Tuesday, 28 June 2011

MENELAN LUDAH

Salah satu siksaan paling menyiksa;
adalah tentang telor rendaman air garam
Aku ...
Terapung tidak
Tenggelam tidak
Di tengah-tengah,
bukan sebab
punya pegangan
Melainkan tak tahu
pilihan
Dan makin menyiksa ketika tahu ;
sementara aku habiskan waktu
mencari-cari tahu,
orang-orang memborongi pilihan-pilihan
dengan duit kekuasaan
Sampai saat kumenyadarinya,
habislah semua
Terbeli tak bersisa lagi

Syukurlah ...

MELAMPAUI KENYATAAN (puisi)

Shopping Dance. Didot Klasta. 2015
Saya berjalan secara melayang
Sepanjang jalan bukan rural bukan urban
Kanan kiri padang dan padang
Rumput, bebungaan melepas ke hutan
Di sana-sini terselip MP3
Senapan terpatahkan
Gitar, harmonika, tamborin, tifa
Orang-orang tanpa KTP menari riang sebab tak berKTP
Rumah kecil di atas bukit
Asap tipis dari dapur nasi tanak
Burung berkilap bersih bulunya
Balon-balon aneka warna
Orang-orang berpakaian kain perca dari bendera-bendera
Sesungguhnyalah saya ...
Sedang mencipta luar batas
Sejenak jadi makhluk Mars
Mengirim salam dengan antusiasme Budha
Apa kabar Sodara ?
Apa kabar dunia ?
Bagaimana cuaca ?
Bagaimana di sana ?
Saya sendiri sedang berusaha baik-baik saja
Dengan kenyataan yang lainnya


Didot Klasta
Salatiga, pertengahan 2000an

ILMU MANDI

Mandi setelah 5 hari tak mandi
Terasa bersih sekali
Makin menyembunyikan kerak daki di hati
Makin menyepuh kekotoran diri
Lux sabunnya para bintang
Tubuhku wangi dewi kayangan
Sambil menggosok kemaluan
Ingin mengaku salah pada tuhan
Tapi tuhan belum pulang
Sekarang jam perusahaan sampai petang
Jika kantoran negri tergantung kedudukan
Rendahan langsung ngobyek tambahan
Pejabat ...
Rapat atau maksiat-maksiatan
Ketika pulang
Selalu pas aku pergi
Maka kuteruskan mandi
Untuk ...
Untuk diulangi dan diulangi

Mandi setelah 5 hari tak mandi
Ketahuan
Beberapa aspekku berkarat membesi
Byuuur ...

Monday, 27 June 2011

KOTA SIASIA (puisi)

In The Mirror, didotklasta
Jalan-jalan sore menikmati.
Atmosfer lembayung metalik.
Pertunjukan sulap ilusi mental.
Penonton terbius paket ke paket Lysergie Acid Diethylamide.
Jalan zombie sore menikmati.
Bungkus timah realitas terkemas.
Etalase-etalase rejim virtual.
Hurup kapital.
Angka kapital.
Merek kapital.
Seragam kapital.
Senyum kapital.
Libido manequin kapitalisme, senyumannya : Frigid.

Tak ada hawa !
Bagi serumpun saja lonjor bambu.
Mengkeresik ujung daunnya.
Ciuman dengan muka air Kali perawan ; Alice In Borderland.
Alice membuang bayi.
Banyak yang punah di sebrang :
Border.

Kau hilang.
Tapi tak merasa hilang.
Sebab tak ada yang mencari-cari.

KOMPLOTAN PASAR MODEREN

Sambel tumpang krecek.
Rempeyek tholo.
Anggur kolesom.
Teh tawar.

Pagi dingin berkutat dengan tandon - tandon peluh pasar yang tak pernah dingin.
Panas metabolisme kerja jelata menganak sungai los - los papan.
Ikan asin laut Juwana berenang di air muka migran sirkuler pinggir -pinggir kabupaten peudal - agraris.
Pukul tiga pagi mereka adalah laron, lalat dan tikus pembangunan kota.
Siloncat sigap dari L 300.
Menyetor tenaga bagi si malas babi makmur kota.
Menyetor desa bagi golongan pemangsa kota.
Dengan harga percuma.

Sambel goreng ati.
Krupuk udang.
Hemaviton.
Sari jeruk.

Kijang dinas Direktur Pasar membawa tuannya ber TURBA ria.
Seperti Sultan Harun Al Rasyid, sri paduka yang menyamar jadi pengecer kurma.

KOMUNIS ITU BAGIKU LEBIH ASYIK, SESEDERHANA ITU

Uskup 'kaum kumuh' Dom Helder Camara (Brasil masa kediktatoran
1964 - 1985). "Memberi makan orang miskin disebut dermawan,
mengusut penyebab kemiskinan disebut komunis."
Suatu hari sebab merasa tak kunjung cukup cerdas aku pun lelah menjadi orang berpisau analisa berbuku-buku tebal dalam negri dan luar negri dan mahal. Suatu hari kuakui bahwa kita perlu negeri dan seandainya politisi cukup berbudi dan seandainya pemerintahan cukup berkemampuan. Suatu hari lantas kuakui seseorang dengan sejumlah bintang dan merupakan bagian dari kaum tersendiri bersenjata itu menjadi presiden terpilih-ku. Suatu hari kami duduk-duduk menghibur diri dengan hikmah kesulitan ekonomi di depan televisi, membicarakan pemimpin kami dengan nada simpati dan mengakui betapa wajahnya penuh beban keprihatinan terhadap persoalan 200 juta lebih orang saat mempidatokan sesuatu perihal 200 juta lebih orang; rakyatnya. Betapa kami menaruh pengharapan di pundaknya.

Namun kenyataannya ini tak cuma soal perasaan kemanusiaan. Pada gilirannya ini soal bahasa dan tindakan yang dilembagakan. Dan lembaganya kenyataannya adalah kekuasaan. Demikian adanya. Power tends to corrupt dalam buku tebal mahal, tetap saja kutemukan tanpa buku tebal mahal. Orang di jalan menyebutnya kesewenang-wenangan. Dan kesewenang-wenangan butuh banyak uang. Dan banyak uang butuh keserakahan. Dak keserakahan adalah kesewenang-wenangan.

KELUARGA TINGGAL RENCANA

Para tetangga datang menjenguk.
Kasih selamat, syukur, doa, harapan.
Amplop-amplop sekian ribu dari tangan ke tangan.
Alokasi pos tak terduga.
Terbiasa.

Anak itu segalanya.
Hidup itu dingin.
Orang hidup gentar pada hidup.
Mempermainkannya dari belakang.
Disaat hidup main gila depan hidungnya.

Anak adalah segalanya.
Tumbuhlah besar penuh kelihaian.
Bunda memerah susunya sendiri.
Bapa petualangan, menubruk receh menggelinding bersama sejuta petualang.

Tiga hari lalu, ada penghuni baru di rumah itu.
Perempuan merah, beratnya kurang, matanya tak bergairah.
Sodara-sodara mengerumuni dengan kegembiraan yang memuncak atau datar terlanjur sama.
Sejumlah delapan mereka, lantas ...
Buat apa lahir ?

'sekepal kelu' BUAT KAU

Sayang di mana-mana. Kita. Puisi perjumpaan tak bisa-bisa. Tiada tempat mesra di negri-negri luka. Instansi luka. Penjara. Dept. Store luka. Penjara. Pabrik luka. Penjara. Detasemen luka. Penjara. Mau ke mana. Ke sini hati. Disayat kianat. Ke sana jiwa. Dibacok sandiwara. Tak ke mana-mana. Dibantai usia. Termangu TO. Kartu As hati plastik. Panah asmara mematikan beneran. M-16. Dalam bidikan kasih yang hampa. Pelornya tidak hampa. CROT ! Luka berdarah. Tembus. Blong dan resah. Mau berontak. Blong dan resah. Engkau padaku. Aku padamu. Balaikota penuh mahasiwa negara. Aku bawa benderanya. Engkau bawa seprit. Lagu Anoman Obong belum ada. Balaikota obong belum kunjung jua. Tapi ada yang kobong antara kita nampaknya. Pijarnya hilang ditelan para mahasiswa negara yang kupegang benderanya. Kucampakkan. Sebab telah kita pilih rumput yang diinjak-injak ini upacara. Opo Kabare ? Duduk kita bersisihan tak pernah sedekat itu. Anganku melambung tak pernah semungkin itu. Kita. Jadi pengantin pokok waru. Dihajar-hajar. Kemarau waktu tak kunjung hujan. Dan membeli hujan buatan mahal nian. Salah jatuhnya, lagi. Sial.

KEBO NYUSU GUDEL

Anak-anak telanjang.
Main hujan-hujanan.
Kemaluannya perjaka - perawan.
Menikam hati orang dewasa ...
Yang penuh operasi selaput dara

MEDITASI KALI PROGO

Suatu kali dalam kesumpeganku jadi mahasiswa di kesumpegan situasi, aku berlari ke dusun Semawung desa Banjarharjo kec. Kalibawang kab. Kulonprogo DIY; tanah kelahiran bapakku.

Punggung matahari. Menekuk. Kembali ke pertapaan.

Punggung buaya. Hanya pada malam Syura. Katanya.

Punggung cangkul. Ditekuk involusi. Tak mati-mati.

Punggung petani. Dulu BTI hampir revolusi. Sekarang anak menjual punggung Bapak. Untuk beli dasi.

Punggungku. Pegal tempaan mahasiswa. Maksud hati sok menjala ikan; alamiah. Tapi kangen sarden kota; bau timah

BALADA JAKARTA (puisi)

Peta Batavia Belanda (Dutch Batavia), 1681.
di atas Corona tua
plang-plang memusingkan
metropolitan ...
baru datang
langsung pingin pulang
aku terancam
dari kampung tak bawa ancaman
atau aku ancaman ?

Jakarta - Tanah Abang - Tanjung Priok.
Tak ada pagi semua langsung siang.
Tak ada sore semua langsung malam.
Tak ada yang mati semua cari makan.
Pengiritan demi pemborosan.
Pemborosan demi pemerataan.
AC - peluh - komputer - dengkul.
Henpon anak mall, megapon tibum
Bacot pasaran, cekikikan watak musang
Omong doang !
Omong doang !
Preman fasis tak banyak omong.
Todang-todong a la jenggo.
Menggeram saja di tanggal tua.
Itu jika ada pangkat di pundaknya.

Jakarta - Tanah Abang - Tangjung Priok.
Nasi uduk, susu madu.
Perut urban macam karung.
Urban atas karung karet.
Tertidur di kereta belanja.
Tante shopping menjerit :

KAMANUNGSAN NOYO DADAP (puisi)

Kaum Kaya Itu Keparat Sumber Masalah
Fuck The Rich Problem Maker Go To Hell
Didot Klasta akhir 90an
Adalah kamanungsan menggelandang, yang rumahnya :
JANGAN KENCING DI SINI KECUALI ANJING GILA !

Adalah kamanungsan yang menyusup - nyusup.
Martabat menyuruk dalam gunung sampah.
Bergerilya bersama harkatnya anjing gila.
Laskar Kere ... Laskar Kere ...
Wajahnya asing di mata orang kaya.
Pias - pias nyeri oleh besetan nasib sosial berdarah.
Luber di lambung menggilingi lapar.
Luber di bibir mendoa perjamuan.
Luber di mata meminumi air mata darah.
Tanpa takut, tanpa marah, tanpa jijik, tanpa pasrah.
Hanya meringis saja, gumamnya;
"Hidup ini sungguh anyir ..."

Gumam anyir membasuh kemiskinan dengan bungkus sabun Lux di kolam sampah.
Gumam-gumam lain di monopoli komentator Lux 'atas nama rakyat miskin'.
Tersisa gumam epilog pembangunan nasional.
Digelontorkan air kumur dalam jamuan babi - babi gembul.
Masuk gorong harapan dan kecemasan.
Muncrat di air mancur kota kaya.
Menguap oleh hari panas.
Saat ramai jalan.
Sunyi orang dagang.
Balsam kematian.
Kaum bersalah.
Subkultur Kota Plaza ...


Didot Klasta
Salatiga, pertengahan 2000an

ILUSI HARMONI (puisi)

Di kota-kota ...
Ada yang meringkuk antara grobak-grobak kakilima.
Ada yang menyanyi parau dengan ketipung pralon.
Ada yang menyusui anak sambil menunggu warung rokok.
Ada yang suntuk gontai turun dari bis buruh tekstil.
Ada yang berdoa menghiba menadahkan tangan.
Ada yang kelaparan membolak-balik sampah.
Ada yang termenung bokek di atas becak seharian.
Ada yang jongkok manyun depan etalase toko mainan.
Ada yang memperbaiki riasan di sudut remang.
Ada yang lontang-lantung nganggur dan kebingungan.
Ada yang tergolek pilu menahan disentri.
Ada yang mabok dengan gusar oleh anggur lokal murah-meriah.
Ada yang terbungkuk mengangkat-junjung karung-karung.
Ada yang merokok getir di emperan rolling door.
Ada yang antre sembako murah sampai pingsan.
Ada yang membanyol kering di kedai kopi jelata.
Di kota-kota yang sama ...
Ada kalangan yang berkelebihan segalanya.
Serakah, angkuh, culas, hipokrit ciri-cirinya.
Sesungguhnya, mereka para majikan kota.
Pada dasarnya, mereka kaum enak tak bekerja.
Di kota-kota ...
Harmoni adalah kearifan dusta.
Bikinan pendusta yang serakah, angkuh, culas, hipokrit ciri-cirinya.
Agar sumbu pertentangan tak ternyalakan.
Maka kearifan penentangan tak ternyatakan.
Lantas di desa-desa ?
Bah, sama saja. Sama saja Saudara.

Di kota-kota dan di desa-desa ...
Kearifan mereka bukan kearifan kita.
Harmoni ada.
Namun perlu perlawanan keadilan yang amat lama.
Kecuali jika kita puas cuma harmoni dusta.


Didot Klasta
Salatiga, pertengahan - akhir 2000an

(enggak) PERLU JUDUL

Pukul tiga sore. Angin kencang di kota S. Hujan deras yang dramatis meminggirkan kere-kere di emperan kikir orang kaya yang dipilok : A W A S A N J I N G G A L A K !!! Seperti seting roman sosial nasional. Hawa ribut bertiup dari dengus rusuh moncong kongkalikong demokrasi oportunis. Air kencang menggelontori got-got dan duit seperak dua yang ditelan lumpur. Pekerja dihujani butiran tajam kondensasi pengangguran. Terus mencari barang sekeping. Tapi sekeping saja tak pernah ada di bawah meja bertaplak batik Iwan Tirta. Dan di atas meja orang-orang batik bermain dadu gelinding. Menggelindingi struktur cucuran keringat kongsi Indonesia. Hasil keringat jatuhnya di kantung petinggi batik dan juragan butik. Tubuh berkeringat jatuhnya terhumbalang di pelimbahan. Dengan seragam tetron murahan orang-orang tetron terhanyut menjauhi meja dadu. Sebagian mencair. Sebagian mengeras. Sebagian menyublim. Sebagian gaib sikon. Bagian terbesar telah begitu geram dan jemu. Menanti bahkan menghadang sepanjang emperan toko Arab, Cina, Eropa, Amerika, borjuis komparador dan sepanjang periferi pertumbuhan ekonomi negri. Dan sepanjang proses sintetik revolusioner ini, aku sedang ambil prei untuk sejenak biasa-biasa saja. Dan di sinilah aku, di beranda, menunggu janji mau tiba ...

Nah ! Si Janji tiba juga. Sandal plastik merah muda. Bando plastik sama warnanya. Rok selutut pun jambon pula. Ada renda di dada bagusnya. Kau ! Sorongkan sekilo jambu buatku. Dalam plastik, tertahan malu. Dan senyum ngirit itu pun dipersunggingi oleh rindu. Ya tentu kubalaslah sepadan. Ini gaya menyambut, tak bisa tahan-tahan.

"Politik sederas ini. Kenapa dipaksa datang ?", sapaku disambar petir berupa durian.

"Perjuangan cinta Bang ...", tohoknya tiada bimbang.

Ooo ... Begitu Adik ? Secuil minggu dalam seribu tahun pemberontakan. Sejenak teman dalam jalan panjang kesunyian. Lebih dari cukup hadirmu saja. Tak perlu gelora eforia massa.

Kesini Adik ... Tiup rileks kening carut-marut ini.

Ayo Adik ... Ayo di-cas aki revolusionari ini.

Trima kasih Adik ... Telah mencintai perjuangan ini.

Segala kerinduan ... Untuk hati yang pantang padam.

Semua kembang mlati ... Untuk segala api.

SETENGAH KWADRAT

(biasa saja;
tak percaya
di atas biasa;
tak mampu
di bawah biasa;
tak kuat)


Setengah gila (?)
Dibilang gila, tidak, aku waras.
Dibilang waras, tidak, aku gila.
Berdandan kondangan kaca benggala masyarakat.
Dituding setengah-setengah lantas dipaksa berkilah.
Dan kilah-kilah tak ada yang diterima
selain kilah mereka sendiri saja.

Kalau begitu sekalian saja,
hidup cuma sekali.
Waras, sekalian waras.
Gila, sekalian gila.
Tapi mimpi benar, bisa memilih-milih.
Mau waras, bisa, mau gila, bisa.
Memang bukan warga negara ?
Kok bisa-bisanya merdeka.

Lantas bagaimana berkilah ?
Ilusi masyarakat normal : wah berat.
Patuh, penurut, sukses : normal.
Berat.
Itu bisa gila ... Bisa gila.
Dan karena tak sukses,
meski mungkin sudah patuh dan penurut :
tidak normal.

Setengah warga setengah usiran.
Tetap tinggal, ditinggal pergi.
Jika pergi dicurigai.
Tragedi.
Mau berbentuk, tak jadi-jadi.
Waktu habis untuk berkilah
dan menelan kilah balasan.
Deformasi.
Pameran patung ini hari :
jam bezoek sekian sekian.
Tragedi.

Mau menjenguk ?
Jika datang bawakan rokok alus.
Dan harian terkini ;
dehumanisasi.

Sunday, 26 June 2011

BENCI TAPI RINDU

Aku benci wujud menegaramu
Aku cintai hati dan jiwamu
Aku benci hukum-penjaramu
Aku cintai alam budaya merdekamu
Aku benci pemimpin-penguasamu
Aku cintai orang kebanyakanmu
Aku benci ndoro-majikanmu
Aku cintai penanam-penempamu
Aku benci seragam-senapanmu
Aku cintai jabat-tanganmu
Aku benci pagar tapal batasmu
Aku cintai ufuk kaki langitmu
Aku benci bendera dan ktp-mu
Aku cintai tanah merah kuburanmu
Untukmu ya untukmu Indonesiaku
Betapa aku benci tapi rindu

SAAT ORANG BESAR LEWAT (puisi)

Suppression #69, didot klasta
Lasiyem masuk dengan belanjaan paket pengiritan
Tergopoh-gopoh lugu langsung spontan
Saya nonton Buke ! Saya nonton !
Jalanan dikosongkan Mas !
Cuma sedan-sedan yang liwat !
Banyak nguing-nguing !
Banyak pulisi !
Ada apa ? Ada apa ?
Bencana dimana ya ?
Sambil menguap Bapak menyahut dari kamar tidur.
Itu Es Be Ye ...
Mau ke Boyolali dia ...
Lasiyem manggut-manggut sambil berlalu ke dapur
Ooo … Pak Presiden tho …
Lantas kami sekeluarga pun agak bersungut-sungut
Pemimpin kok bisanya ngrepoti …
Salah sendiri … Kenapa nyoblos ?
Siapa nyoblos !? Siapa nyoblos !?
Ha ha ha ... Baru ingat jebul kami tak ada yang nyoblos
Ha ha ha ...
Bapak ngorok lagi
Ibu ikut ngorok
Adik juga ikut
Aku berak sajalah
Lasiyem memetik kangkung
Sambil memandangi tinja-tinja yang keras aku merenung :
Hmmm ... Kami punya sikap bermartabat terhadap kekuasaan

SALAM DARI SRANDIL (puisi)

Telomoyo berkabut turun dipatuk suara ayam hutan nglangut. Gajahmungkur mendengkur belalai rimbun kelabu semu. Rawapening hening dalam bercak-bercak remang kejauhan. Ambarawa dan Salatiga terhampar lampu-lampu kedinginan. Rumah-rumah reyot terserak di gundukan-gundukan bukit hitam. Api kayu menjilat gemeretak tungku tanah tua. Nasi jagung rokok kawung buyung lelap dalam selendang di punggung. Slondok, roti pasar, air teh panas beredar antar ruang kehidupan. Komunitas bersarung jagongan melingkar tukar kata bijaksana.
Demikianlah Saudara ... Boncis jatuh harganya.
Demikianlah Saudara ... Jalan belum akan dibangun negara sebab wilayah ini tak termasuk nadi ekonomi negara.
Demikianlah Saudara ... Anak-anak kita harus menempuh lelah terlalu jauh untuk sekolah.
Demikianlah ... Rawe-rawe rantas malang-malang putung.
Demikianlah ... Dengan kebersamaan lingkungan ini insya allah bangun.
Sementara malam makin tengah malam di pelosok berhutan. Susuki keri rongsok terseok menghadapi makadam offroad. 10 Badui menjaring 200 monyet migrasi habitat lapar.

Dusun Srandil. Negara Kesatuan Republik Indonesia Merdeka. Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Semarang. Kecamatan Banyubiru. Desa Sepakung. Sebuah konsep bernama ’jakarta’. Apa hubungannya ...?
Pemiskinan semata. Ketidakpuasan dimana-mana. Perjuangan jelata VS jahatnya penguasa. Berkobaran tiada akhir. 10 Badui menjaring 200 monyet migrasi habitat lapar.

PARA BINATANG (puisi)

KUTU ROMANTIK REVOLUSIONER

Kepala adalah pusat kekuasaan.
Rambut kancah politiknya.
Pejuang bawah tanah itu kutu.
Satu minggu kumpul denganmu;
pergumulan liar.
Sel revolusi membelah diri.
Beranak-pinak.
Gatal sekali.
Tapi tak peduli.


BEKICOT OTONOM

HORE !
Aku punya dua kelamin.
Segalanya jadi lebih mudah.
Tidak ditindas ...
Tidak menindas ...
Tidak ditipu;
politik persetubuhan.

Saturday, 25 June 2011

TEMBANG GUNUNG KAPUR (puisi)

Pakne thole
Makne thole
Ora duwe duwit njuk kepiye
Nyang kutho wae
Mburuh-mburuh sak kecekele
Kana Le ndang gage-gage
Bareng karo kanca-kancane
Ning nggugu karo mandore

Lautan gubuk beratap jemuran gaplek. Jalan kaki naik ke gunung. Bapa-Biyung menggempur batu. Matahari kapur jarak sejengkal dari bahu. Manusia tembaga bekerja. Kerja bukan lagi untuk amal-ibadah. Di gunung kapur setan jauh. Di sini saja hantu kemiskinan berkeliaran. Tak menawarkan neraka nanti. Tapi busung lapar hari ini. Bekerja adalah bertahan. Sekarang sudah menghitam. Kapan mereka jadi arang ?

BILIK-BILIK MENARA BABEL

Duka satu mendukai yang lain.
Tikam satu menikami yang lain.
Tak kunjung usai siksa ini.
Karena kebencian terkutuk terus bertarung.
Tak bisa mati-mati.

Ada apa dengan kita ?
Sepanjang jalan kecam-mengecam kemanusiaan.
Bisu sebentar sebab terengah kesepian :
dalam perpisahan sombong.
Lalu bertemu lagi untuk kian terengah lagi.
Tetap dalam debat kemanusiaan.
Membungkus racuan sepi :
tak lebih.

Ada apa di antara kita ?
Jika jumpa,
bebal menyombongkan kemanusiaan bebal.
Padahal sepi di ulu hati,
memagut-magut udara komunikasi :
hampa.

MASYARAKAT KATAKATA (puisi)

Aku bicara Kau bicara Kita bicara Mereka bicara Semua Bicara Bicara Bicara Bicara Bicara dan seterusnya sampai ndower. Tak ada yang mendengarkan.
Trilyunan kata membanjir, menghujan, menggunung, mengeduk, menipu, melantur Dikalikan sekian banyak abad dan babad Masih ditambah kata halus Dari para makhluk halus dan kaum munafik Dan jangan lupa sabda-sabda beberapa tuhan Yang per patahnya mengandung sepanjang prasejarah sampai sejarah makna Mulai dari adam-adam dan hawa-hawa Sampai masa depan yang diketahui sekarang Bayangkan …

Aku bicara Kau bicara Kita bicara Mereka bicara Semua Bicara Bicara Bicara Bicara Bicara dan seterusnya sampai ndower Dari pagi hingga pagi lagi (kalau siang ya sampai siang lagi dan seterusnya) Non Stop
Makan-minum katakata Beol-kencing katakata Cari duit katakata Olahraga katakata Tidur-mimpi katakata Seksual katakata Ibadah katakata Bayangkan …
Tak perlu lagi ‘bicara’ Sebab kita adalah onggokan benda terdiri dari katakata melulu
Dan tak perlu lagi ‘mendengar’ Sebab telinga kita sudah berevolusi jadi mulut pula, dan ndower lagi
Sekian. Amin

KLARIFIKASI

Buat pejalan-pejalan sunyi

Jika ku berulang kali
Meracau-racau hal sepi
Bukan pretensi
Ingin ditemani
Hanya lolong saja
Srigala berluka
Itu naluri
Psikologi sendiri
Dan mekanisme
Pertahanan diri
Biasa
Seperti salak, dengking
dan geram
Tak berkelanjutan kok
Tergantung keadaan
Yang penting berkarya
Tahan berkelanjutan
Dalam segala cuaca
Bagi sesama
Sebab persoalan kemanusiaan
Pun bukan musiman

Friday, 24 June 2011

AS TIME GOES BY (puisi)


Kayu getas

Besi berkarat

Batu menyerpih

Angin datang-pergi-datang

Kita mati

Mereka mengganti

Ada yang semestinya berlalu musnah
Misalnya penindasan haram jadah

Ada yang semoga tetap mengada
Barangkali cinta dan semacamnya


Didot Klasta
Salatiga, pertengahan 2000an

BERPIKIR IDEOLOGIS KALA MEMPERTIMBANGKAN KAU (puisi)

Berdiri di pintu pagarmu. Kukuhkan privatisasi agraria. Ada rumor adam-hawa mendesing, dalam kebul knalpot hari-hari. Lalu-lintas cinta kota diburu waktu adalah uang ; sibuk. Bahwa hati kita tak mengenal klas. Ku mau dibilang sibuk biar tak sunyi, dikucilkan peradaban modern.

Sepanjang kabel listrik mendekor langit wajah elektrik. Dan awan alam jadi jemuran sarung gelandangan compang-camping. Burung-burung ciblek terdidik anarki (tidak ditindas aturan) jalanan. Polahnya kurang ajar menakar ; berapa tajam nyali macho yang kuhunus ? Sok eksistensial (keberadaan diri) jantan jagoan liberal. Tapi aku cuma punya ilmu sekolah dasar. Pengecut konservatip (kolot) anak-cucu rodi.

Aku bukan ahli pedang ... Gumamku.
Bahkan sekarang jaman senapan ! Sorak ciblek-ciblek.
Aku bukan militer ... Gumamku.
Arm struggle Coy (perjuangan bersenjata kawan) ! Sorak ciblek-ciblek.

Bangsat !
Pendirian revolusionerku bagai air di daun talas. Air adalah sungai tindakan hidup bercabang tiga. Pemenang. Pemenang. Dan Gamang ; atau Pecundang. Daun talas adalah cinta.

Aku tak mau itu semua. Aku mau menjadi delta. Bila malam purnama. Menggelar tikar, membikin unggun. Membakar ketela atau jagung. Ku gigit punyamu. Kau gigit punyaku. Hanya berdua saja. Luar biasa !

Memang luar biasa.
Sementara ...
Jurang kaya - miskin kian menganga.
Sesungguhnyalah ...
Menelan suatu perasaan antara kita.

KEPAHITAN CINTA (puisi)


Telah kutoreh pada selembar daun waru ; namamu. Kupeniti sebagai bros ; di jidatku. Bukan bintang emas jendral atau emblem emas pembesar atau kalung emas sodagar. Daun tua saja, kekuningan mau rontok. Pohon tua pinggiran jalan. Kere, musafir hina silahkan gratis. Berteduh sebentar jalan lagi mencari. Bersama lelah siput mengingsut. Debu hotmix, semen dan fluorosens. Minyak bumi tersedot transportasi 'cepat terbatas'. Kemana ? Rumah kehidupan mempertahankan cinta. Rumah tangga cinta bertahan hidup. Di tanah-tanah kering dan miskin. Dan hidupku adalah bersamamu. Dan cintaku adalah padamu. Dan kesetiaanku adalah forever ; REGIME FUCK OFF ! Dan kebebasan adalah perkawinan ; yang suci, sahaja, dan jelata. Kenapa ? Engkau tak suka ? Kenapa engkau pilih politik cinta ? Yang komersil, bersenjata, sok negara dan menjagal hati para pecinta sejati.

Kenapa Sayang ...?

DAN MATAHARI MENGGELINCIR

Namanya Yem. Sebenarnya tidak Yem saja titik, tapi cukup asal diketahui Yem-nya saja, selebihnya tak penting untuk pemanggil-pemanggil. Yem nampak sedang duduk loyo di atas sebuah batu besar yang sekilas seakan menyerupai sosok anak kecil jongos di foto-foto ningrat Jawa tempo dulu. Berkulit legam, kepala kuncung, namun tak berpose menyembah-nyembah atau kegirangan dipotret melainkan sedang menungging secara kurangajar seakan pada majikan orangtuanya, barangkali, persis di bawah pohon kelengkeng yang hampir mati sekitar 3 meteran dari bibir tebing tepi kuburan Wates yang meluncur ke bawah secara landai dan langsung mencuram di kali kecil dangkal – Kali Candi – yang mengalir ke Utara.

Meski bernama Yem

BENAR-BENAR GILA

Cerpen ini kubaca dalam acara apresiasi seni di selasar depan kampus Fakultas Seni Pertunjukan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Kemungkinan besar tahunnya 2009 sebab aku menulis cerpen ini karena pening dengan poto-poto caleg pileg 2009 yang seperti menterorku kemana saja aku keliling desa dan kota, khususnya sepanjang jalan Karang Balong - Kota Salatiga lewat Kalibening PP.


Saudara-saudara sebangsa dan setanah-air namun belum tentu senasib dan sepenanggungan, percayalah … kalau biasanya saya hanya tukang menyebar kabar bohong dan pantas untuk tidak pernah bisa dipercaya, kali ini lain. Yang satu ini sungguh-sungguh terjadi. Percayalah.

Suatu siang beberapa waktu lalu di kota kecil saya, Salatiga, hujan terakhir musim hujan mengguyur lebat disertai angin kencang dan petir menyambar-nyambar dengan dyahsyatnya. Saya, seperti biasa, sedang melamun sendirian terbuai lagu Mas Iwan Fals mengenai para wakil rakyat yang seharusnya merakyat sambil meringkuk dalam sarung seperti udang kering dan membayangkan kecantikan wajah full kosmetik dari salah seorang selebriti papan atas yang penuh gossip dan agak ketolol-tololan, ketika tiba-tiba di luar terdengar orang-orang ramai berteriak;
“Caleg gila ! Caleg gila ! Caleg gilaaa !!!”