Tuesday, 19 May 2015

CACA (sebuah racauan surealis triler erotik)


Tekanan Batin #28, bolpoin di kertas,
DidotKlasta, 2009.
Setelah cukup lama blog ini kuterlantarkan sebab aku sudah punya website yang keren dan kalau kau tak percaya buktikan sendiri di http://www.didotklasta.com akhirnya aku sadar bahwa. Berikut ini adalah racauanku terkini yang sebenarnya bahan lama tapi karena aku tak punya bahan baru maka.

Seperti biasa tentu saja, tivi-tivi memuakkan penuh dengan acara-acara memuakkan yang penuh dengan tokoh-tokoh memuakkan dari berbagai bidang kehidupan memuakkan yang sesungguhnya bidang-bidang itu belum tentu memang diperlukan, dan mereka sedang saling membesar-besarkan diri sendiri secara spektakular karikatural. Teror mematikannya dengan gelegak keinginan mematikan tokoh-tokoh itu sendiri. Bukan dengan memencet tombol off di batangan pengendali jarak jauh itu, tapi dengan menghantamkannya ke layar tivi. BLAST!!! Sunyi itu indah, ketika gegap-gempita adalah kumpulan tinja yang berceloteh tentang hal-hal tinja. Lampu terang ia matikan dan digantinya dengan bolam temaram ungu-biru syahdu, mungkin cocok dipakai untuk pencahayaan adegan erotis film khusus dewasa. Gorden putih terbuka. Bulan sedang purnama. Mereka berbaring-baring dengan posisi kepala menghadap jendela tanpa seks. Panorama bagus, meski ini lingkungan yang sesungguhnya bahkan lebih kejam dari yang nampak, yang juga sudah begitu kejam.

“Ngapain enaknya sekarang?” tanya CaCa.
“Nggg … tiduran saja,” jawab Teror.
“Aku lapar …” kata CaCa.
“Mmmm …” sahut Teror.
“Makan yok,” ajak CaCa.
“Malas,” jawab Teror.
“Ayo dong …” desak Caca.
“Segini larut ... Tadi kan sudah makan banyak. Nanti gembrot kamu. Tahu enggak? Kamu sebenarnya tidak lapar, tapi ingin makan. Itu napsu lho.”