Thursday, 31 December 2015

SUATU SISTIM BERNAMA SETYO NOVANTO (racauan)

Pada sistim yang senantiasa memunculkan monster rakus sangat berkuasa semacam Setyo Novanto Papa Minta Saham, ironisnya kita juga senantiasa berharap, bahkan meratap, akan munculnya ksatria.

Ya, ini sistim yang punya kemampuan melahirkan kebangsatan dan sekaligus kemanusiaan. Kelemahan sistim ini adalah; kebangsatan punya apa saja yang dibutuhkan untuk berkuasa. Terutama adalah kualitas kebangsatan itu sendiri. Sedang kemanusiaan sepanjang jaman terseok-seok karena hubungan kuasa-menguasai bertentangan dengan hakekat sifatnya.

Dan jaman pun bergerak terus makin maju, termasuk ilmu kebangsatan, meninggalkan ilmu kemanusiaan yang kebingungan, seakan tidak kompatibel dengan 'tuntutan jaman' yang digerakkan oleh kekuasaan.

Wednesday, 30 December 2015

BERBEDA-BEDA TAPI SAMA SAJA (racauan)

Warna Sari Jajanan Moderen Dalam Msyarakat Tradisional
Beberapa hari lalu saya menemukan suatu pemikiran cukup menarik di internet, yang mengetengahkan pertanyaan : kenapa kita lebih menekankan pada perbedaan? Kenapa kita lebih terobsesi dengan hal-hal perbedaan? Yang satu bersemboyan : perbedaan itu indah. Yang satunya berslogan : kamu berbeda maka kamu laknat. Bertolak-belakang, namun kedua-duanya sama-sama fokus pada perbedaan.

Banyak hal indah sungguh-sungguh muncul dari penganut indahnya perbedaan. Tapi menurut saya lebih banyak lagi hal luar biasa tidak bermutu muncul dari aliran laknat-melaknat lantaran beda. Mulai dari luar biasa bodohnya - setidaknya naif, hingga luar biasa sadis-barbarnya. Saya cenderung lebih percaya bahwa titik tolak hubungan antar manusia yang lebih asyik adalah : persamaan. Inilah sebabnya kenapa saya berhubungan dengan manusia lain. Karena sama-sama manusia.

Saya ingat sekali pada suatu hari delapan tahunan lalu mendapat peluang emas untuk kenal dengan seseorang yang cantik sekali. Obrolan-obrolan menyusul pertemuan pertama itu menjadi asyik karena kami sama-sama tertarik dengan ide-ide politik progresif, aktifitas bersama rakyat biasa pedesaan, kejawen ... sama-sama 'kesepian' ... sama-sama dalam suatu fase perkembangan kedewasaan yang kritikal ... Sampai kemudian kami sama-sama tertarik satu sama lain, lantas menikah - tak pakai lama.

Sunday, 27 December 2015

KAMPUNGNYA UNYIL (racauan)

Mengelu-elukan Super Hero. Didot Klasta
10 Nopember adalah hari pahlawan, dan pada hari pahlawan ini kabar-kabar berseliweran bahwa Sarwo Edi Wibowo akan dipahlawankan. Kok bisa? Mungkin sebab komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (Kopassus tempo dulu) ini patriot pembela bangsa dan negara. Ya, ada kudengar konon dia mengatakan pada Lik Permadi 'penyambung lidah Sukarno' (Sukarno sendiri adalah 'penyambung lidah rakyat', jadi bayangkan ....) bahwa 50 tahunan lalu 3 juta komunis dibunuh atas perintahnya. Ada kubaca pembasmian ini sebab komunis mengancam keselamatan bangsa dan negara lewat pemberontakan khianat sangat jahat bernama 'G-30-S/PKI'.

Thursday, 3 December 2015

ROMANSA SALATIGA - JAKARTA - TANPA KALUNGAN BUNGA (puisi, racauan)

Filem tahun 1981 karya Imam Tantowi.
Tiba juga. Di Jakarta kota. Ya ya ... Maha Kota ...
Senen ... Senen ... Ampat pagi lelampu suntuk. Mimpi-mimpi tertebas pedang ganda babak realita. Kuat tak kuat, menerima agenda-agenda kerja. Mata-mata aneka sorotnya, tak bisa bohong. Menyongsong pagi, adalah terpaksa. Jam-jam uang, adalah mandornya. Sorot-sorot sukses disambut kalungan bunga. Parkiran mobil Gambir. Lalu pergi. Ternyata dengan frustasi sepi sehari-hari. Pengalung bunga diupah. Lantas sarapan. Sambil memaki pengupah. Sayang masih dalam hati. Sisa upah untuk mengupah pengalung bunga di bawahnya. Dan seterusnya sistim tragis. Kami terlentang di emperan. Mencampakkan kalung-kalung. Menabur bunga kemana-mana. Antero konstruksi stelsel kemakmuran slogan. Yang nyatanya menyengsarakan. Dan bunga kami memang tak wangi. Tapi tetap menyengatkan aroma. Yang menyengat kebusukan.

Tiba juga. Di Jakarta kota. Ya ya ... Maha Kota ...
Sepanjang jalan-jalan lapang. Penggusuran, perampasan. Korporasi, instansi, rumah-rumah kaya. Dihubungkan stelsel kemakmuran slogan. Anak jalanan, gelandangan, mikrolet, buruh Orde, pembangunan, pipa sedot, kawat berduri. Demokrasi ironi. Birokrat, borjuasi. Kami ngebut. Pusat pusaran tong setan masyarakat.

Wednesday, 2 December 2015

(bukan cuma) TEORI NEO-DOMINO

Keep One Eye On Us
Elmaut pembunuhan berantai.
Ke sana ke mari. Dari babu nJelumpang nilep giwang. Hingga politik MNC farmasi di Ethiopia. Dari kisruh getho New York. Hingga moneyloundry perbankan Swiss. Dari blandong kayu mbacok polisi kayu. Hingga antar tuhan sembelih-sembelihan. Dari sapu bersih K5 kota-kota. Hingga konspirasi setan-setan kota-kota. Dari demokrasi gombal nasional. Hingga globalisasi gombal internasional. Dari manisan dan gorengan murahan, lugu Yu Karsiyem kontaminasi Gross Domestic Products, belasan adik-adik memenuhi puskesmas, tapi tak masuk selera para Kompas-Kompas, ini moral etik bisnis human error udik, tapi tak masuk evaluasi makronomi, majikan makronomi mengontrol rejim negri-negri, negri-negri memaksa dan menekan dan memaksa dan menekan Yu Karsiyem, sesambatnya : Tapi sakarin itu efisiensi ... Tapi msg itu menarik pembeli ... Dan apa komentar sodara ...  Sebab Sriatun sindrom kemunduran mental dan Ia buyungnya nomer 5 dari enam bersaudara?

Elmaut pembunuhan berantai.
Menguasai pembantaian dengan aman, ekonomis dan terjamin.
Kenapa kita berpikir ...
Itu penjual manisan dan gorengan ?

TAK PERNAH (puisi)

Mengecek
Pernahkah pegang sedan ?
Pernah, bukan punyaku.
Pernahkah pegang merek Jeguer ?
Belum, lihat di tivi.
Pernahkah sedan Jeguer mengepot pertigaan kampung, anak kampung main gledhekan, bersorak pada kekayaan hebat orang lain ?
Aku cemburu dan malu. Namun Malin Kundang punya modal dagang untuk melupakan Bundanya.

Breeeeemmm !!! Ciiiiit !!!
Sinetron keluar dari sedan secara anggun.
Menjungkitkan sunglass secara selebriti.
Melambai-lambai secara melodrama :
"Sayang ..."
Dari pelupuk matanya menetes air mata uang. Bergemerincing sepanjang jalan haru. Satu krincing, satu kampung terharu. Kampung-kampung menubruk, meraup-raup. Air mata uang keharuan. Terbentur layar tivi. Tak ada modal ... Tapi bisa bilang : "Ibunda ..."

Pernahkah ?


Didot Klasta Harimurti
Salatiga, pertengahan 2000an.

TANGGAL 29

Kami pernah punya tamu langganan. Pegawai lapangan BRI. Tugasnya merayu orang untuk berhutang. Dan tiap datang ia seperti sopir angkota dikejar target setoran, karena demikianlah kinerjanya diukur bossnya.


Si Gemuk datang selalu tersenyum.
Formulir permohonan, tanda tangan.
Selasa keluar duitnya; utang pada negara.
Sehari-harian ruang duduk keluarga ngenes.
Koran lama sesobek Bank Dunia.
Koran baru tak sepenting lauk-pauk.
Makan siang dengan berita cuaca; resesi.
Bagaimana besok ?
Sedang orang ahli bilang; ratusan trilyun kita berhutang.

Mengingat Ibu yang tekun melacak sampai 25 perak, apa pemimpin kita sudah gila ?
Bapak berkata; iya.
Dan kami seperti tetangga seumumnya.
Memakani satir rakyat.
Bersama menu rutin yang menusuk perasaan.
Jika tamu kaya bertamu, meja makan disembunyikan.


Didot Klasta Harimurti
Salatiga, pertengahan 2000an.

Keterangan.
ngenes : (bahasa jawa; menimbulkan iba)

Monday, 23 November 2015

SALAH SATU KEAJAIBAN DUNIA BERNAMA MINUMAN KERAS (kenangan terindah)

Peminum Berat Kehidupan, DidotKlasta 2015
Boleh dikata hanya ada dua liburan sekolah masa kecilku yang paling mengesankan dibanding total semua liburan sekolahku mulai dari SD sampai SMA. Pertama adalah liburan kenaikan kelas dari kelas 2 naik ke kelas 3 SMP (Negeri 1 Salatiga, boleh dikata secara umum merupakan pangkalannya anak-anak paling pandai di kota ini). Mengesankan sebab pada liburan inilah untuk pertama kalinya aku tersayat sembilu cinta monyet yang meraja tak berkesudahan pada seorang dara T dari kota S 50an kilo dari kota kecilku tercinta Salatiga. Ceritanya dia berlibur ke rumah tantenya, Y - istri seorang pelaut jarang pulang, persis di belakang rumahku. Kita semua pasti tak asinglah dengan proses kimiawinya … Sekian kali berpapasan, bertemu pandang, caranya menyuapi keponakannya yang menarik hati, bando dan blues merah berenda putih yang tak lekang waktu, langkah kaki ‘putri solo’nya yang serasa tak menyentuh tanah, pesona anggukan halusnya padaku saat melintas samping rumah sementara aku lagi asyik bermain seruling, dan sekali dua mengintipnya dari lubang ventilasi sedang duduk manis nonton tivi … Maka monyet-monyet lucu berwarna ungu nan usil merepotkan itu pun bersemilah di hatiku. (Keseluruhan jagad cinta monyet pada Dara T ini memadat dalam satu puisiku disini http://kotbahdidotklasta.blogspot.com.au/2012/01/mata-indah-mata-sapi.html

Sunday, 15 November 2015

BERJALAN DALAM TIDUR #1 (racauan)

SleepWalking For Nothing, didotklasta
Ketika malam tak lagi mengandung ratap jengkerik, air pasang, rapat persekongkolan, rembulan dan getaran erotis, melainkan telah dikendalikan sistim hari-hari yang sugestinya akan kejahatan paling otomat dan mekanis ... Tak ada kecemasan lebih mencemaskan dari situasi terkini sebuah kamar yang merupakan salah satu dari seribu kamar yang sama dalam sebuah gedung instansi misterius; kegelapan sistim rahasianya sepekat hati manusia kontemporer dan usia sistim berkelanjutannya setua niat-niat busuk adam-hawa.

Itu malam yang tak mungkin dikenali di atas ambang sadar. Mereka tak mungkin bisa melihatnya, karena mereka terjaga selalu oleh penyangkalan terhadap segala ketidakmasukakalan yang mereka lakukan dalam keterlenaan. Sesungguhnyalah itu adalah malam 1001 malam yang melampaui petualangan Sinbad.

Mereka tak bisa, tapi Ia bisa … Sebab Ia; Teror, adalah insomnia ataupun tidur yang berjalan-jalan dengan bentuk menyerupai motor besar tanpa suara tanpa pengendara tanpa bahan bakar bergerak sendiri dengan telanjang dengan alat-alat kelamin sebagai asesoris menghiasai bodi full modifikasi dan alat-alat kelamin ini saling memperkosa secara stabil dan kontinyu seperti keluar-masuknya seker.

TUHAN(NYA) YANG (PUNYA) KUASA (puisi)

Agama Adalah Senjata Kaum Kaya
Membuka Kitab. Bosan. Ditutup lagi. Mabok. Nabi-Nabi berjenggot. Tinggi dan gemuk. Membayangkan bar-bar di luar. Stadiun Hamburg. Okelah ... Lapau-lapau Kaban Jahe lumayan. Vandalisme. Hooligan. Pencerahan. Sumpek ritus.  Mengikis kekolotan. Menyembah kolot-kolot moderen. Lain dengan lapau-lapau dunia tiga. Soal miskin saja. Dan yang kaya di pusat-pusat dunia tiga. Memobilisir agama dan kitabnya; bahwa miskin - kaya itu : maya. Mari sama-sama. Rayakan globalmania !

Sial ... Nabi Musa jika menentang kini. Harus menyibakkan laut-laut lebih merah lagi. Apa tongkatnya masih sakti ? Sedang komputer telah mendefrag tuhan. Yahwe cuma x-file dalam arsip CIA. Oprasi bius radikalisme dunia 3. Nabi-nabi baru ke tanah utopi naik Star Cruiser. Jetset internasional di atas Queen Elizabeth. Chariot firaun adalah Titanic slalu rekoveri. Orang tertindas kuli kamar mesin. Orang kaya menikmati resital-resital klasik.

Monday, 9 November 2015

PUPUTAN KABUDAYAN (naskah pidato)

Tulisan ini adalah naskah pidato yang dipesan adik saya dan teman-temannya untuk perayaan kelahiran sanggar seni tari berbasis komunitas SANGGAR TIRTA di desa Tirto dekat Parangtritis kab. Bantul DIY, dulu awal 2000an pas mereka masih jadi mahasiswa gress di ISI Jogjakarta jurusan tari. Seingatku, Ibu juga membikin naskah untuk pidato yang sama. Aku lupa apakah kami bikin sendiri-sendiri, ataukah kolaborasi. Kalau bikin sendiri-sendiri maka aku juga lupa pidato mana yang dipakai. Semoga yang ini :) sorry Mami, you're the best forever.

Bung Karno, proklamator kemerdekaan Indonesia sedang
berpidato.
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Kakakku, Adikku, Sodara-sodaraku terkasih sebangsa setanah air warga pedukuhan. Sugeng Ndalu. Salam Sejahtera. Merdeka !
Puja-puji dan ucapan syukur kita panjatkan ke hadapan Tuhan, atas segala berkat, rahmat, dan kuasaNya yang telah mengayomi dan meridhoi keindahan malam ini. Di mana kita dapat berkumpul, berbagi kegembiraan serta kebahagiaan bersama, dalam acara istimewa: hajat rakyat bertajuk : "PUPUTAN KABUDAYAN", untuk menyambut dan merayakan kelahiran bayi kesayangan. Yaitu bayi tunas olah kagunan kreasi seni yang mengejawantah dari haribaannya Bunda Pertiwi, Sang Bunda Budaya Sejati. Dan telah kita namakan bayi ini :
SANGGAR TIRTA
(mohon tepuk-tangan yang meriah!)

ALI, HIKAYAT 'PREMAN' YANG MASUK SORGA (kenangan terindah)

Sebagian anak-anak Rumah Bambu
Mungkin karena makin merasa tua, kesepian dan hidup hampa tiada arti, bersama sejumlah teman mahasiswa sebuah universitas di Salatiga aku menginisiasi kegiatan belajar luar sekolah bagi anak-anak rakyat jelata di sekitar kampungku Jagalan, itu awal 2000an. Inisiatif ini disambut sangat antusias oleh anak-anak dan orang tua mereka. Sebab gratisan? Menyimpulkan ‘gratisan’ sebagai kunci animo rakyat adalah penyederhanaan ceroboh dan menghina. Beberapa orang tua bahkan menemuiku untuk menanyakan tentang uang yang bisa mereka kontribusikan dengan alasan kegiatan seperti ini tentu perlu biaya. Mungkin saja keinginan untuk bisa mengakses sebuah media belajar yang ‘dekat’ dengan kehidupan mereka, bahkan bagian organik dari keseharian mereka, adalah dorongan yang bisa jadi lebih utama. Mungkin ini sekedar bukti tentang menariknya ‘belajar’ dan tidak menariknya ‘sekolah’, serta fakta kurangnya media belajar luar sekolah yang terjangkau. ‘Terjangkau’ dalam segala pengertiannya.

Bagai jamur-jamur polos lucu di musim hujan, dalam waktu singkat peserta bertambah banyak. Tak hanya anak yang tinggal di Jagalan, namun juga melebar sampai ke dusun Sukoharjo, Pamot dan Tugu. Beberapa pihak pun kemudian tergerak membantu. Temanku pegawai bank top di ibukota mengirimkan uang seratus ribu, temanku yang aktif dalam organisasi yang tak kumengerti

Tuesday, 3 November 2015

AKU ADALAH KEBUSUKAN (puisi, racauan)

Puisi yang saya bacakan saat pembukaan pameran saya 'THEY KILLED THEM', pembasmian komunis di Indonesia 1965, seri ketiga di Moores Contemporary Art Gallery, Fremantle Perth Australia Jumat 16 Januari 2015. Penampilan ini merupakan kolaborasi dengan SinLex electrosoundmachine. Poto karya silahkan ditengok di http://www.didotklasta.com/work-karya/#/art-projects-on-65/

Aku datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Kedalaman relung-relung dingin, lembab, busuk … hati manusiamu. Aku menggerogoti jiwamu. Bercampur darah hitam terbakar merah. Menggelegak … Berbuih … Mendidih … Berkobar ... Panas menjalari pelosok tubuhmu. Jadi gumpal-gumpal api di kepalan tangan-tanganmu … Angkara

Aku datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Menjelma orang-orang bermata buas. Di atas truk-truk hitam tak dikenal dengan geram mesin bagai seringai mimpi buruk terjaga nanap. Mendatangi mereka di tengah malam jahanam. Berangkat dalam diam menuju ide-ide kekerasan di kepalamu. Dan mereka berdoa pada tuhan-tuhannya. Antara hidup dan mati dan hidup dan mati atau hidup atau mati atau hidup atau mati. Dan aku lebih tuhan dari tuhan. Aku … Eksekusi

SEBATANG POHON (tulisan pengantar pameran)

Tulisan pengantar untuk pameran senirupa dalam Festival Mata Air 4 ½ 2010.

Syahdan ada lomba naskah drama bertema ‘KDRT’. Ada lagi buku antologi puisi ‘lumpur Lapindo’. Ada pula album campur sari koplo all stars ‘Contrenglah Si Gembur!’. Dan ini kali ada pameran seni rupa ‘lingkungan hidup’ dalam Festival Mata Air 4 ½ di Kampung Seni Lerep Ungaran yang diselenggarakan oleh komunitas aktifis pelestarian lingkungan Salatiga, Tanam Untuk Kehidupan.
Ulasan kuratorial tekhnis merupa-ria bukan kompetensi saya, maka tulisan ini sekedar corat-coret alakadarnya yang mencoba mengantar apresiasi publik lewat sorotan fenomena ‘karya (fiksi) dalam rangka’, khususnya bidang seni rupa dan hubungannya dengan fakta dari issu yang di angkat.

Pernah dalam sebuah diskusi sekenanya muncul sodoran (yang masih perlu diuji validitasnya); “Visualisasi masalah lingkungan yang cenderung menampilkan obyek/tema seputar pohon” Debat pun terjadi. Sini berpendapat bahwa wilayah lingkungan hidup sangat luas dan kompleks baik realitas maupun interpretasinya, maka karya bertema lingkungan hidup mestinya juga tidak ‘itu-itu saja’. Sana berpendapat persoalan lingkungan adalah persoalan degradasi kondisi alam dan pohon adalah penanda paling signifikan dari alam, selain itu pilihan obyek/tema seputar pohon juga sangat komunikatif bagi apresiator ‘awam’.

Monday, 2 November 2015

KOTA OXFORD (Bob Dylan)

Dari album Freewheelin' (1963)

Oxford ... Kota Oxford
Setiap orang menundukkan kepala
Matahari tak menyinari tanahnya
Tidak di Oxford kota

Ia pergi ke sana
Senjata dan gerombolan mengikutinya
Semuanya sebab wajahnya coklat
Minggat kau, minggat !

Kota Oxford di tikungan
Ia mau masuk, di pintu tertulis larangan
Semua sebab warna kulitnya
Apa yang kau pikir tentang itu Saudara ?

Sunday, 1 November 2015

AKU DAN PEMILU, SEJAUH INI (kenangan terindah)

Dari mulut gang ke Asrama yang diapit oleh pagar tembok tua gedung SKP (Sekolah Ketrampilan Putri) dan warung rujak – lotek Bu K, aku melihat T nampak gagah penuh energi dengan jaket hijau doreng kuning hitam dalam derap langkah barisan simpatisan PPP dari arah kolam renang Kalitaman naik menuju Jalan Pemuda sambil menyanyikan lagu Pring Reketeg Gunung Gamping Gempal, sementara di lapangan bola Tamansari berseberangan dengan bundaran tugu jam seorang tentara muda mengisi magasin senapan otomatisnya di dekat pohon kamboja. Demikian dua kelebatan memori samar tentang pemilu masa kecilku di kota kecilku Salatiga.

T waktu itu sudah menjadi remaja setengah pemuda. Si hitam wajah jawa anak dari keluarga miskin di kampung Krajan, bapaknya penarik becak, kakak tertuanya penarik becak, kakaknya yang nomer dua penarik becak, dia sendiri sebelum menjadi pelatih tenis top adalah penjaga bola, namun aku lupa apakah sebelum jadi penjaga bola dia juga menarik becak. Aku mengenal T sebab dia melatih tenis di lapangan yang sama dengan tempat Bapak main tenis. Tak ada orang yang tidak kagum padanya. Tak cuma dengan teknik permainannya namun juga dengan gayanya yang sangat ‘flamboyan-stylist’. Sedang siapa tentara muda itu aku tak tahu. Yang kuingat situasi pemilu-pemilu dimasa kecilku memang selalu terkesan panas, setidaknya menegangkan. Dan bicara tentang tentara,

DARI BOB DYLAN, TENTANG DR. KING, GANDHI, YESUS HINGGA JUTAAN TAK BERNAMA

Berikut ini renungan ringan saya yang jadi pengiring pameran seri ketiga dari projek seni saya mengenai pembasmian komunis Indonesia; THEY KILLED THEM di Moores Building Contemporary Art Gallery, Fremantle Western Australia Januari - Februari 2015. Poto karya silahkan ditengok di http://www.didotklasta.com/art-projects-on-65/

Salah satu elemen karya instalasi They Killed Them, didot klasta
They Killed Them adalah karya seri ketiga dari Project 65, yaitu projek seni saya tentang pembasmian kaum komunis dan penghancuran gerakan politik kerakyatan Indonesia di tahun 1965. Sebagian orang yang prihatin menyebut peristiwa ini Tragedi 65. Sebagian yang lain meyakini bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi itu adalah konsekuensi dari kewajiban suci membela tuhan dari ancaman kaum ateis penuh dosa. Sebagian yang lain lagi dengan bangga mengesahkan cerita tentang tindakan patriotik demi keselamatan dan kejayaan Negara. Sebagian besar orang termasuk masyarakat internasional menganggap bahwa aib kemanusiaan ini tak pernah terjadi. Dan segelintir elit politik ekonomi global menyatakan dengan antusias, “Perubahan kecil ini menguntungkan kita”.

Kotak Wasiat adalah karya seri pertama saya yang membidik aspek sejarah dari Tragedi 65. Sejarah adalah cermin kolektif untuk melihat diri kita sebagai bangsa. Ketika satu cermin sangat vital (sebab peristiwa ini merubah total drastis fundamental Indonesia) ini gelap, maka kita tak mengenali siapa kita sesungguhnya. Kita tak tahu dari mana berasal dan hendak kemana menuju. Karya instalasi ini dipamerkan di Tembi Rumah Budaya, Jogjakarta Indonesia pada tahun 2012.

Saturday, 31 October 2015

AKU, MEMBACA DAN MENULIS (kenangan terindah)

Aku suka menggambar sejak sebelum masuk SD, itu awal 70an. Aku suka berteater sejak masuk kelompok teater di kampus, itu setelah setahun aku jadi mahasiswa; akhir 80an. Aku suka bermusik sejak mulai belajar main gitar, itu juga akhir 80an. Dan sejak kapan aku suka menulis?

Aku putuskan saja bahwa awal kesukaanku menulis adalah ketika aku mulai menulis puisi dengan cukup serius. Sebelumnya aku lebih dahulu suka membaca puisi yang ada di majalah Kawanku dan Hai. Selain itu aku suka membaca cerita pendek, cerita bergambar, artikel pengetahuan populer hingga berita, khususnya olah raga. Melengkapi majalah Kawanku, Hai dan Bobo, di rumah masa kecilku dapat dikatakan ada seribu satu macam bacaan; Album Cerita Ternama, Kuncung, aneka komik silat dan super hero, Donal Bebek, Eppo, serial pengalaman Dr. Karl May, majalah bulanan Korpri – Krida, aneka majalah ‘wanita’, buku-buku inpres untuk perpustakaan sekolah, Api Di Bukit Menoreh dan koran Kompas serta Suara Karya.

Wednesday, 28 October 2015

UNCOMFORTABLE NUMB #5

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam videoklip Comfortably Numb, Pink Floyd
(V)

Seekor sapi gadhuhan.
Satu anaknya.
Kemarau panjang.
Rumput pembangunan; asset.
Padang rumput, rimbun tiang pancang.
Kakek pulang ngarit; hampa.
Memandang kandang, dibalas pandang; hampa.
Uang yang tua, lelah, kumal, begitu-begitu saja, tambah tak jelas keluaran mana.
Seperti kemiskinan, sendirian, tambah lagi iklim; tak kenal pemihakan.
Sang Kakek ke pasar.
Lohor-lohor.
Beli jerami dan komboran, jalan kaki.
Disrempet bis AKDP.

Sapi dan anak sapi menanti.
Lumayan tahu perjuangan kemiskinan.
Tak tahu bahwa baru saja ada darahnya.
Sapi dan anak sapi menanti.
Menjaga rumah.
Bersama perempuan tua dan anaknya janda.
Memandang nangka dan daun nangka.
Bersama matahari angslup.
Campur sari dan berita Capres menipu sana-sini.
Ada waktu yang melesat dari sejarah.

Wah … Rasanya tak ada negara …
Begitu kata sapi.
Enaknyaaa.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #4

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(IV)

Ayunan.
Berayun-ayun sendiri peduli sunyi.
Adalah puisi.
Tak butuh publikasi.
Onani ?
Bukan. Ini otonomi.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #3

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(III)

Di kulkas tiga pintu orang-orang penghisap freon.
Ada hati transaksi harga tinggi.
Yang membeku.
Tahan lama.
Jika dimakan.
Dingin, tak berasa.
Sedang orang-orang miskin punya tungku.
Menyate hati sendiri.
Lapar tak bermodal.
Setengah matang sudah dimakan.
Tak sabar, lapar.
Panas.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #2

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(II)

Kini sendiri.
Nanti apalagi tambah lagi.
Kawan dekat pergi.
Kawan jauh terlupakan dan melupakan.
Lawan-lawan; bukan kawan.
Lain orang terserah lu-lu, gue-gue.
Kenyataan adalah pasar impersonal.
Keadaan adalah pengasingan.
Makin miskinlah pula.
Serupa anjing lapar tidur menahan lapar di kaki sofa dunia tiga; mesti dienak-enakkan.
Dalam semacam mimpi kami berjumpa.
Manusia tanpa otak.
Dan anjing mesinnya.
Menghitung waktu.
Tanpa tujuan.
Aku menjadi mesin kasir.
Tolooong …!
Suaraku ditelan suara uang.
Uangnya milik pengupah tukang kasir.
Aktu tak didengar dan tak bisa mendengar.

DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

UNCOMFORTABLE NUMB #1

Untuk : kontemplasi pink floyd, mengorganisir kekacauan, tetap saja kacau

Caption adegan dalam video klip Comfortably Numb, Pink Floyd
(I)

Membayangkan hari-hari terakhir terindah di beranda rumah anti IMB anti keluarga nikah akad sertifikat dan tuan-tuan rumah telah lama mati;
Secangkir limbah nyata.
Sebatang kanker nyata.
Selayang pandang arah Barat.
Matahari uzur asing wajahnya ternyata.

Membakar setumpuk koran di halaman belakang.
Baunya sampai ke sini.
Kremasi informasi.
Berita-berita penindasan, pemenjaraan, penelikungan bahkan pembebasan.
Sistim kekerasan.
Struktur makan-memakan.
Keadaan timpang.
Dimapankan.
Rejim tentram.
Dalam kerilekan yang terpaksa-paksa;
tercapaikah jadi orang merdeka ?

Tidak !
Jika berpikir nanti.
Iya !
Jika menganggap sekarang juga.
Mulainya dari benak kita.
Terbang melayang naik khayalan.
Hukum grafitasinya pikiran.
Perjalanannya kesadaran.


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Tuesday, 27 October 2015

JONI ON LINE (puisi)


On line
Simpang-siur posting
Dari hanya main-main
Hingga lebih dari main-main
Iklan membesarkan kontol
Peluang kaya-raya tanpa bekerja
Perang proganda dogma-dogma
Mencari cinta-cinta
Kontroversi
Kehidupan Kehidupan
Kematian Kematian
Pelarian Pelarian
Keterasingan Keterasingan
Simulasi Pemayaan
Kebebasan
Dunia gempita dalam sekotak monitor belaka
Tagihan sekian ribu
Cetingnya sekian dulu
Sampai ketemu lagi di next moment semu
Pulang deh
Sampaikan pada kenyataan
Yang dihiasi tawa dan dilumuri tangisan
Simultan
Di pinggir-pinggir Grand kenyataan
Lugu, dungu, gatekh, tempe
Tak becus internet
Jadi data internet
Situsnya www.mayoritasjelatamerana.com
Dan siapakah web mister-nya?


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Sunday, 25 October 2015

BUKAN CINTA LAGI (puisi, racauan)

Versi Mingggu malam 25 Oktober 2015 bersama The Best of Acid Jazz dan segelas dua anggur merah. Sekarang daya-daya puitik-ku seperti rongsokan yang tertimbun di dasar sumur kering dan aku berusaha meraihnya dengan pengait yang tak cukup panjang. Aku ingin memetiknya dari matahari, tapi matahari milik kaum muda progresif cakep atau kaum tua establish. Aku perlu rongsokan.


Waktu itu di bawah pohon Mlinjo tua setua revolusi tak kunjung tiba ... Kau eluskan sekian angin malam yang membangun sarang di urai sepunggung hitam berkilau gadis sunsilk rambutmu, pada bibirku yang macam kehilangan semilyar puting ibu. Sedang apa kita ini? Tanyamu yang tak pada siapa. Kemesraan ini ... Seakan bukan lagi mengaso di Bukit Cinta (dulu enak buat pacaran, desa Kebondowo kec. Banyubiru kab. Semarang Jawa Tengah). Sementara gedung-gedung pencakar langit metropol sudah sedang memberhala dan gubuk suburban dihajar banjir metropol yang membersihkan kaum miskin metropol ... Sedang apa kita ini?
Aku ngungun dalam ruapan tembakau Boyolali yang membercakkan nikotin serupa ludah buruh-buruh tani Musuk (sebuah kecamatan di kab. Boyolali Jawa Tengah) di kepahitan paru-paruku dan dua tiga batuk terlempar sampai malam diskusi mahasiswa tanpa ujung di perguruan tinggi itu.
Entah ... Sini bahumu, biar Si Entah ini boleh gratis menyandar kuyu ... Dan Si Entah ini yang dari bulak ke bulak diantuk-antuk jalan batu berdarah kaki pemakan jagung demi atau sebab bisu gunung Merbabu oleh dengung pemintal Juragan Lasak memamah entah kapan pasti sampai dusun tertinggi menggelinding untuk tak perlu berarti ke mana saja dengusmu hangat perempuan mengajak main petak-umpet.

CINTA TINGKAT KAYU BAKAR (puisi)

buat yang mengelilingi api unggun

Dan saat esok semua terbangun
Memandang sisa asap
Berkepul dari arang dan abu
Semoga menjadi paham
Bahwa yang semalam adalah
kebahagiaan
Dan untuk paham bahwa aku kayu kalian,
tak penting


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Saturday, 24 October 2015

TUNGGU ILHAM (puisi)

Datanglah ...
Kutunggu kau, kutunggu.
Di sini kutata ...
Stoples-stoples hangat masih hidangan rinduku.
Padamu kekasih ...
Dalam pasungan atau kebebasan dalam produksi atau penciptaan.
Kau suka mampir-mampir memang.
Banyak tempat menawanmu.
Namun jangan berlama membui.
Buncah harapku, selebar kuaknya nganga tirani.
Ingin benar, membuarkan semua cakap.
Mendekam sekarang kun fa ya kun.
Menunggu kau bersama lembar-lembar kitab penjadian.
Biar capai pemenuhan.
Masalah-masalah kebebasan.
Dan ...
Juga segala ketidakpernahpenuhannya.


DidotKlasta
Salatiga, awal 90an

BELENGGU! (puisi, naskah)

Naskah untuk presentasi hasil workshop teater pendidikan kritis di Kampung Krajan Salatiga dengan partisipan anggota Teater Angka Nol Kampung Krajan dan Teater Kalangan serta difasilitasi oleh DidotKlasta Harimurti, Direktur Kalangan Kultura Media Salatiga.


Belenggu!
Ada yang meringkus tubuhku kaku ... Ada yang mencekik leherku sumpeg ... Ada yang membekap mulutku tak bisa bicara ... Ada yang menyumbat telingaku tak bisa dengar ... Ada yang menutup mataku tak bisa lihat ... Ada yang mengubur hatiku tak bisa merasa ... Ada yang memborgol otakku tak bisa berpikir ... Ada yang menodongku dengan remote control ... Ada yang menyirep kesadaranku ... Ada yang mengkerangkeng kemanusiaanku ...

Belenggu!
Ada penjara dimana-mana ... Penjara di sekolah-sekolah ... Penjara di kantor-kantor ... Penjara di super market ... Penjara di televisi ... Penjara di upacara resmi ... Penjara di pabrik-pabrik ... Penjara di nasehat-nasehat ... Penjara di sidang-sidang ... Penjara di kotbah-kotbah ... Penjara di pidato-pidato ... Penjara di rumah ... Penjara di kamar ... Penjara di buku harian ... Penjara di doa-doa ... Penjara-Penjara-Penjara kemanusiaanku ...

Belenggu!
Ada yang bengong hidup tanpa arti ... Ada yang pasrah jadi pecundang sampai mati ... Ada yang tertawa sambil mengingkari kemanusiaannya ... Ada yang lalu terjaga, mempertanyakan dan bangkit ... Membongkar ... Meretas ... Menerobos ... Menjebol ... Mendobrak
Ini hidup cuma sekali
Membusuk dalam penjara-penjara
Atau jadi manusia
Bermartabat menatap cakrawala



Didotklasta, 28 Oktober 2010

(A)BIORITMIK (puisi)

Siklus susah tidur lagi. Sekalian saja 3 gelas kopi. Puyer-puyer Newport Arak Wangi. Linting-linting tembakau. Tahu asin terlalu asin. Tak ada sayur. Nasi jemek. Ingin bercumbu minimal 50 ribu bengsin saja 5 ribu takut dan malu. Bokek orang upahan. Upah diundur-undur. Bisnis komunikasi premium call. Masyarakat suarasuara. Orde katakata. Dari seks hingga negara. Tanpa makna. SMS dari gadis kusayang : sedang tertekan. SMS dari murid drama : latihan Rebo mau bawa criping ketela. SMS dari plonco seniman akademis platonis : mabok bae enak melankolis. SMS dari sana-sini : What's up What's up What's up : repetisi.
Televisi terengah-engah. Puisi-puisi tak tersudahi. Aku lagi hampa dan menekuk perut. Wedang tomat asam kurang gula. Gulanya habis. Waktu mekanis. What's up What's up What's up : repetisi. Apakah yang terjadi ? Tak ada ... Tak ada ... Besok pagi saja. What's up What's up What's up : repetisi.


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Friday, 23 October 2015

WAITING FOR THE PAST (puisi)

Crazy Horse (Dia Yang Berkuda Gila), pemimpin mashur suku
Oglala Lakota yang berjuang sampai akhir melawan penjajahan AS
mempertahankan tanah dan jalan hidup indian.
Rembulan padhang. Suku-suku di tengah baya nanti. Bersila di luar dangau dan wigwam.
Harum ...
Ubi bakar api sedang. Jika matangnya merata. Celup gula jawa tuak-tuak.
Untuk keabadian !
Sampai mati panjang umur. Menghadang kematian-kematian.

Manittou - Dewi Sri. Allah Abraham. Bapa - Bunda. Cinta. Perdamaian. Cinta. Adil merata. Perdamaian. Harus berjuang, ternyata ...

Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Rumput pemburu kawin dengan padi pertiwi. Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Bumbung tuak tak pernah ditelungkupkan. Setengah mabuk yang tafakur.
Siapa primitip ?
Banyak yang lebih beradab, dari hewan kota-kota. Demikian ilmu di sini. Makan sana ilmumu !

Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Cinta. Perdamaian. Cinta. Adil merata. Perdamaian. Harus berjuang, ternyata ... Demikian ilmu kerja.

Air terus mengalir. Mani menyelusup semak dan batu. Mabok, pagi selesai. Jatuh-bangun tiada selesai. Darah mengalir. Aliran darah menyelusup semak dan batu. Laut di mana; tak peduli.
Ufuk;
cukup jadi alasan,
untuk hidup.


DidotKlasta
Salatiga, pertengahan 2000an

Thursday, 22 October 2015

LAGU UNTUK WOODY (Bob Dylan)

Salah satu lagu dalam album pertama Bob Dylan ini (Bob Dylan, 1962) adalah tribut untuk musisi folk balada Amerika Serikat Woody Guthrie yang karya-karyanya penuh dengan komentar sosial politik dan mengangkat kaum bawah - rakyat biasa - kelas pekerja. Meskipun liriknya berbeda, lagu ini memakai tune dari salah satu lagu Woody Guthrie, 1913 Massacre.

Woody Guthrie, musisi folk AS yang sangat sosial-politikal kerakyatan
Jauh jauh dari sini
Ku jauh ribuan mil dari rumah ini
Menapaki jalan panjang
Tempat manusia telah bertumbangan
Kulihat duniamu,
tentang orang-orang dan segala sesuatu
Ada kaum petani, kalangan jelata
Ada Pangeran-pangeran dan Raja-raja
Hoi Woody Guthrie
Kubikin tembang buatmu
Tentang dunia lama yang lucu
Dan kini masih saja ada
Nampak sakit, lapar, lelah dan berduka
Nampak sekarat, beban berat dipundaknya

Hoi Woody Guthrie

Friday, 9 October 2015

DIGDO PERGI KE JOGJA (tulisan pengantar pameran)

HOREEE!!! Lama tak jumpa, tahu-tahu Digdo bertunggal ria! Dulu kalau mampir dan melihat lukisan berjubel di rumah sempit itu aku sering mendorongnya untuk berpameran tunggal. Setidaknya memasang ‘Galeri Kontemporer The Digdos’ di depan rumah pas berjejer dengan ‘terima servis elektronik’ kakaknya. Dia cuma senyum ogah-ogahan berkaos singlet khusyuk menghitung hasil jualan telor sehari itu yang harus langsung disetor ke juragannya. Dan pembicaraan pun berganti gosip seputar senirupa lokal atau sok nyambung dengan gelegar senirupa nasional. Atau malah tak dinyana tetangga yang problem datang membawa anggur kolesom dan kamipun menggombalkan hal-hal lebih konyol lagi ditemani makanan kecil yang disuguhkan ibunya.
Aku kenal Digdo tahun 2008, ketika empat perupa Salatiga mengajakku membikin gebrakan di Surakarta. Bukan gebrakan pada dunia senirupa, tapi tepatnya tendangan di pantat kami sendiri untuk keluar sarang. Satu diantaranya ya Digdo ini. Sejak itu kami jadi berteman, apalagi dia suka pinjam hendikemku saat dapat order nyoting acara kawinan.
Kemudian muncul di kota kecil ini seorang pendekar Ancol. Digdo rutin memasok telor ke warung kelontongnya. “Ada pelukis baru pindah. Top!” lapornya. Pertemuan kami berujung pada rencana pameran trio menggebrak, sasaran : Jogjakarta. Ini sekitar tahun 2010.
Setelah mengirim proposal ke satu ruang pamer berbobot, memplipirkan dua keping cd karya pada dua koneksi yang berjanji akan mengkoneksikan ke tempat-tempat berbobot lainnya, rencana gebrakan ini tiada terasa melempem begitu saja. Warung dan lukisan Si Ancol kurang prospek lantas kembali ke Ancol. Aku dibawa angin sampai negri orang. Digdo tetap menekuni telor, melukis, nyoting kawinan, mungkin memimpikan internet murah berkecepatan tinggi plus membayangkan video kawinannya sendiri kelak kemudian hari, di Salatiga yang sama. Demikianlah waktu berlalu dalam status-status fesbuk … Dan tahu-tahu Imron Pradigdo berpameran tunggal. Di Jogja lagi!

Thursday, 8 October 2015

MAJIKAN-MAJIKAN PERANG (Bob Dylan)

Dari lagu Bob Dylan, Masters Of War dalam album Freewheelin' (1963)

Aksi anti perang oleh veteran (perang) Vietnam. "Kami tak sudi (lagi)
bertempur untuk perangnya Kaum Kaya." AS, 1970an.
Hallo majikan-majikan perang
Kau yang mencipta persenjataan
Kau yang merancang pesawat kematian
Kau yang membikin semua bom
Kau yang sembunyi di balik dinding-dinding
Kau yang mengelak di balik meja-meja

Ku hanya ingin kau tahu 
Aku dapat melihatmu menembus topeng itu
Kau yang tak pernah membangun apapun
Tapi menghancurkan apapun
Bermain-main dengan dunia dan hidupku
Seperti bermain dengan mainan-mainan kecilmu
Kau letakkan senjata di tanganku diam-diam
Dan berlari sejauh-jauhnya saat peluru melesat

Seperti Yudas syahdan,

Tuesday, 6 October 2015

MARI KITA!!! (puisi, konsep koreografi)

Konsep yang kubikin buat adikku dalam rangka lomba tari antar SMP se Salatiga dengan tema 'Revolusi Mental' :) 3 bulanan lalu > mentalmu itu lho. (Dan juara)

Tari berpasangan, campur tradisi – kontemporer (mungkin tambah kayak breakdance?) dengan narasi yang disampaikan secara gaya ngerap (dibawakan lipsinc bergantian / playback).
Kostumnya pakai topeng buto? Pakaian hitam-hitam untuk bagian luar, di dalam pakai atas merah dan bawah putih. Mahkota dari duit kertas (potokopian), atau kalung. Kembangkan sendiri.
Nanti pas 'Bagian 3' kostum hitam-hitam dicopot, juga mahkota / kalung dan topeng.

Bagian 1.
Gambaran kekacauan Indonesia

Indonesia
Indonesia
Sudah sekian lama
negri kita full problema
Jaman gila
Jaman gila
Kalau tak menggila
Tak dapat apa-apa
Korupsi merajalela
Dari petinggi ibukota
Sampai bawahan di desa-desa
Penjahat jadi pejabat
Penipu jualan ayat

Tuesday, 19 May 2015

CACA (sebuah racauan surealis triler erotik)


Tekanan Batin #28, bolpoin di kertas,
DidotKlasta, 2009.
Setelah cukup lama blog ini kuterlantarkan sebab aku sudah punya website yang keren dan kalau kau tak percaya buktikan sendiri di http://www.didotklasta.com akhirnya aku sadar bahwa. Berikut ini adalah racauanku terkini yang sebenarnya bahan lama tapi karena aku tak punya bahan baru maka.

Seperti biasa tentu saja, tivi-tivi memuakkan penuh dengan acara-acara memuakkan yang penuh dengan tokoh-tokoh memuakkan dari berbagai bidang kehidupan memuakkan yang sesungguhnya bidang-bidang itu belum tentu memang diperlukan, dan mereka sedang saling membesar-besarkan diri sendiri secara spektakular karikatural. Teror mematikannya dengan gelegak keinginan mematikan tokoh-tokoh itu sendiri. Bukan dengan memencet tombol off di batangan pengendali jarak jauh itu, tapi dengan menghantamkannya ke layar tivi. BLAST!!! Sunyi itu indah, ketika gegap-gempita adalah kumpulan tinja yang berceloteh tentang hal-hal tinja. Lampu terang ia matikan dan digantinya dengan bolam temaram ungu-biru syahdu, mungkin cocok dipakai untuk pencahayaan adegan erotis film khusus dewasa. Gorden putih terbuka. Bulan sedang purnama. Mereka berbaring-baring dengan posisi kepala menghadap jendela tanpa seks. Panorama bagus, meski ini lingkungan yang sesungguhnya bahkan lebih kejam dari yang nampak, yang juga sudah begitu kejam.

“Ngapain enaknya sekarang?” tanya CaCa.
“Nggg … tiduran saja,” jawab Teror.
“Aku lapar …” kata CaCa.
“Mmmm …” sahut Teror.
“Makan yok,” ajak CaCa.
“Malas,” jawab Teror.
“Ayo dong …” desak Caca.
“Segini larut ... Tadi kan sudah makan banyak. Nanti gembrot kamu. Tahu enggak? Kamu sebenarnya tidak lapar, tapi ingin makan. Itu napsu lho.”