TRI JADI GURU

Suatu hari tahun 1959 dua orang gadis remaja dengan baju rok sederhana dan rambut kepang kuda menaiki kereta api dengan tujuan stasiun Kebumen. Mereka baru saja lulus dari Sekolah Guru Bawah khusus putri di Salatiga, dan mendapatkan penempatan di SD. Sruweng. Bekal uang tak cukup, belum pernah naik kereta api, belum pernah pergi jauh, asal nekad dua belia berumur 17 tahun itu berangkat saja dengan penuh ketakjuban. Seorang bapak tengah baya yang duduk berhadapan dengan mereka mengamati dua gadis kecil itu dari tadi. “Kalian ingin pergi kemana Nak?” tanya orang itu. “Kebumen, kantor pendidikan Pak,” jawab mereka.

Matahari telah jauh menggelincir ke Barat. “Nanti sampai Kebumen menjelang malam. Tentu kalian baru bisa ke kantor pendidikan esok hari. Kalian akan menginap di mana?” Dua kepang kuda itu saling memandang, bingung, dan mulai menyadari sesuatu yang tak mereka pikirkan sebelumnya. Dengan air muka lugu yang mulai diusap segala macam kekhawatiran mereka serempak menggeleng, bingung. “Begini saja. Nanti biar kalian menginap di rumah famili Bapak, dekat stasiun. Nanti Bapak antar, jadi tak perlu khawatir.” kata orang itu dengan penuh kebapakan.

Kereta tiba juga. Orang itu memanggil dua becak, satu untuk dua kepang kuda muda, satu untuknya sendiri. Becak meninggalkan stasiun, meluncur pelan menuju rumah famili orang itu. Setibanya, mereka disambut dengan sangat ramah. Orang itu membayar dua becak itu, menitipkan dua anak yang baru dikenalnya pada yang empunya rumah, dan pergi. Kamar disiapkan. Setelah mandi dan berganti pakaian, makan malam telah disiapkan. “Jadi kalian mau jadi guru ya? Hebat! Sekarang kalian istirahat dulu. Besok pagi kalian harus pergi ke kantor pendidikan.”

Paginya, ternyata tuan rumah telah memanggilkan becak untuk mereka, menjelaskan pada tukang becak tujuannya dan membayar ongkos. “Hati-hati ya Nak! Selamat bekerja. Sampai bertemu lagi!” Begitulah, dua guru muda itu menemui kepala kantor pendidikan dan menyerahkan surat pengangkatan dan penempatan mereka. Hari itu juga mereka mendapatkan ganti atas ongkos perjalanan yang mereka keluarkan, dan resmi menjadi guru dengan gaji 290 rupiah (harga emas 30.000 rupiah per gram). Salah satu dari dua kepang kuda muda itu adalah Sri Sulastri; Ibuku; guru kalian semua.

Itu tahun-tahun panas membara dan penuh kesusahan hidup. Sekitar tahun 1957 Partai Sosialis Indonesia, Majelis Syura Muslimin Indonesia, perwira-perwira Angkatan Darat anti komunis berkolaborasi dengan dukungan CIA, melancarakan pemberontakan PERMESTA (Perjuangan Rakyat Semesta), yang disusul dengan pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) setahun berikutnya. Walaupun pemberontakan yang selain disokong oleh seperti biasa ‘The Three Musketeers’ Amerika Serikat – Inggris - Australia, juga oleh Taiwan, Jepang dan Filipina ini pada tahun 1958 mulai bisa dipadamkan, namun situasi politik yang masih tak menentu ditambah dengan operasi destabilisasi ekonomi oleh CIA – pemberontak, membuat kehidupan jadi sangat susah.

Awalnya, dengan berbagai jalan Sri Sulastri bisa bertahan hidup. Kos kali kedua dia beruntung. Bersama dua teman guru, dia tinggal di rumah pasangan mantri kesehatan dan bidan yang merupakan salah satu orang tua murid di SD. Sruweng 1 tempatnya mengajar. Mereka sangat baik hati. Tak hanya mendapat kamar cuma-cuma, Lastri juga rutin diberi aneka makanan. Beberapa waktu kemudian, dua temannya keluar dari kos, yang satu karena menikah, satunya dipindahtugaskan karena berpacaran dengan kepala sekolah yang sudah beristri dan dilaporkan teman-temannya. Tak mau sendiri, Sulastri menerima ajakan temannya untuk tinggal di rumahnya.

Situasi ekonomi terus-menerus bertambah berat. Gaji Mbak Guru Lastri sudah naik menjadi 378 rupiah, namun biaya untuk kos saja sudah meroket hingga 700 rupiah. Pemerintah sampai menghimbau pada para lurah untuk memberikan dukungan pemenuhan kebutuhan hidup pada guru-guru di wilayahnya. Kiriman uang bulanan dari orang tua di Tegalwaton juga sangat membantu Lastri untuk bertahan. Di saat seperti ini, Tri dan Wagimun sudah berteman, baik sebagai sesama guru maupun sebagai perempuan dan lelaki muda.

Suatu akhir pekan yang ngungun Wagimun – rekan gurunya – mengajaknya jajan dawet di pojok Pasar Sruweng. Sambil menyruput air santan gula kelapa lelaki muda dari Kulonprogo itu berbisik, “I love you Tri …” Gadis Tegalwaton itu bukanlah perempuan yang ekspresif. Sebenarnya dia ingin merekahkan senyum lebar dan membinar-binarkan matanya ‘I love you jugak! I love you jugak!’, tapi dia perempuan desa Jawa yang terbiasa memendam perasaan, maka Tri hanya mengangguk sambil mengoreti mangkuk dawet yang sudah tandas.

Kita semua tahu, asmara boleh menggelegak, tapi alat tukar untuk mendapat beras, sandal, bedak juga minyak rambut adalah uang, bukan daun waru berwarna jambon. Wagimun sudah melakukan kerja sampingan. Dia memberikan les matematika, berjualan jamu, bahkan menjadi juru buku usaha pertanian Lurah San Pawira. Tetapi kehidupan masih sangat berat, dan tentu pasangan Tri dan Mun ingin segera menikah.

Disaat krisis ekonomi seperti ini, pemerintah mengeluarkan sebuah kebijaksanaan yang merubah jalan hidup Tri dan Mun. Menimbang susahnya kehidupan masyarakat umumnya dan para guru khususnya, di mana pemerintah sedang dalam keadaan tidak cukup mampu menyokong, maka para guru rantau diperbolehkan untuk mengajukan pindah tugas ke sekolah di daerah asal masing-masing. Dengan kebijakan ini harapannya sejumlah besar guru akan bisa bertahan dengan dukungan keluarga besarnya masing-masing. Maka sepakatlah Sri Sulastri dan Wagimun untuk pindah ke desa kelahiran Tri di Tegalwaton, kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Tri akan berangkat duluan.

Pada tahun 1963 Tri mengajukan permohonan pindah ke kantor pendidikan kabupaten Kebumen, dan dikabulkan hari itu juga. Sampai tahun 1966 Tri menjadi guru di SD. Tegalwaton; sekolahnya ketika dia masih anak-anak di jaman penjajahan Jepang dulu, kemudian dipindah di SD. mBarukan yang tak jauh dari Tegalwaton.

Aku ingat SD. mBarukan, karena sering diajak Sri Sulastri – ibuku - mengajar. Itu tahun 1970an. Umurku sekitar 1 tahun. Bangunan SD dari kayu, berdinding bambu dengan lobang di sana-sini. Lantainya tanah keras berdebu. Semua murid tak bersepatu, tapi berbudi pekerti. Dan suatu kali ada pelajaran memasak. Itu kali pertama aku mengenal kue dadar gulung, karena ditawari oleh salah satu kakak; murid perempuan yang menurutku paling manis sedunia. Sayang kulupa namanya.

Desember 2025, Sri Sulastri meninggalkan dunia. Gerimis renai mengiringi pemberangkatan jenasah beliau ke tanah kelahiran Wagimun di Kulonprogo. Banyak dari pelayat adalah mantan rekan gurunya, lebih banyak lagi muridnya. Mari kita merenung; dari tahun 1959 sampai 2000, berapa total murid Sulastri?

Foto : Sri Sulastri (berdiri nomer dua dari kiri) bersama rekan guru dan para murid SD. mBarukan, 1970an

DidotKlasta
Salatiga, 2021 diperbarui 2025

Comments

Popular posts from this blog

JAMAN SEKARANG

MINGGAT

Dari Roebinem, Lewat Salatiga, ke Van Halen