Tuesday, 6 April 2010

WAKTU BERHENTI DI DUSUN INI

Perjalanan kecepatan cahaya mesin waktu. Zwinnnggg ... Aku Melesat ! Tinggalkan kota-kota yang meninggalkan parut-parut riwayatku dan meninggalkanku sebab orang-orang yang kusangka kukenal ternyata tiada kukenal tapi mereka saling mengenal : Ini pedih ... Sebab ku bersalam dengan puisi nyeri sedang ini kota adalah puisi tuli tanpa hati : Ini parau ... Sebab ada perempuan manis teralienasi dan aku seperempat mabok coba bergaya berbagi tapi sesungguhnya cuma sedang menyaman-nyamankan diri sendiri : Ini hambar ... Sebab ada seorang kawan menengok dari dalam rumah bilyar dengan wajah gairah lampu, hingar-bingar dan slowdown kota tegang ketika ku mengajak; Ayo ke desa ! : Ini sunyi ...

Perjalananan kecepatan cahaya mesin waktu. Zwinnnggg ... Aku berpacu menjauh. Mau lebih cepat lagi dari semuanya ini yang menjauhiku. Dewa mabok kutunggangi sekaligus menunggangiku. Atrium, Ujung-Ujung, Dadapayam, Dusun Lembu ... Smoga takkan pernah ada kota gila di situ

Monday, 5 April 2010

WAKIJO (puisi)

Wakijo namamu. Mario d'Zorro namamu yang baru. Tivi baru industri baru. Jalan tembus harga tanah sekarang bagus. Nanti rame ekonomi berkembang. Orang daerah udik nonton perkembangan otonomi daerah. Lama-lama kelaparan. Uang habis. Orang modern 'link and match'. Orang udik keteteran. Mengais-ngais remah ekonomi daerah. Indonesia Baru ... Alhamdulilah.

Wakijo namamu. Mario d'Zorro namamu yang baru. Togel luput pusing nonton telenovela. Esmeralda ! Esmeralda ! Bla bla bla ! Dengan Bla bla bla jadi raja kopi Brasilia. Punya pacar Esmeralda. Siapa bilang aku sengsara. Yiiiha ! Ini bukan Indonesia. Dengan Bla bla bla, kubangan 100 juta derita kemiskinan disunglap jadi kolam susu kemakmuran. Mau Ampera nonton telenovela lalu lupa. PT. Makmur Jaya menyerap ribuan tenaga kerja murah. Dompet rakyat tetep tepos. Mau marah nonton telenovela lalu lupa. Mahasiswa KKN joged poco-poco. Tingkah kota henpon tulat-tulit penuh urusan ala telenovela. Rapat karang taruna merapatkan episode berikutnya. Pemerataan lupa oleh Bla bla bla.

Wakijo namamu. Mario d'Zorro namamu yang baru. Dulu kita rebutan duku. Sekarang masih tercium kentut 'grontolmu'. Apa kau masih di situ ... Brotherku ?

YA SANA

Dan dia menjalin hubungan
dengan seorang berprospek mapan
Tiap-tiap kali kencan,
tiap-tiap kali pula mengada-adakan cinta,
dari plastik berbentuk kembang,
penghias taman;
kalkulasi

Dan dia pula membangun penolakan
dengan seorang tak mau mapan
Tiap-tiap kali berjumpa,
tiap-tiap kali pula mengkhianati rasa,
dari misteri berbentuk indah,
tak menghiasai apa-apa,
hadir saja

Dan aku bukannya maklum atau tak maklum
Tidak urusan saja
Ketimbang tergoda
Maka untukmu :
Makan tuh; laba !

Sunday, 4 April 2010

INTROSPEKSI INI HARI (puisi)

Antonius Yosef Harimurti Adi alias Didik Kabe alias
Didot Klasta bersama tembakau shag Countryman,
kertas sigaret Melawan dan anggur kolesom cap
Orang Tua, 2004.
Sebab ku masih ingin terkadang ... Jadi orang kaya bertumpuk uang ... Puisi jadi tak menarik terkadang ... Semua yang kulakukan ... Jadi skema strategi penghasilan ... Uang ... Tak menarik diceritakan ... Bagaimana menjual projek pendidikan ... Bagaimana mengkomersilkan perubahan ... Bagaimana mengkomoditikan kesenian ... Bagaimana hidupku jadi modus pemasaran ... Bagaimana merayakan era dagang ... Kemanusiaan ... Itu semua puisi juga ... Cuma tiada menariknya

Belum lagi ku juga ingin terpandang ... terkadang ... Mengeklaim nama atas kerja bersama ... Rekayasa media ... Tekhnik membesarkan kepala ... Elit bintang - massa pemuja ... Manusia luar biasa ... Beda ... Itu semua puisi juga ... Cuma busuk isinya

Ya, terkadang ku masih ingin jadi orang ... Penuh bahan cerita kesuksesan ... Andalan di berbagai pertemuan ... Modal pergaulan ... Memenuhi standar mapan ... Match dengan tuntutan jaman ... Penuh telpon sms aneka urusan ... Kartu nama para rekanan ... Ngobrol politik kekuasaan bahwa :
Aku banyak kenalan !
Lobi aras atasan !
Setidaknya lokalan !
Pilkadaaa !
Aku kenal baik calonnya !

Ya ya ya itu puisi jugalaaah ... Tapi lumayan memuakkan juga

Kuterkadang ingin jadi selain diriku ... Tapi ku memberati puisiku

ANTARA ANAK, IBU DAN 24 JAM BLUES

Seorang anak memandang jauh
Kaki langit terhalang benda-benda
Asing bertumbuh, bukan tumbuhan
Jika rimbun daun, diterobos bulan matahari
Batu-bata ? Bahkan mencegat udara
Seorang anak mencari-cari cakrawala
Mungkin untuk bertukar cerita
Tentang peristiwa sehari-hari
Dan bagaimana nanti
Ada air terjun kecil, telaga kecil,
rumah kayu kecil, api hangat
Rembang petang, cuaca yang bagus
Kebahagiaan simpel sehari tadi
Keluarga sahaja bersyukur
Apapun yang terjadi
Dan ooo ... jebul itu wallpaper desktop komputer
Dan di luar kabut tebal
Orang-orang muram
Merutuki, mengasihani diri sendiri
Batuk dan cakap bergema berat
Tak ada yang bermain
Tak ada canda
Selain sandiwara
Cahaya dari jendela rumah telaga
Makan malam apa mereka ?
Obrolan apa di sekeliling meja ?
Begitu ringan dan merdeka
Hingga menebar di permukaan air
Bagai seribu sampan
Berkilau tiada khawatir
Antar tetangga melempar salam
Ahoooi !
Angin nyaman
Siapa mereka ?
Si anak tak berkedip
Di belakangnya seorang tua
Jongkok menangis
Riwayat diringkas dalam sepetak kamar
Pampat sudah oleh tekanan
Dan usia yang memar-memar
Ingin berkata hidup ini bukan derita
Namun derita tak berakhir juga
"Ayo nak kita keluar barang sebentar Ö"
"Menghirup udara saja, yang cuma-cuma Ö"
"Barangkali Tuhan tergerak juga akhirnya Ö"
"Sebelum aku mati, sebelum kau tambah gila Ö"
"Kemana Ibu?'
Si Anak dan Si Tua
Kehabisan kata
Sementara di ruang sebelah
Tivi terus tertawa terbahak-bahak
Sinis mencibir
Dengan drama-drama

Si Anak dan Si Tua
Ketinggalan jamankah ?