Friday, 26 April 2019

SUGARMAN; Tentang Musisi Terkenal Yang Tak Tahu Kalau Terkenal. (racauan)

Di suatu hari musim panas subtropis - tahun 2014 kukira, aku berdiri mematung secara canggung di salah satu arkadia pusat kota pelabuhan Fremantle sambil menghembuskan asap tembakau lintingan murah dengan digelayuti rasa senewen oleh kegagalanku untuk pandai berbahasa Inggris, untuk sukses secara profesi dan keterkenalan, intinya untuk menjadi diri sendiri. Aku sedang beristirahat dari pekerjaanku membuat cetakan kerajinan tanah liat di sebuah toko yang menjual aneka kerajinan, barang eksotik dan krim perawatan kulit organik milik seorang imigran dari eks Cekoslovakia yang bapaknya berteman baik dengan Vaclav Havel, demi upah barang 15 dolar per jam.
Tak banyak orang lalu-lalang. Satu dua lewat secara bergegas individualistik. Bau dupa yang menyelinap di tengah realita negeri industri maju membikin suasana jadi agak surealis. Dari dalam toko yang sekaligus bengkel kerja terdengar alunan musik yang belum pernah kudengar sebelumnya dan langsung merenggut telingaku. Sambil terus mengisap-hembuskan Countryman yang kubawa berbungkus-bungkus dari Indonesia ini, kepalaku mulai mengangguk-angguk mengikuti irama musik. “Sugarman … Won’t you hurry … Cause I’m tired of these scenes. For a blue coin … Won’t you bring back … All those colors of my dream.”
Ia keluar menemaniku.
“Cool music,” kataku.
“You like it?” tanyanya.
“Yes. What song is this? And who is the musician?”
“Sugarman.”
Lantas perempuan seniman kerajinan berasal dari Spanyol dengan perkawinan yang berantakan dan membayarku 15 dolar sejam ini pun bercerita tentang seorang musisi terkenal yang tak tahu bahwa dia terkenal. Cerita singkatnya ini langsung membuatku terpana, dan sejak itu aku pun mulai mencari tahu lebih jauh mengenai musisi Sugarman ini, sampai akhirnya aku menemukan sebuah filem dokumenter berjudul ‘Searching for Sugarman’.
Alkisah, pada tahun 1970 sebuah album bertajuk ‘Cold Fact’ oleh seorang musisi bernama ‘Sixto’ Rodriguez dirilis di Amerika Serikat melalui perusahaan rekaman Sussex Record, disusul dengan album ‘Coming From Reality’ oleh musisi yang sama pada tahun berikutnya. Sayangnya, entah kenapa meski musikalitasnya kuat, dua album ini gagal total. Rodriguez diputus kontraknya saat mengerjakan album ketiga, bahkan Sussex Record kemudian bangkrut. Salah satu spekulasi mengatakan bahwa ‘naiknya’ Bob Dylan menjadi faktor penting kegagalan ini; industri musik dan publik musik Amerika Serikat saat itu lebih nyaman dengan Bob Dylan yang kulit putih dan bukan ‘kasta Sudra’ ketimbang seorang jalanan berdarah Mexico. Rodriguez adalah anak ketujuh dari pasangan kelas pekerja imigran dari Mexico.
‘Cold Fact’ dan ‘Coming From Reality’ sebenarnya cukup sukses di Australia dan setelah 9 tahun hampir frustasi, akhirnya ada promotor yang membawa Rodriguez untuk melakukan tour besar keliling Australia di tahun 1979 dan 1981. Namun begitu, peluang di Australia ini ternyata tak mempengaruhi hidupnya baik secara keuangan maupun secara karir musik – nampaknya kian lama kian seperti sebuah situasi buntu yang kemudian cukup menjadi alasan baginya untuk berhenti, mundur total dari dunia musik. Lantas Rodriguez membeli murah sebuah rumah bobrok tak terurus di Detroit seharga 50 dolar dan banting setir bekerja sebagai buruh bongkar bangunan dengan penghasilan yang selalu mepet.
Selain bakat musiknya baik dalam membuat komposisi maupun menulis lirik, yang hebat dari Rodriguez adalah sikap hidupnya. Dalam kesederhanaan hidup dan kerja kerasnya sebagai pekerja bangunan, Rodriguez yang memiliki kesadaran sosial tinggi selalu berusaha untuk melakukan sesuatu bagi lingkungannya, termasuk mencoba terjun dalam politik untuk memperbaiki taraf hidup komunitas-komunitas di daerah pemukiman buruh.
Cerita menjadi sangat menarik ketika nun jauh di Afrika Selatan sana tersebutlah seorang pemilik toko musik kecil yang demikian penasaran bahkan menjadi terobsesi dengan seorang musisi misterius yang luar biasa terkenal di negri itu. Musisi ini adalah … Sixto Rodriguez! Rupanya tanpa sepengetahuan si musisi, album ‘Cold Fact’ dan ‘Coming From Reality’ didistribusikan di Afrika Selatan, dan ternyata mendapat sambutan luar biasa – konon lebih laris bahkan dibanding penjualan album-album Elvis Presley. Musik Rodriguez yang bergaya balada dengan lirik-lirik realis orang kebanyakan dan penuh dengan satire, kepahitan, ketidakmapanan, menjadi sekaligus ‘dopping’ pendorong dan ‘wiski’ pelampiasan kemuakan generasi muda terhadap keadaan yang dibelenggu oleh politik ‘aparheid’ yang dijalankan pemerintahan kulit putih Afrika Selatan waktu itu, yang selain rasialis juga otoriter.
Namun karena album Rodriguez yang beredar di Afrika Selatan tidak menyertakan informasi yang cukup, meskipun musisi ini sangat populer, tak banyak yang diketahui mengenainya, dan maka Rodriguez pun menjadi idol misterius. Sedemikian misterius sampai sejumlah rumor berhembus mengenainya. Salah satunya yang paling beredar luas adalah; Rodriguez sebenarnya telah mati, ia menembak kepalanya sendiri dengan pistol menyusul usainya lagu terakhir penutup konser.
Bau sedap pada saatnya akan tercium juga. Misteri Rodriguez akhirnya tersingkap ketika di akhir 90an anak perempuannya di Amerika Serikat secara tak sengaja menemukan sebuah situs internet yang didedikasikan untuk melacak jati diri Sang Sugarman, situs ini dikelola oleh pemilik toko musik kecil di Afrika Selatan itu. Anak Rodriguez pun menghubungi si pemilik toko musik, dan dari komunikasi di antara mereka akhirnya muncul ide untuk menghadirkan Rodriguez di Afrika Selatan lewat sebuah konser. Dapat ditebak, konser yang dijubeli penggemar Rodriguez yang sudah mereka anggap bagaikan mitos ini pun menjadi sebuah pertemuan yang sangat intens, sangat emosional, sangat orgasmik secara spiritual baik bagi warga Afrika Selatan maupun bagi Rodriguez. Penggemarnya belum pernah melihat pujaannya, bahkan tak tahu apapun mengenai dirinya, dan Rodriguez yang orang biasa saja tak pernah tahu sebelumnya bahwa dia adalah Super Star yang digemari rakyat seantero negeri!
Sejak konser pertamanya itu, secara periodik Rodriguez tampil di Afrika Selatan, namun sebatas itu saja. Kisah dramatis musisi terkenal yang tak tahu kalau terkenal ini baru meledak secara internasional ketika seorang pembuat filem dokumenter memfilemkannya, dan filem ini menyabet Academy Award untuk filem dokumenter terbaik pada tahun 2013. Sejak itu Rodriguez banyak tampil dimana-mana baik dalam pertunjukan musik maupun wawancara, begitu juga di media-media tulis. Namun dengan lonjakan popularitas ini Rodriguez tetap menjadi orang biasa yang sederhana, rendah hati, peka dan selalu penuh dengan kepedulian sosial. Sebelum meroketpun, ketika ia diundang dalam acara malam pemberian penghargaan Academi Award, Rodriguez memutuskan tidak datang dengan alasan; acara itu spesial untuk si pembuat filem Searching For Sugarman, dia tidak ingin kehadirannya membuyarkan fokus perhatian.
Dikabarkan bahwa Sang Sugarman yang telah menjadi orang terkenal secara internasional tetap hidup secara bersahaja, bahkan nyaris asketik. Dia tak begitu menikmati uang yang didapat dari lonjakan karirnya, sebagian besar habis ia bagi-bagikan ke orang-orang terdekatnya. Kini diusia yang sudah 76 tahun Sixto Rodriguez tak lagi penuh kepahitan, namun tetap memiliki sikap rendah hati, peduli dengan sesama dan kehidupan, dan percaya dengan kebaikan dan kekuatan orang biasa, seperti yang biasa ia teriakkan dalam konser-konsernya, “People Power!”
Sugarman … Met a false friend … On a lonely dusty road.
Lost my heart … When I found it … It had turned to dead black coal.

Aku hanya sebentar bekerja membuat cetakan tanah liat. Bersama keluargaku aku tinggal berbagi kontrak rumah di jalan K dengan seorang perempuan guru seniman teater setengah gila yang memberiku harapan palsu bahwa aku akan mendapat pekerjaan di sebuah SMU terkenal untuk mengerjakan proyek Teater Kaum Tertindas Augusto Boals dan tidak membayarku untuk satu sessi yang sudah kukerjakan. Dia berteman baik dengan imigran dari eks Cekoslovakia pemilik toko di arkadia Fremantle yang menganggap Vaclav Havel pamannya sendiri itu. Pemilik toko ini yang memperkenalkanku dengan seniman kerajinan Spanyol yang pernikahannya berantakan dan membayarku 15 dolar sejam.
Selisih satu rumah di sebelah kanan, tinggal kenalan baru kami; seorang gitaris jazz bagus berdarah Irlandia dan sedang dalam proses kehilangan pekerjaannya di sebuah organisasi budaya karena para boss tak tertarik dengan kebudayaan. Ternyata istrinya teman sekolah istriku. Dan suatu hari saat mereka bertengkar karena tekanan keuangan, istrinya melompat-lompat di ruang makan secara telanjang.
Persis di sebelah kiri, tinggal pasangan Kanada – Amerika Serikat. Mereka cukup mapan secara ekonomi, tetapi nampaknya juga cukup rutin bertengkar karena Si Amerika adalah perempuan yang mandiri, keras dan agak cerewet dalam hal pengasuhan anak. Si Kanada dulu bermain band hardcore. Jika pas gilirannya mengasuh anak mereka dan anaknya membuatnya setress, kadang ia mengetuk pintu rumah untuk minta selinting dua rokok. Kukeluarkan gitar dan kumainkan sepotong blues. Dia ternganga, baru tahu kalau permainan blues-ku lumayan juga. Kuulungkan gitar padanya.
“Kau tahu Rodriguez? Sixto Rodriguez?”
“Tentu saja. Sugarman … You’re the answer … That make my questions dissaper. Sugarman … Cause I’m weary … Of those double games I hear.”
“Yeah … Tapi lagu favoritku ‘Cause’.”
Dia mengangguk, lantas menggenjreng gitar dan mulai melolong.
Cause I lost my job … Two weeks before Christmas.
And I talked to Jesus at the sewer … And the Pope said it was none of his God-damned business.

Sixto Rodriguez akhirnya menemukan apa yang ia cari lewat jalan musiknya; yaitu alasan untuk terus bermusik. Sementara itu, Malik Benjelloul; sutradara Searching For Sugarman meninggal secara mengejutkan pada hari yang sibuk 13 Mei 2014. Dia melemparkan dirinya ke arah kereta api yang datang di stasiun kota Stockholm.

didotKlasta
Salatiga, 26 April 2019

No comments: