Posts

MERDIKOMU KUWI ...

Image
Kita Harus Melawan Amerika Serikat Penjajah Dan Gerombolannya, Didot Klasta 90an Iki wulan Agustus Merdeka mBah ! Merdeka Pak ! Merdeka Yu ! Merdeka Oom ! Merdeka nDhuk ! Merdeka Bung ! Sesasi nganti lambe juweh Upacara, gapuro, umbul-umbul, kerjabakti, panggung pitulasan, lomba-lomba, karnaval pembangunan Sesasi nganti kaya kurang gawean Merdeka Coi ! Podho-podho Crot ! Piye kabare Coi ? Podho wae Crot Entek-entekan wulan Agustus Mongso ketiga srengenge kencar-kencar Hawa padhet ribet nglangut sumpeg Angin bingung ngetan-ngulon tanpa tujuan Ana luwak nyander kuthuk Bocah cilik dolanan gangsingan sepi Sega panas klubanan tempe koro Opo sing kurang ? Kok dirasak-rasakake cemplang Mul Becak ngalamun ngisor wit waru

ORANG LUAR KOTA

Musim hujan, bulan ini, derai-derai air gencar. Ini kota tua kecil di kaki gunung misterius yang telah mati beribu tahun lalu dan terkadang orang mempercakapkannya jika tiba-tiba si misterius itu aktif lagi; Pompei kedua. Mendung selalu menggantung dari pagi hingga pagi lagi. Matahari tak pernah nampak dengan gairahnya yang membara, panasnya tak terasa. Hawa dingin membikin kulit tubuh seperti berkerut, mengkisut. Tanpa kerja apa-apa sekalipun, pastilah sebongkah kalori dari tiga piring nasi pun lekas habis untuk metabolisme penghangatan dalam. Dan aku adalah pengangguran. Dan apa hubungannya? Tentu saja ada. Ini kota berjuluk kota pensiunan. Orang-orang uzur dimana-mana, sanatorium bergaya tahun 20an – banyak yang bilang angker sebab arwah-arwah gentayangan dari mereka yang binasa dirajam TBC, produksi tradisional nyaris tak pernah berubah, surat kabar nyaris tak laku, tembok-tembok tua penuh lumut dan seakan bergoyang jika angin menghempas, percakapan cina-cina tua duduk-duduk di se

ANTARA DONO, DINI, CINTA DAN WAKTU

Image
Unfinished, 90s Kehidupan kawanku … Dari yang dulunya; jabang bayi merah begitu lemah, jadilah kanak-kanak mungil menggemaskan, lalu membesar-meremaja menjanjikan, terus tumbuh, makin besar makin dewasa …Orang dewasa telah kemana-mana. Ada yang mengatakan; itu hanyalah mencari-cari jalan untuk kembali. Doni, demikian namanya. Adalah seorang mahasiswa yang akhirnya hampir merampungkan kuliahnya setelah sekian lama tak rampung-rampung dan setelah meski susah, berhasil juga meruntuhkan keyakinannya sendiri bahwa gelar sarjana adalah salah satu tai kucing dari banyak tai kucing mengenai masyarakat. Kini Doni sedang mengerjakan bab terahir skripsinya. Dua enam umurnya. Sudah delapan tahun Doni menuntut ilmu di sebuah universitas yang cukup ternama itu. Kuliah, bukan sungguh-sungguh keinginannya. Orangtuanya meski dalam banyak sekali hal lain berpikir ‘simpel’, namun dalam hal pendidikan bagi anaknya punya prinsip; menyekolahkan anak setinggi mungkin - bagaimanapun caranya; harus. Or

MURAMNYA PERUBAHAN SOSIAL

Kami berdua seperti biasa sedang duduk-duduk menikmati suasana sore yang dingin dan senyap di kota tak bernama ini sambil menikmati hangat-pedasnya wedang ronde-sekoteng dan kelezatan lumpia isi rebung yang kata orang-orang punya khasiat dapat menambah gairah dan kekuatan berahi, tahu maksudku ? Kedai dimana kami membuang waktu terletak di sebuah pertigaan yang cukup ramai. Bioskop berumur hampir 50 tahun yang tinggal menghitung hari untuk gulung tikar. Toko kelontong dengan penjaga tua muram terkantuk-kantuk dan pemiliknya seakan tak peduli lagi apa ia memang punya toko atau tidak. Supermarket yang sama sekali tidak super. Gardu listrik penuh corat-coret umpatan terhadap situasi-kondisi. Penjual martabak yang dulu pernah sangat laris, ini, itu … Dapat dikatakan merupakan daerah pusat kota tak bernama ini. Tetapi yang dimaksud dengan ‘cukup ramai’ dan ‘pusat kota’ adalah tak seperti itu benar, karena yang dimaksud dengan ‘sepi’ adalah lebih sepi dari yang orang-orang bayangkan, dan ya

THE POWER OF LOVE

Image
Suppression #74, didot klasta Ia menatapku dengan sepasang bola mata yang berubah jadi belati Hugo Nick Carter ; menghunjam-hunjam secara begitu ekspresif diperbuatnya atas ulu hatiku. Maksud hati seiring-sejalan, apa daya bersimpang paham … Demikian itu ucapku bergaya penuh tegar yang hakul yakin. Namun terasa olehku bahwa ia tahu ; kalau aku menyusun kata-kata hanya untuk membangun Taj Mahal private property keangkuhan bebal, yang tegak di atas tanah yang tak ada. Dan aku tahu pula ; kalau ia tahu bahwa aku pura-pura tak tahu kalau ia tahu. Dingin di luar Dingin di dalam Tak sedingin di tempat yang paling luar Tak sedingin di tempat yang paling dalam Ketika ruang kosong Ditinggalkan yang ditendang; dengan sayang Go away but don’t … … # Ciko menjadi sangat kedinginan.

RUSUH

Malam bulan merah menyinari remang sikon harga-harga membumbung yang bagus untuk dilukiskan sebagai kata ‘bangsat’ oleh pengangguran-pengangguran, pedagang-pedagang kakilima yang baru saja digusur, pengamen-pengamen yang ditangkapi, pelayan toko yang dilecehkan, pembantu rumahtangga yang disiksa majikan, mahasiswa yang tak bisa bayar uang kuliah, pemuda mabuk kalah bersaing asmara dengan anak cukong, korban penipuan, pengeroyok pencuri ayam, pencuri ayam itu sendiri … Malam bulan merah menyinari remang kampung-kampung tak segemebyar kompleks-kompleks rumah-rumah gemebyar kedua, ketiga, keempat milik orang-orang kaya-raya. Istrinya datang dengan kesembaban muka dan napas yang tersengal sebab sepanjang perjalanan pulang terus menahan agar airmatanya tak melinang dilihati orang banyak. Dan begitu ia menjatuhkan pantatnya di kursi, pun meluncurlah buliran bening hangat itu, sedang tangannya terus mengucel-ucel saputangan kembang-kembang merah muda. Moli, demikian namanya, bekerja di se

MENELAN LUDAH

Salah satu siksaan paling menyiksa; adalah tentang telor rendaman air garam Aku ... Terapung tidak Tenggelam tidak Di tengah-tengah, bukan sebab punya pegangan Melainkan tak tahu pilihan Dan makin menyiksa ketika tahu ; sementara aku habiskan waktu mencari-cari tahu, orang-orang memborongi pilihan-pilihan dengan duit kekuasaan Sampai saat kumenyadarinya, habislah semua Terbeli tak bersisa lagi Syukurlah ...