Sunday, 29 January 2012

ANTARA AKU, ROSA DAN SESUATU YANG MEMUAKKAN

Sayap Sayap Cinta Full Of Shit, mix
material di kertas, DidotKlasta,
2015.
Hubungan khusus yang intim, saling menyayangi, saling peduli dan berbagi secara palsu dan memuakkan atau lazim disebut sebagai percintaan, pun lalu terjalin, yaitu setelah kami dengan munafik dan membohongi diri sendiri bisa mempertemukan atau mengkompromikan barang suatu kepentingan egois masing-masing pada barang suatu 'titik tertentu'. Dia kesepian, tak punya teman, tak pernah disapa, dan mimpi terburuknya adalah bangun tengah malam tak karena mimpi apapun lalu mendapati dirinya sendirian, makin tua dan tidak tegar; demikian mimpi buruknya. Demikian halnya aku, sama saja.
Tentu ada hal-hal lain yang saling menarik antara kami, misalnya bibirnya mirip bibir ratu dangdut lokal kota ini yang mirip diva dangdut nasional di televisi dan cara bernapasnya mengingatkanku pada dada bintang film bom seks internasional. Atau pas pertama aku jalan-jalan Malam Minggu dengannya, uangku lagi lumayan fleksibel untuk sekedar berlagak di kota kecil ketinggalan jaman ini dan menjadi sempurna oleh mulutku yang cakap membual.
Namun orang lain tentu bisa saja berpendapat bahwa sejumlah hal lain di atas bukanlah hal lain, melainkan ya memang cuma itulah halnya. Atau tak ada yang terlalu berarti untuk membedakan segala hal-hal itu? Atau bahkan memang tak bisa dipilah-pilah menjadi sesuatu hal yang berdiri sendiri-sendiri? Semuanya adalah ‘hal’ atau semuanya adalah ‘bukan hal’. Terserah. Buat apa pusing-pusing? Bagaimanapun semua orang bercinta. Seperti apa saja. Dan aku sedang bercerita soal cintaku.

Monday, 23 January 2012

PERJALANAN CINTA

Perjalanan cinta kehilangan jalan
Pacar lama putus ke pacar baru putus
Terhenti, di manakah ini ?
Tempat ini bagai mati
Angin netral dalam damai
Iklim gersang tapi
Bebatuan adalah kehidupan
Hidup serupa batu-batu
Membongkah rupanya dibentuk seribu tahun hujan
Dan seribu tahun kemudian adalah kering
Rupanya panas bergurat kata dusta terik
Membakar hati situasi
Peradaban arang, bara, asap
Merongsok dalam reruntuhan gedung dagang
Komoditi lahir lahir
Barang-barang kemanusiaan terbeli on line
Dikirim ke rumah-rumah masyarakat perumahan
Kerja dan tidur dalam troli
Cinta menajam menikam
Lalu dimamah-dimakan
Dan sebutir kepala
Dari seorang kelapa
Dijatuhkan terus dicungkil
Terus diparut terus disrundeng
Gosong
Pahit dimakan

awal 2000an jaman edan

SAJAK BELAKA BUAT D.A (puisi)


Berputih abu-abu
Kau ...
Tanpa tahu
Tohok rinduku
Sayangkah ...
Sribu kilo kita yang terbentang ?
Jika dekatpun
Kuduga pasti sudah kalah

Berputih abu-abu
Lesi-indah seragam bibirmu
Biar aku tanpa permisi
Kasih cium dari sini


Didot Klasta
Salatiga 80an

SOLO KAPIKUT 3 - geguritan koplo

Putri Solo adalah salah satu lagu keroncong yang melayangkan aku
ke kota ini. Apalagi kalau dinyanyikan Mbak Sundari Sukoco dalam
gaya kroncong asli. 
Ngelakku dak lerenake
ana warung kuwi;
mBaluwarti.
Es setrup soto marhen.
'Rambute Mase apik lho...', ujare Mbake.
'Rayuan kere !' bathinku.
Sruput ... Nglangut ...
Aku mikir gadisku.
Sinambi nyawang Kidul kana.
Nggadiiing ... Nggading ...
Pitakonku tiba karo godhong garing :
"Aneng endi kowe, Nok ?"


Didot Klasta
Solo, awal 90an jaman kesepian

SOLO KAPIKUT 2 - geguritan koplo

Srengenge cahyane
ntrawang jroning bathin.
Wektu iki dadi omah
suwung.
Amung kuthuk siji lan babone;
ing latar ngarep.
...
Bener.
Omah pancen suwung.
Rikala aku teka.
Rikala Solo kapikut awan.
Rikala mbayangke rupane Bapakmu.
Memper Oetomo Ramelan.
Ning Bapakmu melawan :
PKI.
Ning Ramelan :
PKI.
Pilih endi jal ?

solo awal 90an jaman kesepian

SOLO KAPIKUT 1 - geguritan koplo

Jika teringat Solo juga harus mengenang Gesang. Sebab beliau pencipta
lagu Bengawan Solo.
Kutha iki katon mampring.
Apa atiku ?
Bis tingkat ra perduli, tancep.
Nggajul angen-angen.
Lungsuh-lungset lumaku.
Sikil-sikil sadawaning ratan.
Nanging panas awan;
tinampa tanpa panglipuran.


Didot Klasta
Solo awal 90an jaman kesepian

Sunday, 22 January 2012

SOLO SIREP part 3 - geguritan koplo

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Prahu siji ...
Lelayaran ;
dhewe-dhewe ?

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Prahu loro ...
Lelayaran ;
golek-golekan ?

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Pesen karcis ;
Tampomas ?

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Wis kerem suwe ?


solo awal 90an

SOLO SIREP part 2 - geguritan koplo

Iki jan wengi.
Saking dene le nggrantes.
Wengine dak wening-weningke.
Weninge ethok-ethok njedhul putri.
Putrine ujug-ujug nggandheng tanganku.
'Halo Darling ...'
Aku misuh.
Ojo-ojo konangan,
ndhepipis lagi ngrogohi separo atiku dhewe;
karo mbayang-mbayangke.


solo awal 90an

SOLO SIREP part 1 - geguritan koplo

Lampu wus padha murup.
Paling gumebyar lestoran Diamon.
Aku ...?
Ana kene wae pojok kutha.
Grombolan wong kewengen.
Mbayangke sedan.
Bocah enom nggaya trek-trekan setan jalanan.
Duwit ngepres ngampet rokok.
'He ! Ojo mencuri pandang ! Aku dudu Ali Topan ! Maneh cowokmu iku sangar tenan ...'
Gusti Gusti ...
Aku mung kaya wong ilang.
Diece pepadhangan.
Gak penampilan.
Lan separo atiku.
Mabul-mabul ;
dhewe.


solo awal 90an

RETROSPEKSI - romantika dan hal lain (puisi)

Mencari Sesuatu Sekaligus Menemukan Sesuatu,
Didot Klasta
Pohon pepaya itu aneh.
Jarang buahnya.
Pohon cabe lebat.
Dekat jendela dan pedas.
Ada layangan putus !
Jatuhnya di dahan-dahan mangga.
Anak-anak miskin berebut naik.
Tapi bukan lomba panjat pinang.
Tapi hujan lalu tiba-tiba.
Deras dan atap seng berisik.
Air menyembur-nyembur.
Dari mulut talang hijau kusam.
Lewat parit menyusur dadap-dadap.
Pelataran semen jadi genangan.
Bungkus permen adalah kapal perang.
Daun kering adalah kapal induk.
Sampai sore pertempuran laut tak selesai-selesai.
Hujan petir.
Dewa bertempur tak selesai-selesai.
Tukang bakso jongkok merokok.
Pipa kuning di tritisan samping.
Semua orang mati.
Dalam tidurnya aku hidup sendiri.
Dalam makrokosmos seluas mangkok miwon.
Di teras baksoku berkepul.

REFRESING

Memandang gerumbul-gerumbul ketela pohon
Ada yang memanggil
Tak meminta datang
Tandan pisang kepok berbekas burung
Pokok melinjo setinggi pinggang
Pelepah kelapa melorot
Kucing berburu
Rumput bau hujan
Tanah gembur
Seekor cacing
Kadal menyelusup
Langkah kaki pergi
Mega mendung
LOSPEKER
Pengumuman
Ada yang mati
Ini kali
Peringatan
Aku bakal mati
Kapan nanti
Jangan kini

Memandang gerumbul-gerumbul ketela pohon
Kuberbalik perlahan menutup lengkong
Cemas ketahuan
Dan dipanggil petugas jibril


salatiga awal 2000an

ORANG BERUNTUNG

Orang beruntung
Jika dapat berjalan dengan seseorang
Bersisihan hingga ajal
Menyusuri jalan rompal panjang
Cinta
Kebebasan
Dan kesederhanaan
Bahkan tak pernah bertengkar
Setidaknya jika satu menengkar
Yang lain sabar
Itu kekasih
Tentu ada waktu-waktu bersetubuh
Dan orang beruntung benihnya subur
Maka anak mereka banyak
Manis-manis bukan sebab rawatan iklan
Melainkan asuhan kebahagiaan
Dan kebahagiaan adalah nama si buyung
.....
Itu sungguh orang beruntung


salatiga jaman bujang kritis

MATA INDAH MATA SAPI (puisi)

Masa kecilku di Kampung Baru
Kalitaman Salatiga. Sebelah kiri
bekas rumahku, sebelah kanan Pak
Dhe - Bu Dhe Sastro, depannya
Mak Klumpuk, depan rumahku
Pak Ngasri - Bu Warti. Di gang
itulah bersemayamnya hakekat
kenangan puisi ini. Gang yang se-
perti abadi. Ini poto 2015. Tak ber-
ubah sejak 40 tahun lalu.
Terkenang dulu kamu
Ndulang ponakanmu sore itu
Rok kembang abang ayu
Bandhomu oh, biru
Hak ... Hak ... Aemmm
Seraya jakun mak cleguk
Kalo aku, nasi thok-thok pun mau
Kalo yang ndulang kamu

Terkenang yang dulu itu
Nostalgia cinta belum seruwet masa kini
Tak perlu ngerti 'murni'
Namun terasa sampai ulu hati
Nyeri yang manis-manis geli
Ataukah naif ? Ataukah dungu ?
Atau kasih yang membersit kala
Di benak terpatri hanya
Mau dolanan sayang saja

Begitu itu Kawan
Terkenang dulu kita
Masih monyet-monyet belaka
Alam pikiran serupa kacang, pisang
Dari dahan ke dahan bergelantungan
Tak perlu konseptualisasi
Tak perlu sakralisasi

KOTIMAH

Kotimah (semoga aku tak keliru ingat nama) adalah nama salah satu remaja perempuan di Kampung Ampera atau juga disebut Barak (Sosial). Di situ bersama sejumlah teman aku pernah memfasilitasi kegiatan belajar luar sekolah di dalam wadah Arena Belajar Bebas RUMAH BAMBU. Sekilas kegiatan Rumah Bambu di Kampung Ampera bisa disimak di sini https://www.youtube.com/watch?v=ZlA-NiGH5hA

Hitam manis kenceng lencir.
Matanya nakal-nakal nyalang.
SD keluar, sekarang paling 15.
Kalau tidak memulung, ngamen.
Kalau tidak melacur, mencuri.
Ngerti duit, mikir duit.
Belum matang, dipaksa gaya dewasa.
Tetep aja kanak belaka.
Walau kalau sudah main suka lupa,
Kotima rajin juga.
Sering menimba.
Dan larinya kencang.
Ngarang cita-cita klise ;
jadi dokter.