Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

KEAJAIBAN DUNIA BERNAMA MINUMAN KERAS

Gambar
Boleh dikata hanya ada dua liburan sekolah masa kecilku yang paling mengesankan dibanding total semua liburan sekolahku mulai dari SD sampai SMA. Pertama adalah liburan kenaikan kelas dari kelas 2 naik ke kelas 3 SMP (Negeri 1 Salatiga, boleh dikata secara umum merupakan pangkalannya anak-anak paling pandai di kota ini). Mengesankan sebab pada liburan inilah untuk pertama kalinya aku tersayat sembilu cinta monyet yang meraja tak berkesudahan pada seorang dara T dari kota S 50an kilo dari kota kecilku tercinta Salatiga. Ceritanya dia berlibur ke rumah tantenya, Y - istri seorang pelaut jarang pulang, persis di belakang rumahku. Kita semua pasti tak asinglah dengan proses kimiawinya … Sekian kali berpapasan, bertemu pandang, caranya menyuapi keponakannya yang menarik hati, bando dan blues merah berenda putih yang tak lekang waktu, langkah kaki ‘putri solo’nya yang serasa tak menyentuh tanah, pesona anggukan halusnya padaku saat melintas samping rumah sementara aku lagi asyik bermain ser...

ALI, HIKAYAT 'PREMAN' YANG MASUK SORGA

Gambar
Mungkin karena makin merasa tua, kesepian dan hidup hampa tiada arti, bersama sejumlah teman mahasiswa sebuah universitas di Salatiga aku menginisiasi kegiatan belajar luar sekolah bagi anak-anak rakyat jelata di sekitar kampungku Jagalan, itu awal 2000an. Inisiatif ini disambut sangat antusias oleh anak-anak dan orang tua mereka. Sebab gratisan? Menyimpulkan ‘gratisan’ sebagai kunci animo rakyat adalah penyederhanaan ceroboh dan menghina. Beberapa orang tua bahkan menemuiku untuk menanyakan tentang uang yang bisa mereka kontribusikan dengan alasan kegiatan seperti ini tentu perlu biaya. Mungkin saja keinginan untuk bisa mengakses sebuah media belajar yang ‘dekat’ dengan kehidupan mereka, bahkan bagian organik dari keseharian mereka, adalah dorongan yang bisa jadi lebih utama. Mungkin ini sekedar bukti tentang menariknya ‘belajar’ dan tidak menariknya ‘sekolah’, serta fakta kurangnya media belajar luar sekolah yang terjangkau. ‘Terjangkau’ dalam segala pengertiannya. Bagai jamur-ja...

AKU DAN PEMILU

Gambar
Dari mulut gang ke Asrama yang diapit oleh pagar tembok tua gedung SKP (Sekolah Ketrampilan Putri) dan warung rujak – lotek Bu K, aku melihat T nampak gagah penuh energi dengan jaket hijau doreng kuning hitam dalam derap langkah barisan simpatisan PPP dari arah kolam renang Kalitaman naik menuju Jalan Pemuda sambil menyanyikan lagu Pring Reketeg Gunung Gamping Gempal, sementara di lapangan bola Tamansari berseberangan dengan bundaran tugu jam seorang tentara muda mengisi magasin senapan otomatisnya di dekat pohon kamboja. Demikian dua kelebatan memori samar tentang pemilu masa kecilku di kota kecilku Salatiga. T waktu itu sudah menjadi remaja setengah pemuda. Si hitam wajah jawa anak dari keluarga miskin di kampung Krajan, bapaknya penarik becak, kakak tertuanya penarik becak, kakaknya yang nomer dua penarik becak, dia sendiri sebelum menjadi pelatih tenis top adalah penjaga bola, namun aku lupa apakah sebelum jadi penjaga bola dia juga menarik becak. Aku mengenal T sebab dia melat...

BOB DYLAN, DR. KING, GANDHI, YESUS HINGGA JUTAAN TAK BERNAMA

Gambar
They Killed Them adalah karya seri ketiga dari Project 65, yaitu projek seni saya tentang pembasmian kaum komunis dan penghancuran gerakan politik kerakyatan Indonesia di tahun 1965. Sebagian orang yang prihatin menyebut peristiwa ini Tragedi 65. Sebagian yang lain meyakini bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi itu adalah konsekuensi dari kewajiban suci membela tuhan dari ancaman kaum ateis penuh dosa. Sebagian yang lain lagi dengan bangga mengesahkan cerita tentang tindakan patriotik demi keselamatan dan kejayaan Negara. Sebagian besar orang termasuk masyarakat internasional menganggap bahwa aib kemanusiaan ini tak pernah terjadi. Dan segelintir elit politik ekonomi global menyatakan dengan antusias, “Perubahan kecil ini menguntungkan kita”. Kotak Wasiat adalah karya seri pertama saya yang membidik aspek sejarah dari Tragedi 65. Sejarah adalah cermin kolektif untuk melihat diri kita sebagai bangsa. Ketika satu cermin sangat vital (sebab peristiwa ini merubah total drastis fundamen...