Tuesday, 26 July 2016

MERDEKA ATAU POKEMON (naskah drama)

Anak-anak di punggung Gunung Merbabu daerah Getasan (sekarang kec.
Getasan kab. Semarang Jawa Tengah) pada masa Agresi Militer Belanda 1.
Poto ini diambil 21 Nopember 1947, ketika pasukan Belanda melancarkan
serangan ke wilayah gerilya republik di Getasan.
Berikut ini adalah naskah drama singkat untuk anak-anak yang saya persiapkan dalam rangka peringatan HUT RI ke ... (lupa, yang jelas Agustus tahun 2016) di kampung saya. Singkat permainannya, singkat juga bikin naskahnya, kurang lebih satu jam. Intinya naskah ini tentang Pokemon dan bagaimana mengisi kemerdekaan. Kemungkinan besar kalau anak-anak Cemara 4 tertarik akan saya biarkan menggarap sendiri dengan dibantu orang dewasa yang lain, karena saya saat ini sedang terserang gejala tipes. Silahkan jika kampung-kampung lain tertarik untuk mementaskannya. Naskah ini sangat fleksibel, nyaris tanpa biaya (paling potokopi naskah), tak butuh kemampuan akting yang penting mau tampil, bisa dimodifikasi macam-macam terserah kreatifitas masing-masing, diobrak-abrik juga boleh.


MERDEKA ATAU POKEMON

Suara gemuruh alat-alat dapur dipukuli.

Suara rekaman pidato proklamasi 17 Agustus 1945 asli.

Anak 1 : Lho … Sudah?
Anak 2 : Kok cepet tho?
Anak 3 : Mosok gitu thok?
Anak 4 : Kurang panjang Eyang, eh, Bung Karno!
Anak 5 : Hush!
Anak 6 : Proklamasi gak usah panjang-panjang.
Anak 7 : Kalo panjang namanya kotbah.
Anak 8 : Yang penting sekarang kita sudah merdeka.
Anak 9 : Betul … Merdeka.
Semua : Betul Betul Betul.
Semua : Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Anak 10 : Teman-temaaan …. Jadi sekarang kita sudaaaaah?
Semua : Merdekaaaaa!
Anak 10 : Karena sudah merdeka, sekarang mari kita apa!?!?!?
Anak 1 : Upacara, eh, mari kitaaaaa …
Anak 2 : Cari Pokemon!
Semua : Betul Betul Betul!
Anak 3 : Mari kita kemon!
Semua : Cari Pokemon!!!

Suara gemuruh alat-alat dapur dipukuli.
Semua : Hidup Pokemon! Hidup Pokemon! Hidup Pokemon! Pokemon atau Mati! Pokemon atau Mati! Pokemon atau Mati!.

Semuanya sibuk mencari pokemon. Turun panggung, mencari diantara para penonton sambil terus berteriak ‘Hidup Pokemon’ dan ‘Pokemon atau Mati’.
Anak 4 : Sudah dapat Pokemon?
Anak 5 : Belum. Kamu?
Anak 4 : Aku juga belum dapat.
Anak 6 : Di sini gak ada Pokemon.
Anak 7 : Di sini juga gak ada.
Anak 8 : Di sini adaaaa …
Anak 9 : Ada Pokemon? Dapat?
Anak 10 : Adaaa arem-arem! (tergantung jenis snack yang tersedia)
Semua : Huuuuuuuu!!!

Musik gamelan Bujang Anom, atau musik apa saja sesuai situasi kondisi setempat.Seorang masuk panggung menari Bujang Anom, atau tari apa saja sesuai situasi kondisi setempat.
Anak 1 : Hei! Itu Pokemon!
Anak 2 : Mana?! Mana?! Mana?!
Anak 3 : Itu di panggung ada Pokemon!!!
Anak 4 : Betul Betul Betul!
Semua : Pokemon! Pokemon! Pokemon!

Semuanya naik ke panggung rebutan Pokemon.
Anak 5 : Pokemonku!
Anak 6 : Bukan! Punyaku!
Anak 7 : Aku yang lihat pertama! Ini Pokemonku!
Anak 8 : Aku yang paling besar! Ini Pokemonku!
Anak 9 : Aku yang paling kecil! Ini Pokemonku!
Anak 10 : Pokoknya aku yang paling! Ini Pokoknya, eh, ini Pokemonku!
Semua : Pokemonku! Pokemonku! Pokemonku!

Penari membuka topengnya.
Penari : He … He … Heee … Kowe ki dha rebutan apa?
Anak 1 : Lho? Jebul kowe tho Ga? (dalam hal ini, Arga)
Anak 2 : Kukira Pokemon.
Semua : Huuuuuu!!!
Penari : Pokeman Pokemon Pokeman Pokemon. Rebutan kok Pokemon. Mbok liyane … Merebut kemerdekaan opo piye. Kan iki Agustusan?
Anak3 : Lha kan kita sudah merdeka?
Semua : Sekarang tinggal enjoy sajaaaaa!
Penari : Hhhhh … Capek Dweh … (mengeluarkan teks dan dibaca) Begini teman-teman semua dan saudara-saudari sebangsa setanah air, camkanlah … Tujuan kemerdekaan kita adalah untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang, satu; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dua; memajukan kesejahteraan umum. Tiga; mencerdaskan kehidupan bangsa. Empat; ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Maka dari itu teman-teman semua dan saudara-saudari sebangsa setanah air, mari kita tak hanya senang-senang menikmati kemerdekaan, tapi juga mengisinya sesuai pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Ora mung Pokeman Pokemon wae!
Semua : Huuuuuuuu!!!

Suara gemuruh alat-alat dapur dipukuli.
Selesai. Semua memberi hormat. Meninggalkan panggung.


Ngebong, 26 Juli 2016
Harimurti

Wednesday, 18 May 2016

DERAI BULAN APRIL (dengan bonus)

Pak Sardi Pendekar Tahu Campur tapi tidak dari Gua Hantu
'Sajak Kampungku #1'

Tahu campur
Pak Sardi
Asli Karanggede
Ngekos di Karangpete
Bertahun-tahun
Mungkin dia sudah
Kepala enam
Pulang kalo duit ngumpul
7 rebu
Jalan terus

###
Sori kampungku kurang alam cuy
Maklum anak komplek pinggir kota

Doain aku sekarung rejeki cuy
Buat beli alam sehektar dua

Saturday, 26 March 2016

DERAI BULAN MARET #2 (puisi)

Tempe Goreng Tepung Special Mak Yah daru dusun Nglampeyan.
'Sajak Nonton CNN Tech News Tentang Robot Dan Industrialisasi Bisnis Wisata'

Penciptaan robot adalah
Mukjijat insani
Pengenbangan tekhnologi robot adalah
Peradaban

Robot untuk hospitality customer servis adalah
Dekadensi ngeri


Ngebong 19 Maret 2016


Sajak Sofa Baru'

Terkadang tibatiba
Di rumah sendiri tanpa
Anak Istri rasanya
Mak jegagik!

Friday, 25 March 2016

Derai Bulan Maret #1 (puisi)

Bubur tumpang Mbah Wandi, rolade daun singkong dan lego anakku.
'Sajak Layat'

Aku lupa jalannya.
Dimana SMP Al Azhar?
Si Tukang Jus tak tahu tapi sok tahu seperti beberapa orang yang lebih mahatahu dibanding tuhannya sendiri. Tapi trimakasih, mungkin dia salah dengar sebab laris.
Dimana SMP Al Azhar?

"Lurus, gapura kiri, terus," bisik mesra dua penjual lotek tercantik seasia dan pasific dengan mulut beraroma sambal kacang.

Dimana SMP Al Azhar?

"Kiri, kiri dan kiri. Pokoknya kiri jalan terus," kata seseorang yang tak mengingatkanku pada pemberontakan PKI melawan penindasan Belanda, kaum tuan tanah feudal, ningrat ningrat, para priyayi status quo dan segala parasit domestic ... Padahal kiri.
Layat ...

Kusulut jisamsu.

Gitarku fender semua Mas.
Kamu bisa ngeBuddy Guy dg lengkingan yang persis.

Bela sungkawa berdatangan.

Kucari iwan fals di kepalaku.

Thursday, 18 February 2016

THERE IS NO JUSTICE WHILE IMPUNITY REMAINS (copy-paste/kontribusi)

Ini tulisan istriku yang termuat dalam buklet pameran senirupaku 'THEY KILLED THEM' - tentang pembantaian terhadap kaum komunis di Indonesia tahun 1965. Pameran ini terselenggara awal tahun 2015 bertempat di Moors Building Contemporary Art Gallery Fremantle Western Australia. Untuk selayang-pandang karyaku dalam pameran ini silahkan menuju ke http://www.didotklasta.com/#/art-projects-on-65/.
Semoga bisa segera kuterjemahkan. Dan aku sudah bilang ini sejak awal tahun 2015. Jadi sudah setahun belum kuterjemahkan.



Nearly fifty years after the mass violence of 1965-66 - the killings and torture of more than a million people and the illegal detention of perhaps a million more people for 10 and more years - those responsible for these crimes against humanity have never been held accountable. These acts of mass murder and the systematic mass violence carried out against communists and left-wing sympathizers in Indonesia in 1965-66 facilitated the rise of the 32-year Suharto dictatorship.

This brutal regime imposed an enforced silence over the true nature of the mass violence from the outset. This silence allowed complete impunity for those responsible for and those who were directly involved in carrying out the mass killings. This enforced silence was institutionalized through the creation of a version of events, an official historical “narrative” that was created to legitimize the actions of the Indonesian state bureaucracy, the military and members of civil organisations who were directly responsible for carrying out the killings and other crimes against humanity. Those responsible for and who directly benefited from the mass violence have been the prime defenders of this official narrative. This narrative portrays mass murderers as the nation’s heroes, having rescued the new Indonesian nation from the threat of communist evil. Perpetrators have never been made accountable for their crimes but rather continue to publicly brag about their acts of torture and murder against fellow citizens.

WIT … WITAN PLASTIK (naskah pertunjukan)

Naskah ini dibuat atas permintaan remaja-remaja dusun Karang Balong (kelurahan Bener kec. Tengaran kab. Semarang Jawa Tengah) yang ingin tampil dalam acara Festival Mata Air 2016 di Muncul (kel. Rowoboni kec. Banyubiru kab. Semarang Jawa Tengah).
Melalui organisasi yang kubikin dengan istriku; Lembaga Media Aksi Komunitas KALANGAN atau Kalangan Kultura Media, antara tahun 2008 - 2010 aku berkesempatan untuk menjalankan program pengorganisiran komunitas intensif di dusun Karang Balong yang neliputi bidang-bidang : sanggar belajar untuk anak, organisasi muda-mudi dan kegiatan seni budaya khususnya teater. 


Kostum dan Make up :
Seluruh pemain berkostum hitam-hitam (syukur baik perempuan maupun laki-laki bawahnya legging, dengan make up badut, berkalung botol aqua 500 ml yang diisi pasir.
Catatan :
Pastikan ada mic di panggung.

MULAI

Seluruh pemain masuk panggung duduk bersila.
Pemain 1 berdiri membaca puisi, selesai terus duduk)

Puisi :

Ada sejuta pohon dikepalaku
Beraneka macam
Rimbun, rindang
Angin semilir
Burung berkicau

Wednesday, 17 February 2016

UNTUK DUA KEMATIAN (puisi)

Senjakala Samudra Hindia di pertigaan Lynch Place - Oldham Crescent
Western Australia
Berapa kematian yang terjadi dalam sehari?
Berapa kelahiranlah yang menjawabnya.

Beberapa kematian baik tak terdengar
Beberapa kematian baik pun terkenal
Beberapa kematian jahat tak terdengar
Beberapa kematian jahat pun terkenal
Dan beberapa kematian jahat malah terkenal baik
Dan bagaimanapun kelahiran-kelahiran meneruskannya
Yang mati menanggungnya sendiri,
misteri
Yang ditinggalkannya adalah bumi,
dunia tanggungan bersama para penguburnya
Memelihara kebajikan
Menanggung kebangsatan
Sejarah manusia

Dua nama telah tiada

Monday, 11 January 2016

KEEP DANCING WIE ... (kenangan terindah)

David Bowie, 8 Januari 1947 - 10 Januari 2016
Aku sekedar kenal kerbau saja dengan David Bowie, bukan fans apalagi teman seperjuangan. Yang mengenalkan kami, tentu saja, majalah remaja Hai, itu awal 80an. Dari guyuran nomer-nomer top hits sepanjang 1983, yang menyangkut di telinga remaja SMPku tak banyak. Beberapa diantaranya adalah Africa (Toto), You Can’t Hurry Love (Phil Collins), Billie Jean dan Beat It (Michael Jacson), Mr. Roboto (Styx), Flash Dance … What A Feeling (Irene Cara), Every Breath You Take (The Police), True (Spandau Ballet), All Night Long (Lionel Ritchie).