Thursday, 16 February 2012

ORONG ORONG (cerpen)

Fiksi Ilmiah, Didot Klasta
Akhirnya … Surowelang, gegedhug bajingan yang sohor oleh cambang-brewoknya, kekejamannya, ilmu jaya-kasantikannya yang tinggi, sekaligus otak-kerbaunya, yang menjadi tangan kanan kesewenang-wenangan dari Ndoro Adipati Kanjeng Gusti Among Murko, sang penguasa tiran lalim tukang menindas dan suka memperkosa perempuan-perempuan muda itu pun menemui ajalnya di tangan seorang resi sakti mandraguna yang merupakan guru dari putra almarhum mantan Ndoro Adipati, Kanjeng Gusti Mangku Projo yang dulu telah dibunuh dalam sebuah kudeta berdarah oleh Kanjeng Gusti Among Murko, yaitu Raden Sastro yang ingin membalas dendam sekaligus merebut kembali kekuasaan, melalui gurunya itu.
Namun ternyata resi sakti itu, yaitu Resi Langit, setelah Kanjeng Gusti Among Murko bunuh diri sebab tak punya andalan lagi, ternyata kemudian berbalik berpihak pada putra Kanjeng Gusti Among Murko, yaitu Raden Karto yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama dinyatakan hilang dan segera mengambil alih tahta.
Dan ketika Raden Sastro dengan laskar pengikut setianya menyerbu istana, dengan alasan bahwa Raden Sastro adalah cucu-muridnya, Resi Langit mengatakan adalah tak mungkin ia menempur Raden Sastro, maka Raden Karto yang juga seorang satria pilih tanding pun langsung turun di medan laga, berduel habis-habisan melawan Raden Sastro sampai salah satu mati, begitu juga dengan laskar kedua pihak, berperang hingga habis-habisan pula.
Ketika situasi tidak karuan seperti itu, Resi Langit di luar dugaan ternyata mengerahkan pasukan rahasianya sendiri yang telah ia bangun sejak lama secara diam-diam, menduduki istana sementara dua kubu yang bertikai sedang baku-bunuh.
Dan kemudian Resi Langit pun mengangkat dirinya sendiri menjadi raja diraja. Sedangkan Raden Karto dan Raden Sastro terjebak dalam sebuah duel yang berlarut-larut tak berkesudahan sebab mereka sama saktinya, hingga seribu tahun.

Monday, 13 February 2012

DEMI CINTA

Kita tak bisa meneruskan lagi. Ini tak bisa dipertahan Bon. Sudah sekian lama terus kita usahakan, namun akhirnya aku harus percaya yang sekian lama tak kupercaya; aku tak akan bisa benar-benar memahamimu, seperti halnya kau pun tak akan bisa benar-benar memahamiku. Pahit memang … Namun tak apa-apa. Bagaimanapun kita telah mencoba, untuk berani saling mencinta, berani mengujinya secara nyata dengan menjalani ini semua, bersama. Jika ternyata, sesuatu yang kita bangun sekian lama ini tak berhasil, pasti ada sesuatu lain yang berhasil. Mungkin apa yang kucapai dan apa yang kau capai tak sama, namun aku yakin, kita sama-sama akan menjadi lebih baik. Seperti katamu; kita adalah dua bunga yang terus dan makin mekar. Kita tetaplah dua bunga dan dua penyiram bunga sekaligus. Akan tetap demikian, meski kita tak bisa lagi terus saling menyiram. Setidaknya, terima kasih untuk sekian waktu kau menyiramiku hingga aku tumbuh-mekar seperti sekarang ini. Sebaliknya kuharap apa yang kulakukan padamu sekian waktu ini, memekarkanmu pula. Waktu mendidik kita, merubah kita … Waktu memberi kita fase … Dan fase kita, berakhir semalam. Menurutku itu adalah percintaan terakhir kita, dan itu indah sekali. Sesudahnya, kuajak kau melangkah pada fase berikutnya, dengan tak lagi bersama. Demikian kebijaksanaan waktu Bon. Jadi, aku pergi, Sami kubawa. Maaf untuk segalanya. Terima kasih untuk segalanya.
Tetap menyayangimu …
Santi
nb.
Makan malam tinggal menghangatkan. Ca sawi. Tambahkan baksonya kalau sudah panas, tak perlu sampai mendidih.