu,
tidak mau hanya baik-baik saja, ‘normal-normal saja’ … Punya kepenasaranan dan
ingin mempertanyakan.
Bicara
periode mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia misalnya, atau juga
disebut dengan perang kemerdekaan, revolusi fisik, revolusi kemerdekaan. Dulu aku
hanya tahu / diajari tentang kronologi dari menjelang kekalahan Jepang sampai
pengakuan kedaulatan. Mulai dari Sukarno terbang ke Vietnam untuk bertemu Panglima Tertinggi angkatan perang Jepang di Asia Tenggara,
Marsekal Hisaichi Terauchi, BPUPKI, sampai Konferensi Meja Bundar di Den
Haag. Yang paling ramai tentu bagian perang, dan yang paling membosankan tentu
adalah segala rapat-perundingan itu.
Pertempuran
Surabaya, pertempuran Ambarawa, Bandung Lautan Api, Medan Area, Puputan
Margarana, Agresi Militer, Renville, Linggarjati … Tapi aku tidak tahu akan
dimensi gejolak sosial dimasa-masa itu. Gejolak yang karena sifat-sifatnya bisa
disebut sebagai revolusi; revolusi sosial. Tapi di sekolah apa pernah kita
mendengar atau membaca atau diajari mengenai revolusi sosial ini?
Bara api
’45 tak hanya tentang para pemimpin mengumumkan kemerdekaan sebuah bangsa dari
penjajahan dan meresmikan berdirinya sebuah republik. Dan sekutu datang, dan
Belanda datang mau menjajah lagi, dan perang, dan sudah. Ini juga tentang bara
di dalam hati jutaan rakyat yang sekian lama tak menjadi manusia dan komunitas
yang berdaulat. Yang menjadi warga kelas 3 di jaman Hindia Belanda (Kelas 1
adalah orang Eropa, kelas 2 adalah non Eropa non Pribumi).
Mereka tak
bertanah, kelaparan, mengalami diskriminasi, diperjongoskan dan di sekitar
mereka orang kelas satu, kelas dua dan pribumi priyayi-aristokrasi, pribumi
berhak istimewa hidup enak, justru oleh kesengsaraan rakyat banyak ini.
Dikulminasi dengan penjajahan Jepang yang benar-benar memeras apa yang sudah
jadi ampas, dan kedatangan lagi Belanda yang mau menjajah lagi yang juga
disambut oleh tak sedikit dari mereka orang-orang kelas 1, 2 dan pribumi berhak
istimewa ini (para ‘pengkhianat Republik’), maka kemarahan pun memuncak.
Bara
revolusioner rakyat jelata yang asli (jenuin) ini, berpadu dengan bara
revolusioner ideologis dari pejuang-pejuang politik sayap kiri menjadi
sekaligus ledakan amuk dan gerakan penjungkir-balikan tatanan. Orang-orang
Eropa dan indo yang ada dalam kamp-kamp dan yang hidup bebas, orang-orang kelas
2, para pengkhianat, semua harus ditumpas dan kuasanya digulingkan. Itulah
revolusi sosial; kelas bawah bangkit mendongkel dan menghumbalangkan
kelas-kelas di atasnya, penjajah-penindas-penghisapnya.
Dalam
kecamuk kekerasan massal seperti ini, para jagoan lokal yang tak hanya kuat dan
berani, namun juga mampu memimpin, muncul dan mengemuka, salah satunya adalah
Syachjani. Orang kecamatan Talang, kerempeng, tinggi dan memiliki raut muka
enigmatik ini menjadi tokoh gerakan rakyat anti NICA (aparat pemerintahan
Belanda ketika mereka datang lagi) dan anti pengkhianat Republik yang paling
top dalam pergolakan di karesidenan Pekalongan (biasa disebut Peristiwa Tiga
Daerah). Dia berjuluk Kutil.
Di bawah
kepemimpinan Kutil, di Talang agen-agen NICA diburu, anggota polisi Republik
dibunuh, menyusul kemudian Camat Adiwerna, pejabat-pejabat korup ditangkap,
rumah-rumah orang Eropa dan pribumi pegawai pabrik gula dihancurkan, rumah
pedagang-pedagang kaya diduduki, tanah bengkok diambil alih. Distribusi barang
ekonomi dilakukan dengan azas sama rata sama rasa. Dikisahkan bahwa Kutil telah
memerintahkan pembunuhan banyak orang, dan juga berkali-kali membunuh dengan
tangannya sendiri. Singkat cerita, akhirnya kesatuan-kesatuan TNI berhasil
memadamkan pergolakan. Kutil menjadi anak bangsa pertama dalam sejarah Republik
yang dijatuhi hukuman mati oleh pemerintahan bangsanya sendiri.
Tentu saja
Kutil merepresentasikan, juga simbol dari sesuatu yang sangat kompleks, tetapi
sejarah Orde Baru Suharto yang anti gerakan rakyat, anti revolusi sosial
mendefinisikan Kutil secara hitam putih sebagai Si Buas Kejam tak berperi
kemanusiaan algojonya kaum komunis – PKI, dan mendefinisikan Peristiwa Tiga
Daerah sebagai pemberontakan melawan Republik yang digerakkan oleh kaum
komunis.
Tanpa
mengeksplorasi penulisan sejarah ‘alternatif’, kita tak hanya tak akan bisa
keluar dari tempurung katak kita, tapi juga tak bisa memecah batok kepala kita
sendiri yang dicetak oleh ideologi dan sejarah (versi) Orde Baru, dan
membebaskan pikiran kita.
Bahan :
dari berbagai sumber.
Poto :
Kutil bersama para pemimpin Peristiwa Tiga Daerah.

Comments