Thursday, 18 February 2016

THERE IS NO JUSTICE WHILE IMPUNITY REMAINS (copy-paste/kontribusi)

Ini tulisan istriku yang termuat dalam buklet pameran senirupaku 'THEY KILLED THEM' - tentang pembantaian terhadap kaum komunis di Indonesia tahun 1965. Pameran ini terselenggara awal tahun 2015 bertempat di Moors Building Contemporary Art Gallery Fremantle Western Australia. Untuk selayang-pandang karyaku dalam pameran ini silahkan menuju ke http://www.didotklasta.com/#/art-projects-on-65/.
Semoga bisa segera kuterjemahkan. Dan aku sudah bilang ini sejak awal tahun 2015. Jadi sudah setahun belum kuterjemahkan.



Nearly fifty years after the mass violence of 1965-66 - the killings and torture of more than a million people and the illegal detention of perhaps a million more people for 10 and more years - those responsible for these crimes against humanity have never been held accountable. These acts of mass murder and the systematic mass violence carried out against communists and left-wing sympathizers in Indonesia in 1965-66 facilitated the rise of the 32-year Suharto dictatorship.

This brutal regime imposed an enforced silence over the true nature of the mass violence from the outset. This silence allowed complete impunity for those responsible for and those who were directly involved in carrying out the mass killings. This enforced silence was institutionalized through the creation of a version of events, an official historical “narrative” that was created to legitimize the actions of the Indonesian state bureaucracy, the military and members of civil organisations who were directly responsible for carrying out the killings and other crimes against humanity. Those responsible for and who directly benefited from the mass violence have been the prime defenders of this official narrative. This narrative portrays mass murderers as the nation’s heroes, having rescued the new Indonesian nation from the threat of communist evil. Perpetrators have never been made accountable for their crimes but rather continue to publicly brag about their acts of torture and murder against fellow citizens.

WIT … WITAN PLASTIK (naskah pertunjukan)

Naskah ini dibuat atas permintaan remaja-remaja dusun Karang Balong (kelurahan Bener kec. Tengaran kab. Semarang Jawa Tengah) yang ingin tampil dalam acara Festival Mata Air 2016 di Muncul (kel. Rowoboni kec. Banyubiru kab. Semarang Jawa Tengah).
Melalui organisasi yang kubikin dengan istriku; Lembaga Media Aksi Komunitas KALANGAN atau Kalangan Kultura Media, antara tahun 2008 - 2010 aku berkesempatan untuk menjalankan program pengorganisiran komunitas intensif di dusun Karang Balong yang neliputi bidang-bidang : sanggar belajar untuk anak, organisasi muda-mudi dan kegiatan seni budaya khususnya teater. 


Kostum dan Make up :
Seluruh pemain berkostum hitam-hitam (syukur baik perempuan maupun laki-laki bawahnya legging, dengan make up badut, berkalung botol aqua 500 ml yang diisi pasir.
Catatan :
Pastikan ada mic di panggung.

MULAI

Seluruh pemain masuk panggung duduk bersila.
Pemain 1 berdiri membaca puisi, selesai terus duduk)

Puisi :

Ada sejuta pohon dikepalaku
Beraneka macam
Rimbun, rindang
Angin semilir
Burung berkicau

Wednesday, 17 February 2016

UNTUK DUA KEMATIAN (puisi)

Senjakala Samudra Hindia di pertigaan Lynch Place - Oldham Crescent
Western Australia
Berapa kematian yang terjadi dalam sehari?
Berapa kelahiranlah yang menjawabnya.

Beberapa kematian baik tak terdengar
Beberapa kematian baik pun terkenal
Beberapa kematian jahat tak terdengar
Beberapa kematian jahat pun terkenal
Dan beberapa kematian jahat malah terkenal baik
Dan bagaimanapun kelahiran-kelahiran meneruskannya
Yang mati menanggungnya sendiri,
misteri
Yang ditinggalkannya adalah bumi,
dunia tanggungan bersama para penguburnya
Memelihara kebajikan
Menanggung kebangsatan
Sejarah manusia

Dua nama telah tiada