Monday, 2 April 2018

MUSTAJAB CINTA (cerpen)

DidotKlasta, Supression 17, 2007
Sewaktu berjalan pulang entah menuju kemana setelah sejak sore berkeliaran entah kemana, Teror menemui kenaasan. Ia ditodong! Dan berlipat lagi naasnya itu sebab Teror, seperti biasa, hanya punya sedikit sekali uang - lebih naas dibanding hartawan culas yang dirampok habis-habisan, sebab pastilah segera hartanya akan menumpuk lagi karena keculasannya.
“Uang! Mana uangmu?!”
“Ak … Aku tak punya uang ...”
“Bohong! Uang! Uaaang!!!”
Teror geragapan merogoh saku celana depan dan dengan tertahan-tahan ragu mengeluarkan tiga lembar ribuan lecek yang segera diulungkannya.
“Sss … Sungguh ... Cuma ini saja ...”
“Bangsat! Apa tuh?! Enggak percaya! Kamu menghina ya?! Kau kira aku rampok teri kelas ribuan ya?!”
“Sungguh ... Aku ini cuma seniman pengangguran tak punya apa-apa ... Lihatlah, jam tangan tak punya ... Gelang? Kalung? Cincin? Sepatu jelek saja tak punya ...”
Sambil berkata demikian itu Teror mengangkat kaki kanannya yang bersandal jepit dan langsung disepak penodongnya yang memakai sepatu lars.
“Bangsat! Dompet! Serahkan dompetmu!”
“Tapi cuma dompet kosong, buat apa ...?”
“Banyak mulut kamu!”