Saturday, 31 October 2015

AKU, MEMBACA DAN MENULIS (kenangan terindah)

Aku suka menggambar sejak sebelum masuk SD, itu awal 70an. Aku suka berteater sejak masuk kelompok teater di kampus, itu setelah setahun aku jadi mahasiswa; akhir 80an. Aku suka bermusik sejak mulai belajar main gitar, itu juga akhir 80an. Dan sejak kapan aku suka menulis?

Aku putuskan saja bahwa awal kesukaanku menulis adalah ketika aku mulai menulis puisi dengan cukup serius. Sebelumnya aku lebih dahulu suka membaca puisi yang ada di majalah Kawanku dan Hai. Selain itu aku suka membaca cerita pendek, cerita bergambar, artikel pengetahuan populer hingga berita, khususnya olah raga. Melengkapi majalah Kawanku, Hai dan Bobo, di rumah masa kecilku dapat dikatakan ada seribu satu macam bacaan; Album Cerita Ternama, Kuncung, aneka komik silat dan super hero, Donal Bebek, Eppo, serial pengalaman Dr. Karl May, majalah bulanan Korpri – Krida, aneka majalah ‘wanita’, buku-buku inpres untuk perpustakaan sekolah, Api Di Bukit Menoreh dan koran Kompas serta Suara Karya.

Wednesday, 28 October 2015

UNCOMFORTABLE NUMB #5

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam videoklip Comfortably Numb, Pink Floyd
(V)

Seekor sapi gadhuhan.
Satu anaknya.
Kemarau panjang.
Rumput pembangunan; asset.
Padang rumput, rimbun tiang pancang.
Kakek pulang ngarit; hampa.
Memandang kandang, dibalas pandang; hampa.
Uang yang tua, lelah, kumal, begitu-begitu saja, tambah tak jelas keluaran mana.
Seperti kemiskinan, sendirian, tambah lagi iklim; tak kenal pemihakan.
Sang Kakek ke pasar.
Lohor-lohor.
Beli jerami dan komboran, jalan kaki.
Disrempet bis AKDP.

Sapi dan anak sapi menanti.
Lumayan tahu perjuangan kemiskinan.
Tak tahu bahwa baru saja ada darahnya.
Sapi dan anak sapi menanti.
Menjaga rumah.
Bersama perempuan tua dan anaknya janda.
Memandang nangka dan daun nangka.
Bersama matahari angslup.
Campur sari dan berita Capres menipu sana-sini.
Ada waktu yang melesat dari sejarah.

Wah … Rasanya tak ada negara …
Begitu kata sapi.
Enaknyaaa.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #4

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(IV)

Ayunan.
Berayun-ayun sendiri peduli sunyi.
Adalah puisi.
Tak butuh publikasi.
Onani ?
Bukan. Ini otonomi.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #3

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(III)

Di kulkas tiga pintu orang-orang penghisap freon.
Ada hati transaksi harga tinggi.
Yang membeku.
Tahan lama.
Jika dimakan.
Dingin, tak berasa.
Sedang orang-orang miskin punya tungku.
Menyate hati sendiri.
Lapar tak bermodal.
Setengah matang sudah dimakan.
Tak sabar, lapar.
Panas.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #2

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(II)

Kini sendiri.
Nanti apalagi tambah lagi.
Kawan dekat pergi.
Kawan jauh terlupakan dan melupakan.
Lawan-lawan; bukan kawan.
Lain orang terserah lu-lu, gue-gue.
Kenyataan adalah pasar impersonal.
Keadaan adalah pengasingan.
Makin miskinlah pula.
Serupa anjing lapar tidur menahan lapar di kaki sofa dunia tiga; mesti dienak-enakkan.
Dalam semacam mimpi kami berjumpa.
Manusia tanpa otak.
Dan anjing mesinnya.
Menghitung waktu.
Tanpa tujuan.
Aku menjadi mesin kasir.
Tolooong …!
Suaraku ditelan suara uang.
Uangnya milik pengupah tukang kasir.
Aktu tak didengar dan tak bisa mendengar.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #1

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(I)

Membayangkan hari-hari terakhir terindah di beranda rumah anti IMB anti keluarga nikah akad sertifikat dan tuan-tuan rumah telah lama mati;
Secangkir limbah nyata.
Sebatang kanker nyata.
Selayang pandang arah Barat.
Matahari uzur asing wajahnya ternyata.

Membakar setumpuk koran di halaman belakang.
Baunya sampai ke sini.
Kremasi informasi.
Berita-berita penindasan, pemenjaraan, penelikungan bahkan pembebasan.
Sistim kekerasan.
Struktur makan-memakan.
Keadaan timpang.
Dimapankan.
Rejim tentram.
Dalam kerilekan yang terpaksa-paksa;
tercapaikah jadi orang merdeka ?

Tidak !
Jika berpikir nanti.
Iya !
Jika menganggap sekarang juga.
Mulainya dari benak kita.
Terbang melayang naik khayalan.
Hukum grafitasinya pikiran.
Perjalanannya kesadaran.


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Tuesday, 27 October 2015

JONI ON LINE (puisi)


On line
Simpang-siur posting
Dari hanya main-main
Hingga lebih dari main-main
Iklan membesarkan kontol
Peluang kaya-raya tanpa bekerja
Perang proganda dogma-dogma
Mencari cinta-cinta
Kontroversi
Kehidupan Kehidupan
Kematian Kematian
Pelarian Pelarian
Keterasingan Keterasingan
Simulasi Pemayaan
Kebebasan
Dunia gempita dalam sekotak monitor belaka
Tagihan sekian ribu
Cetingnya sekian dulu
Sampai ketemu lagi di next moment semu
Pulang deh
Sampaikan pada kenyataan
Yang dihiasi tawa dan dilumuri tangisan
Simultan
Di pinggir-pinggir Grand kenyataan
Lugu, dungu, gatekh, tempe
Tak becus internet
Jadi data internet
Situsnya www.mayoritasjelatamerana.com
Dan siapakah web mister-nya?


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Sunday, 25 October 2015

BUKAN CINTA LAGI (puisi, racauan)

Versi Mingggu malam 25 Oktober 2015 bersama The Best of Acid Jazz dan segelas dua anggur merah. Sekarang daya-daya puitik-ku seperti rongsokan yang tertimbun di dasar sumur kering dan aku berusaha meraihnya dengan pengait yang tak cukup panjang. Aku ingin memetiknya dari matahari, tapi matahari milik kaum muda progresif cakep atau kaum tua establish. Aku perlu rongsokan.


Waktu itu di bawah pohon Mlinjo tua setua revolusi tak kunjung tiba ... Kau eluskan sekian angin malam yang membangun sarang di urai sepunggung hitam berkilau gadis sunsilk rambutmu, pada bibirku yang macam kehilangan semilyar puting ibu. Sedang apa kita ini? Tanyamu yang tak pada siapa. Kemesraan ini ... Seakan bukan lagi mengaso di Bukit Cinta (dulu enak buat pacaran, desa Kebondowo kec. Banyubiru kab. Semarang Jawa Tengah). Sementara gedung-gedung pencakar langit metropol sudah sedang memberhala dan gubuk suburban dihajar banjir metropol yang membersihkan kaum miskin metropol ... Sedang apa kita ini?
Aku ngungun dalam ruapan tembakau Boyolali yang membercakkan nikotin serupa ludah buruh-buruh tani Musuk (sebuah kecamatan di kab. Boyolali Jawa Tengah) di kepahitan paru-paruku dan dua tiga batuk terlempar sampai malam diskusi mahasiswa tanpa ujung di perguruan tinggi itu.
Entah ... Sini bahumu, biar Si Entah ini boleh gratis menyandar kuyu ... Dan Si Entah ini yang dari bulak ke bulak diantuk-antuk jalan batu berdarah kaki pemakan jagung demi atau sebab bisu gunung Merbabu oleh dengung pemintal Juragan Lasak memamah entah kapan pasti sampai dusun tertinggi menggelinding untuk tak perlu berarti ke mana saja dengusmu hangat perempuan mengajak main petak-umpet.

CINTA TINGKAT KAYU BAKAR (puisi)

buat yang mengelilingi api unggun

Dan saat esok semua terbangun
Memandang sisa asap
Berkepul dari arang dan abu
Semoga menjadi paham
Bahwa yang semalam adalah
kebahagiaan
Dan untuk paham bahwa aku kayu kalian,
tak penting


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Saturday, 24 October 2015

TUNGGU ILHAM (puisi)

Datanglah ...
Kutunggu kau, kutunggu.
Di sini kutata ...
Stoples-stoples hangat masih hidangan rinduku.
Padamu kekasih ...
Dalam pasungan atau kebebasan dalam produksi atau penciptaan.
Kau suka mampir-mampir memang.
Banyak tempat menawanmu.
Namun jangan berlama membui.
Buncah harapku, selebar kuaknya nganga tirani.
Ingin benar, membuarkan semua cakap.
Mendekam sekarang kun fa ya kun.
Menunggu kau bersama lembar-lembar kitab penjadian.
Biar capai pemenuhan.
Masalah-masalah kebebasan.
Dan ...
Juga segala ketidakpernahpenuhannya.


DidotKlasta
Salatiga, awal 90an

BELENGGU! (puisi, naskah)

Naskah untuk presentasi hasil workshop teater pendidikan kritis di Kampung Krajan Salatiga dengan partisipan anggota Teater Angka Nol Kampung Krajan dan Teater Kalangan serta difasilitasi oleh DidotKlasta Harimurti, Direktur Kalangan Kultura Media Salatiga.


Belenggu!
Ada yang meringkus tubuhku kaku ... Ada yang mencekik leherku sumpeg ... Ada yang membekap mulutku tak bisa bicara ... Ada yang menyumbat telingaku tak bisa dengar ... Ada yang menutup mataku tak bisa lihat ... Ada yang mengubur hatiku tak bisa merasa ... Ada yang memborgol otakku tak bisa berpikir ... Ada yang menodongku dengan remote control ... Ada yang menyirep kesadaranku ... Ada yang mengkerangkeng kemanusiaanku ...

Belenggu!
Ada penjara dimana-mana ... Penjara di sekolah-sekolah ... Penjara di kantor-kantor ... Penjara di super market ... Penjara di televisi ... Penjara di upacara resmi ... Penjara di pabrik-pabrik ... Penjara di nasehat-nasehat ... Penjara di sidang-sidang ... Penjara di kotbah-kotbah ... Penjara di pidato-pidato ... Penjara di rumah ... Penjara di kamar ... Penjara di buku harian ... Penjara di doa-doa ... Penjara-Penjara-Penjara kemanusiaanku ...

Belenggu!
Ada yang bengong hidup tanpa arti ... Ada yang pasrah jadi pecundang sampai mati ... Ada yang tertawa sambil mengingkari kemanusiaannya ... Ada yang lalu terjaga, mempertanyakan dan bangkit ... Membongkar ... Meretas ... Menerobos ... Menjebol ... Mendobrak
Ini hidup cuma sekali
Membusuk dalam penjara-penjara
Atau jadi manusia
Bermartabat menatap cakrawala



Didotklasta, 28 Oktober 2010

(A)BIORITMIK (puisi)

Siklus susah tidur lagi. Sekalian saja 3 gelas kopi. Puyer-puyer Newport Arak Wangi. Linting-linting tembakau. Tahu asin terlalu asin. Tak ada sayur. Nasi jemek. Ingin bercumbu minimal 50 ribu bengsin saja 5 ribu takut dan malu. Bokek orang upahan. Upah diundur-undur. Bisnis komunikasi premium call. Masyarakat suarasuara. Orde katakata. Dari seks hingga negara. Tanpa makna. SMS dari gadis kusayang : sedang tertekan. SMS dari murid drama : latihan Rebo mau bawa criping ketela. SMS dari plonco seniman akademis platonis : mabok bae enak melankolis. SMS dari sana-sini : What's up What's up What's up : repetisi.
Televisi terengah-engah. Puisi-puisi tak tersudahi. Aku lagi hampa dan menekuk perut. Wedang tomat asam kurang gula. Gulanya habis. Waktu mekanis. What's up What's up What's up : repetisi. Apakah yang terjadi ? Tak ada ... Tak ada ... Besok pagi saja. What's up What's up What's up : repetisi.


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Friday, 23 October 2015

WAITING FOR THE PAST (puisi)

Crazy Horse (Dia Yang Berkuda Gila), pemimpin mashur suku
Oglala Lakota yang berjuang sampai akhir melawan penjajahan AS
mempertahankan tanah dan jalan hidup indian.
Rembulan padhang. Suku-suku di tengah baya nanti. Bersila di luar dangau dan wigwam.
Harum ...
Ubi bakar api sedang. Jika matangnya merata. Celup gula jawa tuak-tuak.
Untuk keabadian !
Sampai mati panjang umur. Menghadang kematian-kematian.

Manittou - Dewi Sri. Allah Abraham. Bapa - Bunda. Cinta. Perdamaian. Cinta. Adil merata. Perdamaian. Harus berjuang, ternyata ...

Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Rumput pemburu kawin dengan padi pertiwi. Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Bumbung tuak tak pernah ditelungkupkan. Setengah mabuk yang tafakur.
Siapa primitip ?
Banyak yang lebih beradab, dari hewan kota-kota. Demikian ilmu di sini. Makan sana ilmumu !

Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Cinta. Perdamaian. Cinta. Adil merata. Perdamaian. Harus berjuang, ternyata ... Demikian ilmu kerja.

Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Mabok, pagi selesai. Jatuh-bangun tiada selesai. Darah mengalir. Aliran darah menyelusup semak dan batu. Laut di mana; tak peduli.
Ufuk;
cukup jadi alasan,
untuk hidup.


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Thursday, 22 October 2015

LAGU UNTUK WOODY (Bob Dylan)

Salah satu lagu dalam album pertama Bob Dylan ini (Bob Dylan, 1962) adalah tribut untuk musisi folk balada Amerika Serikat Woody Guthrie yang karya-karyanya penuh dengan komentar sosial politik dan mengangkat kaum bawah - rakyat biasa - kelas pekerja. Meskipun liriknya berbeda, lagu ini memakai tune dari salah satu lagu Woody Guthrie, 1913 Massacre.

Woody Guthrie, musisi folk AS yang sangat sosial-politikal kerakyatan
Jauh jauh dari sini
Ku jauh ribuan mil dari rumah ini
Menapaki jalan panjang
Tempat manusia telah bertumbangan
Kulihat duniamu,
tentang orang-orang dan segala sesuatu
Ada kaum petani, kalangan jelata
Ada Pangeran-pangeran dan Raja-raja
Hoi Woody Guthrie
Kubikin tembang buatmu
Tentang dunia lama yang lucu
Dan kini masih saja ada
Nampak sakit, lapar, lelah dan berduka
Nampak sekarat, beban berat dipundaknya

Hoi Woody Guthrie

Friday, 9 October 2015

DIGDO PERGI KE JOGJA (tulisan pengantar pameran)

HOREEE!!! Lama tak jumpa, tahu-tahu Digdo bertunggal ria! Dulu kalau mampir dan melihat lukisan berjubel di rumah sempit itu aku sering mendorongnya untuk berpameran tunggal. Setidaknya memasang ‘Galeri Kontemporer The Digdos’ di depan rumah pas berjejer dengan ‘terima servis elektronik’ kakaknya. Dia cuma senyum ogah-ogahan berkaos singlet khusyuk menghitung hasil jualan telor sehari itu yang harus langsung disetor ke juragannya. Dan pembicaraan pun berganti gosip seputar senirupa lokal atau sok nyambung dengan gelegar senirupa nasional. Atau malah tak dinyana tetangga yang problem datang membawa anggur kolesom dan kamipun menggombalkan hal-hal lebih konyol lagi ditemani makanan kecil yang disuguhkan ibunya.
Aku kenal Digdo tahun 2008, ketika empat perupa Salatiga mengajakku membikin gebrakan di Surakarta. Bukan gebrakan pada dunia senirupa, tapi tepatnya tendangan di pantat kami sendiri untuk keluar sarang. Satu diantaranya ya Digdo ini. Sejak itu kami jadi berteman, apalagi dia suka pinjam hendikemku saat dapat order nyoting acara kawinan.
Kemudian muncul di kota kecil ini seorang pendekar Ancol. Digdo rutin memasok telor ke warung kelontongnya. “Ada pelukis baru pindah. Top!” lapornya. Pertemuan kami berujung pada rencana pameran trio menggebrak, sasaran : Jogjakarta. Ini sekitar tahun 2010.
Setelah mengirim proposal ke satu ruang pamer berbobot, memplipirkan dua keping cd karya pada dua koneksi yang berjanji akan mengkoneksikan ke tempat-tempat berbobot lainnya, rencana gebrakan ini tiada terasa melempem begitu saja. Warung dan lukisan Si Ancol kurang prospek lantas kembali ke Ancol. Aku dibawa angin sampai negri orang. Digdo tetap menekuni telor, melukis, nyoting kawinan, mungkin memimpikan internet murah berkecepatan tinggi plus membayangkan video kawinannya sendiri kelak kemudian hari, di Salatiga yang sama. Demikianlah waktu berlalu dalam status-status fesbuk … Dan tahu-tahu Imron Pradigdo berpameran tunggal. Di Jogja lagi!

Thursday, 8 October 2015

MAJIKAN-MAJIKAN PERANG (Bob Dylan)

Dari lagu Bob Dylan, Masters Of War dalam album Freewheelin' (1963)

Aksi anti perang oleh veteran (perang) Vietnam. "Kami tak sudi (lagi)
bertempur untuk perangnya Kaum Kaya." AS, 1970an.
Hallo majikan-majikan perang
Kau yang mencipta persenjataan
Kau yang merancang pesawat kematian
Kau yang membikin semua bom
Kau yang sembunyi di balik dinding-dinding
Kau yang mengelak di balik meja-meja

Ku hanya ingin kau tahu 
Aku dapat melihatmu menembus topeng itu
Kau yang tak pernah membangun apapun
Tapi menghancurkan apapun
Bermain-main dengan dunia dan hidupku
Seperti bermain dengan mainan-mainan kecilmu
Kau letakkan senjata di tanganku diam-diam
Dan berlari sejauh-jauhnya saat peluru melesat

Seperti Yudas syahdan,

Tuesday, 6 October 2015

MARI KITA!!! (puisi, konsep koreografi)

Konsep yang kubikin buat adikku dalam rangka lomba tari antar SMP se Salatiga dengan tema 'Revolusi Mental' :) 3 bulanan lalu > mentalmu itu lho. (Dan juara)

Tari berpasangan, campur tradisi – kontemporer (mungkin tambah kayak breakdance?) dengan narasi yang disampaikan secara gaya ngerap (dibawakan lipsinc bergantian / playback).
Kostumnya pakai topeng buto? Pakaian hitam-hitam untuk bagian luar, di dalam pakai atas merah dan bawah putih. Mahkota dari duit kertas (potokopian), atau kalung. Kembangkan sendiri.
Nanti pas 'Bagian 3' kostum hitam-hitam dicopot, juga mahkota / kalung dan topeng.

Bagian 1.
Gambaran kekacauan Indonesia

Indonesia
Indonesia
Sudah sekian lama
negri kita full problema
Jaman gila
Jaman gila
Kalau tak menggila
Tak dapat apa-apa
Korupsi merajalela
Dari petinggi ibukota
Sampai bawahan di desa-desa
Penjahat jadi pejabat
Penipu jualan ayat