Saturday, 17 November 2012

JAMAN SEKARANG (artikel)

(hanya) Racauan sepanjang perjalanan panjang yang belum tentu tak berguna. Diambil dari salah satu edisi buletin Kabar Kalangan yang diterbitkan oleh Kalangan Kultura Media (dulu Lembaga Media Aksi Kalangan) Salatiga.


Kawan, kau tentu tahu, ini tentang perjalanan sejarah agung menuju cakrawala cita-cita peradaban. Betapa kita telah begitu jauh dan tua namun tak kunjung lelah, tak kunjung ‘menjadi’, terus mencari bentuk hakiki. Saat-saat tertentu kita ingin sejenak minggir di bawah kerindangan bijak pohon asam uzur disemilirkan angin pelan sementara gerombolan burung terancam punah mengarah Barat bersama kesetiaan matahari …
Tarik napas, ambil jarak dengan hiruk-pikuk kenyataan, mengamatinya secara jernih-mendalam untuk menemukan pengertian-pengertian, tetapi selalu tak mudah. Seperti mencoba memahami suatu konstelasi kesemrawutan namun berada (terjebak?!) dalam kesemrawutan itu. Potongan, serpihan, remah fakta-fakta dan fiksi-fiksi hilir-mudik keluar-masuk kepala. Terkadang beriringan satu-satu, kadang berombongan menyerbu, kadang berkarung-karung menimbuni gudang pikiran. Kadang pula malah menyebabkan ‘plenggang-plenggong’.

Monday, 16 July 2012

TENTANG KOTA BESAR (dari Bob Dylan)

Menghambur ke daerah Barat yang liar
Tinggalkan kota tercinta tak berhingar-bingar
Kukira telah lihat segala sukses - sengsara
Sampai akhirnya tiba di ini kota
Banyak orang terpuruk di tanah
Banyak gedung menjangkau langit megah

Di New York saat musim dingin
Angin bertiupkan salju sekeliling
Berjalan tanpa tujuan
Orang bisa beku hingga tulang
Dan aku menggigil hingga tulang
Koran kota menulis berita
Ini terdingin sejak tujuh belas tahun sebelumnya
Dan aku tak pernah lebih dingin sesudahnya

Kuraih gitarku tua
Meloncat ke kereta bawah tanah kota
Menggelinding, terayun, terseok sepanjang jalan
Tibalah di pusatnya keramaian :
Greenwich Village, selamat datang

Wednesday, 7 March 2012

PENGAMEN PAGI (puisi)

Seorang pengamen pagi
Ikat kepala macam generasi bunga
Kacamata Elton John penuh aksi
Kuning plastik sungguh gaya
Dia datang petik intro lagu lama
Pada sebuah gitar tua
Pada sekian recehku sebagai kaum lebih punya
Trima kasih Oom
Tak bepergian Oom ?
Rambutnya bagus Oom
Permisi Oom
Aku tersenyum antara suka dan terpaksa

Seorang pengamen pagi pergi
Menyisakan melodi
Di mana tinggalnya ?
Apa ceritanya ?
Kuingin panggil dia kembali
Sekedar tanya nama yang dia pasti punya
Kan kucatat dalam buku
Berjudul : daftar saudara
Tapi pagar rumah membuat lupa

Seorang pengamen pagi pergi
Mengikuti dan diikuti angin entah penghujung kemarau ini
Dan kutuliskan puisi
Padamu lelaki entah, sampai nanti


Jumat Kliwon 9 Oktober 2009

TUKANG PARKIR TUA (puisi)

Tukang parkir tua atas Pujasera
Propesional, ramah dan bersahaja

Tukang parkir tua prapatan toko Natalia
mBecak 20an taon lamanya
Asam urat menggrogoti kaki perkasa
Kini bertahan sebisanya

Tukang parkir tua rental film Q-men namanya
Ngglesot di aspal merokok lintingan tak bernama
Bagaimana dia punya cerita ?

Tukang parkir tua Indonesia pusaka
Kawan, teruskan ceritanya …


Didot Klasta
Salatiga 2010

PETANI DI TENGAH-TENGAH KOTA (puisi)

petani muda dengan anaknya belia
di tengah-tengah kota
sehabis panen tegal kering tak seberapa
bakso pangsit di ceruk jalan jendral sudirman
sekali-kali hiburan
rumahnya ? jauh sana desa pinggiran
mana ? tak kelihatan
apa namanya ? tak kedengaran

petani muda dengan anaknya belia
di tengah-tengah kota
ngungun
mirip ketela sunyi jelata

salatiga 2010

Thursday, 16 February 2012

ORONG ORONG (cerpen)

Fiksi Ilmiah, Didot Klasta
Akhirnya … Surowelang, gegedhug bajingan yang sohor oleh cambang-brewoknya, kekejamannya, ilmu jaya-kasantikannya yang tinggi, sekaligus otak-kerbaunya, yang menjadi tangan kanan kesewenang-wenangan dari Ndoro Adipati Kanjeng Gusti Among Murko, sang penguasa tiran lalim tukang menindas dan suka memperkosa perempuan-perempuan muda itu pun menemui ajalnya di tangan seorang resi sakti mandraguna yang merupakan guru dari putra almarhum mantan Ndoro Adipati, Kanjeng Gusti Mangku Projo yang dulu telah dibunuh dalam sebuah kudeta berdarah oleh Kanjeng Gusti Among Murko, yaitu Raden Sastro yang ingin membalas dendam sekaligus merebut kembali kekuasaan, melalui gurunya itu.
Namun ternyata resi sakti itu, yaitu Resi Langit, setelah Kanjeng Gusti Among Murko bunuh diri sebab tak punya andalan lagi, ternyata kemudian berbalik berpihak pada putra Kanjeng Gusti Among Murko, yaitu Raden Karto yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama dinyatakan hilang dan segera mengambil alih tahta.
Dan ketika Raden Sastro dengan laskar pengikut setianya menyerbu istana, dengan alasan bahwa Raden Sastro adalah cucu-muridnya, Resi Langit mengatakan adalah tak mungkin ia menempur Raden Sastro, maka Raden Karto yang juga seorang satria pilih tanding pun langsung turun di medan laga, berduel habis-habisan melawan Raden Sastro sampai salah satu mati, begitu juga dengan laskar kedua pihak, berperang hingga habis-habisan pula.
Ketika situasi tidak karuan seperti itu, Resi Langit di luar dugaan ternyata mengerahkan pasukan rahasianya sendiri yang telah ia bangun sejak lama secara diam-diam, menduduki istana sementara dua kubu yang bertikai sedang baku-bunuh.
Dan kemudian Resi Langit pun mengangkat dirinya sendiri menjadi raja diraja. Sedangkan Raden Karto dan Raden Sastro terjebak dalam sebuah duel yang berlarut-larut tak berkesudahan sebab mereka sama saktinya, hingga seribu tahun.

Monday, 13 February 2012

DEMI CINTA

Kita tak bisa meneruskan lagi. Ini tak bisa dipertahan Bon. Sudah sekian lama terus kita usahakan, namun akhirnya aku harus percaya yang sekian lama tak kupercaya; aku tak akan bisa benar-benar memahamimu, seperti halnya kau pun tak akan bisa benar-benar memahamiku. Pahit memang … Namun tak apa-apa. Bagaimanapun kita telah mencoba, untuk berani saling mencinta, berani mengujinya secara nyata dengan menjalani ini semua, bersama. Jika ternyata, sesuatu yang kita bangun sekian lama ini tak berhasil, pasti ada sesuatu lain yang berhasil. Mungkin apa yang kucapai dan apa yang kau capai tak sama, namun aku yakin, kita sama-sama akan menjadi lebih baik. Seperti katamu; kita adalah dua bunga yang terus dan makin mekar. Kita tetaplah dua bunga dan dua penyiram bunga sekaligus. Akan tetap demikian, meski kita tak bisa lagi terus saling menyiram. Setidaknya, terima kasih untuk sekian waktu kau menyiramiku hingga aku tumbuh-mekar seperti sekarang ini. Sebaliknya kuharap apa yang kulakukan padamu sekian waktu ini, memekarkanmu pula. Waktu mendidik kita, merubah kita … Waktu memberi kita fase … Dan fase kita, berakhir semalam. Menurutku itu adalah percintaan terakhir kita, dan itu indah sekali. Sesudahnya, kuajak kau melangkah pada fase berikutnya, dengan tak lagi bersama. Demikian kebijaksanaan waktu Bon. Jadi, aku pergi, Sami kubawa. Maaf untuk segalanya. Terima kasih untuk segalanya.
Tetap menyayangimu …
Santi
nb.
Makan malam tinggal menghangatkan. Ca sawi. Tambahkan baksonya kalau sudah panas, tak perlu sampai mendidih.

Sunday, 29 January 2012

ANTARA AKU, ROSA DAN SESUATU YANG MEMUAKKAN

Sayap Sayap Cinta Full Of Shit, mix
material di kertas, DidotKlasta,
2015.
Hubungan khusus yang intim, saling menyayangi, saling peduli dan berbagi secara palsu dan memuakkan atau lazim disebut sebagai percintaan, pun lalu terjalin, yaitu setelah kami dengan munafik dan membohongi diri sendiri bisa mempertemukan atau mengkompromikan barang suatu kepentingan egois masing-masing pada barang suatu 'titik tertentu'. Dia kesepian, tak punya teman, tak pernah disapa, dan mimpi terburuknya adalah bangun tengah malam tak karena mimpi apapun lalu mendapati dirinya sendirian, makin tua dan tidak tegar; demikian mimpi buruknya. Demikian halnya aku, sama saja.
Tentu ada hal-hal lain yang saling menarik antara kami, misalnya bibirnya mirip bibir ratu dangdut lokal kota ini yang mirip diva dangdut nasional di televisi dan cara bernapasnya mengingatkanku pada dada bintang film bom seks internasional. Atau pas pertama aku jalan-jalan Malam Minggu dengannya, uangku lagi lumayan fleksibel untuk sekedar berlagak di kota kecil ketinggalan jaman ini dan menjadi sempurna oleh mulutku yang cakap membual.
Namun orang lain tentu bisa saja berpendapat bahwa sejumlah hal lain di atas bukanlah hal lain, melainkan ya memang cuma itulah halnya. Atau tak ada yang terlalu berarti untuk membedakan segala hal-hal itu? Atau bahkan memang tak bisa dipilah-pilah menjadi sesuatu hal yang berdiri sendiri-sendiri? Semuanya adalah ‘hal’ atau semuanya adalah ‘bukan hal’. Terserah. Buat apa pusing-pusing? Bagaimanapun semua orang bercinta. Seperti apa saja. Dan aku sedang bercerita soal cintaku.

Monday, 23 January 2012

PERJALANAN CINTA

Perjalanan cinta kehilangan jalan
Pacar lama putus ke pacar baru putus
Terhenti, di manakah ini ?
Tempat ini bagai mati
Angin netral dalam damai
Iklim gersang tapi
Bebatuan adalah kehidupan
Hidup serupa batu-batu
Membongkah rupanya dibentuk seribu tahun hujan
Dan seribu tahun kemudian adalah kering
Rupanya panas bergurat kata dusta terik
Membakar hati situasi
Peradaban arang, bara, asap
Merongsok dalam reruntuhan gedung dagang
Komoditi lahir lahir
Barang-barang kemanusiaan terbeli on line
Dikirim ke rumah-rumah masyarakat perumahan
Kerja dan tidur dalam troli
Cinta menajam menikam
Lalu dimamah-dimakan
Dan sebutir kepala
Dari seorang kelapa
Dijatuhkan terus dicungkil
Terus diparut terus disrundeng
Gosong
Pahit dimakan

awal 2000an jaman edan

SAJAK BELAKA BUAT D.A (puisi)


Berputih abu-abu
Kau ...
Tanpa tahu
Tohok rinduku
Sayangkah ...
Sribu kilo kita yang terbentang ?
Jika dekatpun
Kuduga pasti sudah kalah

Berputih abu-abu
Lesi-indah seragam bibirmu
Biar aku tanpa permisi
Kasih cium dari sini


Didot Klasta
Salatiga 80an

SOLO KAPIKUT 3 - geguritan koplo

Putri Solo adalah salah satu lagu keroncong yang melayangkan aku
ke kota ini. Apalagi kalau dinyanyikan Mbak Sundari Sukoco dalam
gaya kroncong asli. 
Ngelakku dak lerenake
ana warung kuwi;
mBaluwarti.
Es setrup soto marhen.
'Rambute Mase apik lho...', ujare Mbake.
'Rayuan kere !' bathinku.
Sruput ... Nglangut ...
Aku mikir gadisku.
Sinambi nyawang Kidul kana.
Nggadiiing ... Nggading ...
Pitakonku tiba karo godhong garing :
"Aneng endi kowe, Nok ?"


Didot Klasta
Solo, awal 90an jaman kesepian

SOLO KAPIKUT 2 - geguritan koplo

Srengenge cahyane
ntrawang jroning bathin.
Wektu iki dadi omah
suwung.
Amung kuthuk siji lan babone;
ing latar ngarep.
...
Bener.
Omah pancen suwung.
Rikala aku teka.
Rikala Solo kapikut awan.
Rikala mbayangke rupane Bapakmu.
Memper Oetomo Ramelan.
Ning Bapakmu melawan :
PKI.
Ning Ramelan :
PKI.
Pilih endi jal ?

solo awal 90an jaman kesepian

SOLO KAPIKUT 1 - geguritan koplo

Jika teringat Solo juga harus mengenang Gesang. Sebab beliau pencipta
lagu Bengawan Solo.
Kutha iki katon mampring.
Apa atiku ?
Bis tingkat ra perduli, tancep.
Nggajul angen-angen.
Lungsuh-lungset lumaku.
Sikil-sikil sadawaning ratan.
Nanging panas awan;
tinampa tanpa panglipuran.


Didot Klasta
Solo awal 90an jaman kesepian

Sunday, 22 January 2012

SOLO SIREP part 3 - geguritan koplo

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Prahu siji ...
Lelayaran ;
dhewe-dhewe ?

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Prahu loro ...
Lelayaran ;
golek-golekan ?

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Pesen karcis ;
Tampomas ?

Apa jan-jane ...
Aku - Kowe ...
Wis kerem suwe ?


solo awal 90an

SOLO SIREP part 2 - geguritan koplo

Iki jan wengi.
Saking dene le nggrantes.
Wengine dak wening-weningke.
Weninge ethok-ethok njedhul putri.
Putrine ujug-ujug nggandheng tanganku.
'Halo Darling ...'
Aku misuh.
Ojo-ojo konangan,
ndhepipis lagi ngrogohi separo atiku dhewe;
karo mbayang-mbayangke.


solo awal 90an

SOLO SIREP part 1 - geguritan koplo

Lampu wus padha murup.
Paling gumebyar lestoran Diamon.
Aku ...?
Ana kene wae pojok kutha.
Grombolan wong kewengen.
Mbayangke sedan.
Bocah enom nggaya trek-trekan setan jalanan.
Duwit ngepres ngampet rokok.
'He ! Ojo mencuri pandang ! Aku dudu Ali Topan ! Maneh cowokmu iku sangar tenan ...'
Gusti Gusti ...
Aku mung kaya wong ilang.
Diece pepadhangan.
Gak penampilan.
Lan separo atiku.
Mabul-mabul ;
dhewe.


solo awal 90an

RETROSPEKSI - romantika dan hal lain (puisi)

Mencari Sesuatu Sekaligus Menemukan Sesuatu,
Didot Klasta
Pohon pepaya itu aneh.
Jarang buahnya.
Pohon cabe lebat.
Dekat jendela dan pedas.
Ada layangan putus !
Jatuhnya di dahan-dahan mangga.
Anak-anak miskin berebut naik.
Tapi bukan lomba panjat pinang.
Tapi hujan lalu tiba-tiba.
Deras dan atap seng berisik.
Air menyembur-nyembur.
Dari mulut talang hijau kusam.
Lewat parit menyusur dadap-dadap.
Pelataran semen jadi genangan.
Bungkus permen adalah kapal perang.
Daun kering adalah kapal induk.
Sampai sore pertempuran laut tak selesai-selesai.
Hujan petir.
Dewa bertempur tak selesai-selesai.
Tukang bakso jongkok merokok.
Pipa kuning di tritisan samping.
Semua orang mati.
Dalam tidurnya aku hidup sendiri.
Dalam makrokosmos seluas mangkok miwon.
Di teras baksoku berkepul.

REFRESING

Memandang gerumbul-gerumbul ketela pohon
Ada yang memanggil
Tak meminta datang
Tandan pisang kepok berbekas burung
Pokok melinjo setinggi pinggang
Pelepah kelapa melorot
Kucing berburu
Rumput bau hujan
Tanah gembur
Seekor cacing
Kadal menyelusup
Langkah kaki pergi
Mega mendung
LOSPEKER
Pengumuman
Ada yang mati
Ini kali
Peringatan
Aku bakal mati
Kapan nanti
Jangan kini

Memandang gerumbul-gerumbul ketela pohon
Kuberbalik perlahan menutup lengkong
Cemas ketahuan
Dan dipanggil petugas jibril


salatiga awal 2000an

ORANG BERUNTUNG

Orang beruntung
Jika dapat berjalan dengan seseorang
Bersisihan hingga ajal
Menyusuri jalan rompal panjang
Cinta
Kebebasan
Dan kesederhanaan
Bahkan tak pernah bertengkar
Setidaknya jika satu menengkar
Yang lain sabar
Itu kekasih
Tentu ada waktu-waktu bersetubuh
Dan orang beruntung benihnya subur
Maka anak mereka banyak
Manis-manis bukan sebab rawatan iklan
Melainkan asuhan kebahagiaan
Dan kebahagiaan adalah nama si buyung
.....
Itu sungguh orang beruntung


salatiga jaman bujang kritis

MATA INDAH MATA SAPI (puisi)

Masa kecilku di Kampung Baru
Kalitaman Salatiga. Sebelah kiri
bekas rumahku, sebelah kanan Pak
Dhe - Bu Dhe Sastro, depannya
Mak Klumpuk, depan rumahku
Pak Ngasri - Bu Warti. Di gang
itulah bersemayamnya hakekat
kenangan puisi ini. Gang yang se-
perti abadi. Ini poto 2015. Tak ber-
ubah sejak 40 tahun lalu.
Terkenang dulu kamu
Ndulang ponakanmu sore itu
Rok kembang abang ayu
Bandhomu oh, biru
Hak ... Hak ... Aemmm
Seraya jakun mak cleguk
Kalo aku, nasi thok-thok pun mau
Kalo yang ndulang kamu

Terkenang yang dulu itu
Nostalgia cinta belum seruwet masa kini
Tak perlu ngerti 'murni'
Namun terasa sampai ulu hati
Nyeri yang manis-manis geli
Ataukah naif ? Ataukah dungu ?
Atau kasih yang membersit kala
Di benak terpatri hanya
Mau dolanan sayang saja

Begitu itu Kawan
Terkenang dulu kita
Masih monyet-monyet belaka
Alam pikiran serupa kacang, pisang
Dari dahan ke dahan bergelantungan
Tak perlu konseptualisasi
Tak perlu sakralisasi

KOTIMAH

Kotimah (semoga aku tak keliru ingat nama) adalah nama salah satu remaja perempuan di Kampung Ampera atau juga disebut Barak (Sosial). Di situ bersama sejumlah teman aku pernah memfasilitasi kegiatan belajar luar sekolah di dalam wadah Arena Belajar Bebas RUMAH BAMBU. Sekilas kegiatan Rumah Bambu di Kampung Ampera bisa disimak di sini https://www.youtube.com/watch?v=ZlA-NiGH5hA

Hitam manis kenceng lencir.
Matanya nakal-nakal nyalang.
SD keluar, sekarang paling 15.
Kalau tidak memulung, ngamen.
Kalau tidak melacur, mencuri.
Ngerti duit, mikir duit.
Belum matang, dipaksa gaya dewasa.
Tetep aja kanak belaka.
Walau kalau sudah main suka lupa,
Kotima rajin juga.
Sering menimba.
Dan larinya kencang.
Ngarang cita-cita klise ;
jadi dokter.