Friday, 29 June 2018

TOP HITS MEI - DESEMBER 2016 (puisi)

Bu Tukinem yang tekun dan bersahaja, Pojok Kuburan Cina.
Sajak Kue Putu

Pak Kasimin
Dan pikulannya
Dua jadi Satu
Satu tapi Dua
Persetubuhan sempurna
Manjing
Dari perempatan Ngebong
Menguing sampai jauh
Bagai hingga Pantai Gading Africa
Gemanya terdengar di kutub selatan
Aromanya tercium di kutub utara
Terus menguing dan menguing
Sejak bertahun lalu
Hingga kini nasibmu miskin abadi
Takdir keji sistim ekonomi keji
Yang menyihir kerjakeras rakyat kebanyakan jadi
Absurd
Saat matahari menggelincir dari
Sepenggalah
Aku menyamar Reinald Kasali
"Putuuuu! "

Monday, 2 April 2018

MUSTAJAB CINTA (cerpen)

DidotKlasta, Supression 17, 2007
Sewaktu berjalan pulang entah menuju kemana setelah sejak sore berkeliaran entah kemana, Teror menemui kenaasan. Ia ditodong! Dan berlipat lagi naasnya itu sebab Teror, seperti biasa, hanya punya sedikit sekali uang - lebih naas dibanding hartawan culas yang dirampok habis-habisan, sebab pastilah segera hartanya akan menumpuk lagi karena keculasannya.
“Uang! Mana uangmu?!”
“Ak … Aku tak punya uang ...”
“Bohong! Uang! Uaaang!!!”
Teror geragapan merogoh saku celana depan dan dengan tertahan-tahan ragu mengeluarkan tiga lembar ribuan lecek yang segera diulungkannya.
“Sss … Sungguh ... Cuma ini saja ...”
“Bangsat! Apa tuh?! Enggak percaya! Kamu menghina ya?! Kau kira aku rampok teri kelas ribuan ya?!”
“Sungguh ... Aku ini cuma seniman pengangguran tak punya apa-apa ... Lihatlah, jam tangan tak punya ... Gelang? Kalung? Cincin? Sepatu jelek saja tak punya ...”
Sambil berkata demikian itu Teror mengangkat kaki kanannya yang bersandal jepit dan langsung disepak penodongnya yang memakai sepatu lars.
“Bangsat! Dompet! Serahkan dompetmu!”
“Tapi cuma dompet kosong, buat apa ...?”
“Banyak mulut kamu!”