Monday, 23 November 2015

SALAH SATU KEAJAIBAN DUNIA BERNAMA MINUMAN KERAS (kenangan terindah)

Peminum Berat Kehidupan, DidotKlasta 2015
Boleh dikata hanya ada dua liburan sekolah masa kecilku yang paling mengesankan dibanding total semua liburan sekolahku mulai dari SD sampai SMA. Pertama adalah liburan kenaikan kelas dari kelas 2 naik ke kelas 3 SMP (Negeri 1 Salatiga, boleh dikata secara umum merupakan pangkalannya anak-anak paling pandai di kota ini). Mengesankan sebab pada liburan inilah untuk pertama kalinya aku tersayat sembilu cinta monyet yang meraja tak berkesudahan pada seorang dara T dari kota S 50an kilo dari kota kecilku tercinta Salatiga. Ceritanya dia berlibur ke rumah tantenya, Y - istri seorang pelaut jarang pulang, persis di belakang rumahku. Kita semua pasti tak asinglah dengan proses kimiawinya … Sekian kali berpapasan, bertemu pandang, caranya menyuapi keponakannya yang menarik hati, bando dan blues merah berenda putih yang tak lekang waktu, langkah kaki ‘putri solo’nya yang serasa tak menyentuh tanah, pesona anggukan halusnya padaku saat melintas samping rumah sementara aku lagi asyik bermain seruling, dan sekali dua mengintipnya dari lubang ventilasi sedang duduk manis nonton tivi … Maka monyet-monyet lucu berwarna ungu nan usil merepotkan itu pun bersemilah di hatiku. (Keseluruhan jagad cinta monyet pada Dara T ini memadat dalam satu puisiku disini http://kotbahdidotklasta.blogspot.com.au/2012/01/mata-indah-mata-sapi.html

Sunday, 15 November 2015

BERJALAN DALAM TIDUR #1 (racauan)

SleepWalking For Nothing, didotklasta
Ketika malam tak lagi mengandung ratap jengkerik, air pasang, rapat persekongkolan, rembulan dan getaran erotis, melainkan telah dikendalikan sistim hari-hari yang sugestinya akan kejahatan paling otomat dan mekanis ... Tak ada kecemasan lebih mencemaskan dari situasi terkini sebuah kamar yang merupakan salah satu dari seribu kamar yang sama dalam sebuah gedung instansi misterius; kegelapan sistim rahasianya sepekat hati manusia kontemporer dan usia sistim berkelanjutannya setua niat-niat busuk adam-hawa.

Itu malam yang tak mungkin dikenali di atas ambang sadar. Mereka tak mungkin bisa melihatnya, karena mereka terjaga selalu oleh penyangkalan terhadap segala ketidakmasukakalan yang mereka lakukan dalam keterlenaan. Sesungguhnyalah itu adalah malam 1001 malam yang melampaui petualangan Sinbad.

Mereka tak bisa, tapi Ia bisa … Sebab Ia; Teror, adalah insomnia ataupun tidur yang berjalan-jalan dengan bentuk menyerupai motor besar tanpa suara tanpa pengendara tanpa bahan bakar bergerak sendiri dengan telanjang dengan alat-alat kelamin sebagai asesoris menghiasai bodi full modifikasi dan alat-alat kelamin ini saling memperkosa secara stabil dan kontinyu seperti keluar-masuknya seker.

TUHAN(NYA) YANG (PUNYA) KUASA (puisi)

Agama Adalah Senjata Kaum Kaya
Membuka Kitab. Bosan. Ditutup lagi. Mabok. Nabi-Nabi berjenggot. Tinggi dan gemuk. Membayangkan bar-bar di luar. Stadiun Hamburg. Okelah ... Lapau-lapau Kaban Jahe lumayan. Vandalisme. Hooligan. Pencerahan. Sumpek ritus.  Mengikis kekolotan. Menyembah kolot-kolot moderen. Lain dengan lapau-lapau dunia tiga. Soal miskin saja. Dan yang kaya di pusat-pusat dunia tiga. Memobilisir agama dan kitabnya; bahwa miskin - kaya itu : maya. Mari sama-sama. Rayakan globalmania !

Sial ... Nabi Musa jika menentang kini. Harus menyibakkan laut-laut lebih merah lagi. Apa tongkatnya masih sakti ? Sedang komputer telah mendefrag tuhan. Yahwe cuma x-file dalam arsip CIA. Oprasi bius radikalisme dunia 3. Nabi-nabi baru ke tanah utopi naik Star Cruiser. Jetset internasional di atas Queen Elizabeth. Chariot firaun adalah Titanic slalu rekoveri. Orang tertindas kuli kamar mesin. Orang kaya menikmati resital-resital klasik.

Monday, 9 November 2015

PUPUTAN KABUDAYAN (naskah pidato)

Tulisan ini adalah naskah pidato yang dipesan adik saya dan teman-temannya untuk perayaan kelahiran sanggar seni tari berbasis komunitas SANGGAR TIRTA di desa Tirto dekat Parangtritis kab. Bantul DIY, dulu awal 2000an pas mereka masih jadi mahasiswa gress di ISI Jogjakarta jurusan tari. Seingatku, Ibu juga membikin naskah untuk pidato yang sama. Aku lupa apakah kami bikin sendiri-sendiri, ataukah kolaborasi. Kalau bikin sendiri-sendiri maka aku juga lupa pidato mana yang dipakai. Semoga yang ini :) sorry Mami, you're the best forever.

Bung Karno, proklamator kemerdekaan Indonesia sedang
berpidato.
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Kakakku, Adikku, Sodara-sodaraku terkasih sebangsa setanah air warga pedukuhan. Sugeng Ndalu. Salam Sejahtera. Merdeka !
Puja-puji dan ucapan syukur kita panjatkan ke hadapan Tuhan, atas segala berkat, rahmat, dan kuasaNya yang telah mengayomi dan meridhoi keindahan malam ini. Di mana kita dapat berkumpul, berbagi kegembiraan serta kebahagiaan bersama, dalam acara istimewa: hajat rakyat bertajuk : "PUPUTAN KABUDAYAN", untuk menyambut dan merayakan kelahiran bayi kesayangan. Yaitu bayi tunas olah kagunan kreasi seni yang mengejawantah dari haribaannya Bunda Pertiwi, Sang Bunda Budaya Sejati. Dan telah kita namakan bayi ini :
SANGGAR TIRTA
(mohon tepuk-tangan yang meriah!)

ALI, HIKAYAT 'PREMAN' YANG MASUK SORGA (kenangan terindah)

Sebagian anak-anak Rumah Bambu
Mungkin karena makin merasa tua, kesepian dan hidup hampa tiada arti, bersama sejumlah teman mahasiswa sebuah universitas di Salatiga aku menginisiasi kegiatan belajar luar sekolah bagi anak-anak rakyat jelata di sekitar kampungku Jagalan, itu awal 2000an. Inisiatif ini disambut sangat antusias oleh anak-anak dan orang tua mereka. Sebab gratisan? Menyimpulkan ‘gratisan’ sebagai kunci animo rakyat adalah penyederhanaan ceroboh dan menghina. Beberapa orang tua bahkan menemuiku untuk menanyakan tentang uang yang bisa mereka kontribusikan dengan alasan kegiatan seperti ini tentu perlu biaya. Mungkin saja keinginan untuk bisa mengakses sebuah media belajar yang ‘dekat’ dengan kehidupan mereka, bahkan bagian organik dari keseharian mereka, adalah dorongan yang bisa jadi lebih utama. Mungkin ini sekedar bukti tentang menariknya ‘belajar’ dan tidak menariknya ‘sekolah’, serta fakta kurangnya media belajar luar sekolah yang terjangkau. ‘Terjangkau’ dalam segala pengertiannya.

Bagai jamur-jamur polos lucu di musim hujan, dalam waktu singkat peserta bertambah banyak. Tak hanya anak yang tinggal di Jagalan, namun juga melebar sampai ke dusun Sukoharjo, Pamot dan Tugu. Beberapa pihak pun kemudian tergerak membantu. Temanku pegawai bank top di ibukota mengirimkan uang seratus ribu, temanku yang aktif dalam organisasi yang tak kumengerti

Tuesday, 3 November 2015

AKU ADALAH KEBUSUKAN (puisi, racauan)

Puisi yang saya bacakan saat pembukaan pameran saya 'THEY KILLED THEM', pembasmian komunis di Indonesia 1965, seri ketiga di Moores Contemporary Art Gallery, Fremantle Perth Australia Jumat 16 Januari 2015. Penampilan ini merupakan kolaborasi dengan SinLex electrosoundmachine. Poto karya silahkan ditengok di http://www.didotklasta.com/work-karya/#/art-projects-on-65/

Aku datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Kedalaman relung-relung dingin, lembab, busuk … hati manusiamu. Aku menggerogoti jiwamu. Bercampur darah hitam terbakar merah. Menggelegak … Berbuih … Mendidih … Berkobar ... Panas menjalari pelosok tubuhmu. Jadi gumpal-gumpal api di kepalan tangan-tanganmu … Angkara

Aku datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Menjelma orang-orang bermata buas. Di atas truk-truk hitam tak dikenal dengan geram mesin bagai seringai mimpi buruk terjaga nanap. Mendatangi mereka di tengah malam jahanam. Berangkat dalam diam menuju ide-ide kekerasan di kepalamu. Dan mereka berdoa pada tuhan-tuhannya. Antara hidup dan mati dan hidup dan mati atau hidup atau mati atau hidup atau mati. Dan aku lebih tuhan dari tuhan. Aku … Eksekusi

SEBATANG POHON (tulisan pengantar pameran)

Tulisan pengantar untuk pameran senirupa dalam Festival Mata Air 4 ½ 2010.

Syahdan ada lomba naskah drama bertema ‘KDRT’. Ada lagi buku antologi puisi ‘lumpur Lapindo’. Ada pula album campur sari koplo all stars ‘Contrenglah Si Gembur!’. Dan ini kali ada pameran seni rupa ‘lingkungan hidup’ dalam Festival Mata Air 4 ½ di Kampung Seni Lerep Ungaran yang diselenggarakan oleh komunitas aktifis pelestarian lingkungan Salatiga, Tanam Untuk Kehidupan.
Ulasan kuratorial tekhnis merupa-ria bukan kompetensi saya, maka tulisan ini sekedar corat-coret alakadarnya yang mencoba mengantar apresiasi publik lewat sorotan fenomena ‘karya (fiksi) dalam rangka’, khususnya bidang seni rupa dan hubungannya dengan fakta dari issu yang di angkat.

Pernah dalam sebuah diskusi sekenanya muncul sodoran (yang masih perlu diuji validitasnya); “Visualisasi masalah lingkungan yang cenderung menampilkan obyek/tema seputar pohon” Debat pun terjadi. Sini berpendapat bahwa wilayah lingkungan hidup sangat luas dan kompleks baik realitas maupun interpretasinya, maka karya bertema lingkungan hidup mestinya juga tidak ‘itu-itu saja’. Sana berpendapat persoalan lingkungan adalah persoalan degradasi kondisi alam dan pohon adalah penanda paling signifikan dari alam, selain itu pilihan obyek/tema seputar pohon juga sangat komunikatif bagi apresiator ‘awam’.

Monday, 2 November 2015

KOTA OXFORD (Bob Dylan)

Dari album Freewheelin' (1963)

Oxford ... Kota Oxford
Setiap orang menundukkan kepala
Matahari tak menyinari tanahnya
Tidak di Oxford kota

Ia pergi ke sana
Senjata dan gerombolan mengikutinya
Semuanya sebab wajahnya coklat
Minggat kau, minggat !

Kota Oxford di tikungan
Ia mau masuk, di pintu tertulis larangan
Semua sebab warna kulitnya
Apa yang kau pikir tentang itu Saudara ?

Sunday, 1 November 2015

AKU DAN PEMILU, SEJAUH INI (kenangan terindah)

Dari mulut gang ke Asrama yang diapit oleh pagar tembok tua gedung SKP (Sekolah Ketrampilan Putri) dan warung rujak – lotek Bu K, aku melihat T nampak gagah penuh energi dengan jaket hijau doreng kuning hitam dalam derap langkah barisan simpatisan PPP dari arah kolam renang Kalitaman naik menuju Jalan Pemuda sambil menyanyikan lagu Pring Reketeg Gunung Gamping Gempal, sementara di lapangan bola Tamansari berseberangan dengan bundaran tugu jam seorang tentara muda mengisi magasin senapan otomatisnya di dekat pohon kamboja. Demikian dua kelebatan memori samar tentang pemilu masa kecilku di kota kecilku Salatiga.

T waktu itu sudah menjadi remaja setengah pemuda. Si hitam wajah jawa anak dari keluarga miskin di kampung Krajan, bapaknya penarik becak, kakak tertuanya penarik becak, kakaknya yang nomer dua penarik becak, dia sendiri sebelum menjadi pelatih tenis top adalah penjaga bola, namun aku lupa apakah sebelum jadi penjaga bola dia juga menarik becak. Aku mengenal T sebab dia melatih tenis di lapangan yang sama dengan tempat Bapak main tenis. Tak ada orang yang tidak kagum padanya. Tak cuma dengan teknik permainannya namun juga dengan gayanya yang sangat ‘flamboyan-stylist’. Sedang siapa tentara muda itu aku tak tahu. Yang kuingat situasi pemilu-pemilu dimasa kecilku memang selalu terkesan panas, setidaknya menegangkan. Dan bicara tentang tentara,

DARI BOB DYLAN, TENTANG DR. KING, GANDHI, YESUS HINGGA JUTAAN TAK BERNAMA

Berikut ini renungan ringan saya yang jadi pengiring pameran seri ketiga dari projek seni saya mengenai pembasmian komunis Indonesia; THEY KILLED THEM di Moores Building Contemporary Art Gallery, Fremantle Western Australia Januari - Februari 2015. Poto karya silahkan ditengok di http://www.didotklasta.com/art-projects-on-65/

Salah satu elemen karya instalasi They Killed Them, didot klasta
They Killed Them adalah karya seri ketiga dari Project 65, yaitu projek seni saya tentang pembasmian kaum komunis dan penghancuran gerakan politik kerakyatan Indonesia di tahun 1965. Sebagian orang yang prihatin menyebut peristiwa ini Tragedi 65. Sebagian yang lain meyakini bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi itu adalah konsekuensi dari kewajiban suci membela tuhan dari ancaman kaum ateis penuh dosa. Sebagian yang lain lagi dengan bangga mengesahkan cerita tentang tindakan patriotik demi keselamatan dan kejayaan Negara. Sebagian besar orang termasuk masyarakat internasional menganggap bahwa aib kemanusiaan ini tak pernah terjadi. Dan segelintir elit politik ekonomi global menyatakan dengan antusias, “Perubahan kecil ini menguntungkan kita”.

Kotak Wasiat adalah karya seri pertama saya yang membidik aspek sejarah dari Tragedi 65. Sejarah adalah cermin kolektif untuk melihat diri kita sebagai bangsa. Ketika satu cermin sangat vital (sebab peristiwa ini merubah total drastis fundamental Indonesia) ini gelap, maka kita tak mengenali siapa kita sesungguhnya. Kita tak tahu dari mana berasal dan hendak kemana menuju. Karya instalasi ini dipamerkan di Tembi Rumah Budaya, Jogjakarta Indonesia pada tahun 2012.