Tuesday, 30 March 2010

SAJAKSAJAK ORANGTUA

I
Orang tua menyeberang jalan
Aspal membelah kompleks perumahan bersedan
Menuntun sepeda lama hitam buram
Tujuhpuluhan batuk lemah dan kering
Baju murah
Celana banyak tisiknya
Sandal jepit swalo ijo
Dari mana mau ke mana
Sudah sarapankah ia
Klakson berat, sukses, kaya, sombong dan kota … tak menjawabnya

Monday, 29 March 2010

INTERLUDE REPETISI 2

Jam 4 pagi akhir pebruari bertanda mati. Gelegar petir ternyata bukan mimpi. Terbangun dengan hujan mengelilingi. Mencari-cari ... Mencari-cari ...

Sebab dingin memakai baju jeans kebesaran - sebab lungsuran. Aku merasa aneh dan gamang. Merasa dibungkus hangatnya kesepian yang agak menyakitkan. Bersama kopi sore tadi yang tandas - cap cangkir. Tak yakin ... Apa ada orang lain ? Tak yakin ... Apa sebab perasaan akan orang lain ? Tak yakin ... Apa dipikirkan orang lain ? Tak yakin ...

Menyulut kompor, memasak air. Titik-titik susu kaleng terakhir - beberapa semut. Cumi-cumi di wajan warnanya kusam. Jiwaku lapar, napsuku muram. Mejik Jer mengelilingi. Di dalamnya orang-orang miskin - kepanasan. Aku merasa aneh dan gamang. Dalam gelap hanya api pembakaran tak sempurna. Desis air berbisik lewat mulut ceret tua. Saat mendidih terdengar menyayat. Tak yakin ... Ini hujan atau tekanan ? Tak yakin ... Buat apa terbangun kepagian ? Tak yakin ... Ada apa dengan kesendirian ? Tak yakin ...

Jam 4 pagi akhir pebruari bertanda mati. Ironi hidup ini. Kebebasan kudu dicari. Eureka-nya : masih juga penjara, penjara dan penjara.

SI DIDI KECIL - SI DIDI BESAR

Aku dan Kakakku, di sebelah pintu ruang
makan / ruang keluarga / ruang tivi
ke dapur, Kalitaman Jalan Damarjati 116
Salatiga, sekitar 1975 
Masa kecilku kanak-kanak asyik sendiri
Tenaga riang tak lekang topan jaman
Sepanjang waktu main gundhu, dagelan Petruk-Gareng
Kanak-kanakku tak pernah berdosa
Sebab Tuhan adalah tangis dan tawa
Turut dalam pencurian kuweni
Keplok dalam perkelahian SD
Bela rasa jeweran orang tua
Temani mangkir sekolah
Masa kecilku dan Tuhanku
Berjanji saling setia
Janji itu kami gantung di awang-awang
Dengan layang-layang ; diadu tak pernah kalah

Masa kecilku ...
Itu dulu
Sekarang segini besar
Tambah besar lagi oleh besar kepalaku
Tambah besar lagi oleh tuhan baruku
Tuhan yang maha curang
Saat kumengadu layang-layang keinginan


Didot Klasta Harimurti
Salatiga, akhir 90an?

keterangan
kuweni : jenis mangga populer di daerahku

CATHETAN KALICACING

Kalau orang miskin leyeh-leyeh
Kopi tubruk dengung nyamuk
Purnama elok untuk siapa
Purnama bopeng mencium reyot gubuknya ; tak merangsang
Kalau orang miskin leyeh-leyeh rejeki luput
Mengarang cerita ayam panggang
Jelek endingnya ditelan sendiri
Perut buta hurup
Kelaparan tak bisa dibaca

Perempuan itu merokok seperti lakinya
Lakinya menjentik puntung seperti kunang-kunang
Kunang-kunang seperti harapan
Sorot penyetrum ikan membuyarkannya
Sorot Program Kali Bersih membuyarkan :
Penyetrum ikan, Perempuan dan Lakinya ...
Dan kerinduan lubuk, akar pohon 100 tahun, mata air 1000 tahun, tanah dulu tak ada yang punya ...
Dan Indonesia purba sejahtera, di pinggiran Bengawan Solo ...
Padahal komunis

BELAJAR NYEKET MASYARAKAT BERAWAL DARI GARIS CINTA

Jika sehabis muntah sebab pemimpin busuk
Ku jadi ereksi dan ingin jalan bebas
Dengan tumit melonjak-lonjak
Seperti manusia harian
Just for fun
Aspal mati
Karnaval bisnis berlalu
Kapital dan senjata verboden
Kota tanpa developer
Ruang publik tiada tragedi, selain total cinta yang no vested interest

Dengan lontar ujung kerdip mataku
Padanya pas kutuju
Berdiri dalam 'slow motion'
Menyibak rambut bikin cerai-berai
KAU ! (sebuah nama rahasia)
Pirangmu ... Indah taburan bougenville
Bumiputra masa kini mbayangin musim gugur subtropis penjajah
Lalu ingat lukisan gaya Sokaraja
Tanah tuan tanah
Ternak Cukong Jakarta kaya
Pendopo raja kecil
Kota tak bernama
Kemajuan nan kejam
Dan becak bergambar panorama a la lukisan Sokaraja
Lalu diterbangkan angin
Tinggal aku, sore serta sejenak netral

Semuanya ... Kawinlah saja !
Sebelum kota ini, disaput kelabu buram
Warna pelukis fatalis
Ingin mati gagal menggambar ; pembangunan

KONON KATANYA … MERDEKA (puisi)

Puisi pesanan ibunya temenku di kampung sebelah yang ingin membaca puisi pas acara 17an di kampungnya.


Hari itu syahdan
Ada proklamasi tentang sebuah kemerdekaan
Bendera dikerek ke puncak tiang
Tokoh-tokoh berdiri paling depan
Laskar siaga dengan senapan rampasan
Orang kebanyakan takjub
mendengar kabar kemenangan
dari pelosok, sudut, kolong dan emperan
Ini hari Bung !
Kita bukan jajahan lagi !

Di kota, di kampung, di desa, di mana saja
Semua gembira sebab kebebasannya
Akhirnya sampai juga pengharapan itu
Kita merebutnya, tak cuma menunggu
Kita meraihnya, setelah ratusan tahun dibelenggu
Dengan darah, airmata, jiwa-raga
Hanya satu kata
MERDEKA !

Dan perjuangan …
Telah sampailah di saat berbahagia …
Dengan selamat sentausa …
Menghantarkan kita …
Ke depan pintu gerbang …
Kemerdekaan

Demikian selalu diucapkan
Diulang-ulang
Diulang-ulang
Dalam upacara-upacara
Hapal luar kepala
Menjadi mantra
Bahwa kita konon katanya ;
Memang merdeka

Sampai suatu ketika syahdan
Sekian lama kemudian
Setelah seribu kali upacara dan peringatan
Ada yang terasa kian hilang
Di telan seremoni kenegaraan,
tabur bunga makam pahlawan, karnaval pembangunan, 
lomba gerak jalan, pidato-pidato tentang kemerdekaan,
filem-filem perang …
Seperti perlambang yang buram warnanya
Apa maknanya Saudara ?
Mantra : "Sekali merdeka tetap merdeka …"
Dalam negara ?

Kemiskinan, kebodohan, ketakberdayaan …
Bukan kemerdekaan
Kepicikan, menang-menangan, permusuhan …
Bukan kemerdekaan
Kawula sendiko dhawuh, pejah-gesang ndherek Sang Tuan …
Bukan kemerdekaan
Rakyat mengikut saja, manut-manut saja …
Bukan kemerdekan
Ketidakadilan …
Bukan kemerdekaan
Menjadi jelata papa …
Apa bedanya dengan kaum jajahan ?
Sok berkuasa …
Apa bedanya dengan kaum penjajah ?
Penindas - Tertindas
Bukankah itu wujud penjajahan ?

Dan perjuangan …
Telah sampailah di saat berbahagia …
Dengan selamat sentausa …
Menghantarkan kita …
Ke depan pintu gerbang …
Kemerdekaan

Ada burung gagak
Hinggap di pucuk tiang bambu ndhoyong
Bendera tua siapa saja
Di tengah jaman kemarau
Berkaok-kaok parau
Suara tulang-belulang berbau mesiu, lampau
"Kau … Berkibar untuk apa ?"
Bendera tak bisa bicara
Tapi angin berbisik lewat semilirnya
Tak terdengar kecuali dalam hati
Melampaui hingar-bingar seharian ini
Introspeksi diri pribadi
"Untuk berusaha lebih merdeka …
Tiap-tiap kita …
Bersama-sama …
Demikian konon katanya …"
Lantas gagak hitam terbang pergi
Nanti datang setahun lagi
Membawa pertanyaan sama
Seperti tahun-tahun sebelumnya
"Kau … Berkibar untuk apa ?"



jagalan, 16 Agustus 2005